



Dear mom,
Thank you for born me to this wonderful world, and make us stay in Depok, then met many friends and many great peoples who not famous. Thank you for bring me to your office and to LBH Jakarta for launching IPT website yesterday.
Lini kenangan mengingatkan saya pernah mendapatkan kue dan kartu ucapan Selamat Hari Ibu, dengan gambar tiga dandelions untuk melambangkan kami bertiga, Bapak-Ibu-Bujang. Kartu dan kue jahe dihiasnya sendiri, dibuat ketika ia masih duduk di Sekolah Dasar. Ajakan saya untuk berjumpa para penyintas pelanggaran HAM masa lalu begitu membekas, saya menilai ucapan terimakasih itu juga karena terbukanya jendela pengetahuan untuknya.
Ibu mana yang tidak meleleh hatinya mendapatkan perhatian seperti itu? Sesederhana itu memberikan kebahagiaan pada Ibu. Terlepas dari rasa bahagia yang diberikan, saya sangat menyadari bahwa tanggal 22 Desember bukanlah Hari Ibu atau mother day seperti yang diekpresikannya. Ia dan anak-anak telah disosialisasikan bahwa pada tanggal itu, anak haruslah memberikan hadiah atau ucapan terimakasih kepada ibu, membebaskan ibu dari pekerjaan kerumahtanggaan bahkan sekolah membuat kegiatan khusus untuk ibu dan anak. Hal ini juga didukung dengan pemberitaan para pesohor atau pejabat publik yang berlomba memberikan hadiah benda ‘terbaik’ atau wawancara penuh airmata dengan Ibunya. Tentu didukung oleh pasar yang menyediakan berbagai kebutuhan perayaan ini, mulai dari buket bunga, perhiasan sampai perawatan tubuh dan kecantikan.
Perayaan hari ibu inipun tidak lepas dari polemik ketika muncul poster “Haram Mengucapkan Hari Ibu”, yang didasarkan pertanyaan: “Apa hukum memperingati dan mengucapkan Hari Ibu?”. Dengan alasan hari ibu berasal dari tradisi barat yaitu Amerika Serikat dan bukan perayaan syar’i, maka hal ini dinilai sebagai bid’ah. Saya mencoba memahami bahwa karena kita memaknai ibu sebagai individu dan ditempatkan dalam peran domestik, dan tidak memaknainya sebagai gerakan pembebasan perempuan yang dimiliki oleh barat, timur, maupun berbagai entitas lainnya. Dalam tulisan ini, saya mengajak kesejarahan hari ibu, baik di Amerika Serikat maupun Indonesia, yang bisa jadi telah berbeda maknanya.
Hari Ibu di Amerika Serikat: Gerakan Perdamaian dan Anti Perang
Adalah Ann Jarvis dan Julia Ward Howe di kota berbeda mempromosikan hari ibu sebagai bagian dari gerakan perdamaian dan anti perang. Ann Jarvis di Virginia pada tahun 1868, mengorganisir sebuah komite untuk menetapkan “Hari Persahabatan Ibu”, yang tujuannya untuk menyatukan kembali keluarga yang telah terpecah selama Perang Saudara atau rekonsiliasi dua kelompok yang terpecah akibat perang saudara. Upaya Ann Jarvis untuk melakukan peringatan tahunan terhenti karena ia meninggal pada tahun 1905. Puterinya Anna Jarvis melanjutkan perjuangan ibunya dan berbuah dengan diperingati pertamakali di Gereja Metodis St. Andrew di Grafton, West Virginia, pada 10 Mei 1908.
Sementara di New York, Julia Ward Howe memimpin gerakan anti-perang melalui “Hari Ibu untuk Perdamaian” pada 2 Juni 1872, yang disertai dengan seruan untuk kaum perempuan di seluruh dunia untuk bekerja bagi perdamaian dunia. Perayaan berlanjut di Boston selama sekitar 10 tahun, sayangnya kemudian berhenti.
Apa yang dilakukan Ann Jarvis, Anna Jarvis dan Julia Ward Howe tidak dapat dilepaskan dari dampak perang terhadap perempuan, temasuk dalam perannya sebagai Ibu. Anak-anak yang tewas di medan perang adalah kehilangan yang amat sangat bagi Ibu. Karenanya para perempuan saling menguatkan diri untuk melaluinya, dan bergerak untuk membangun rekonsiliasi dengan para ibu dari pihak lawan, yang pastinya memiliki rasa kehilangan yang sama. Dampak perang inilah yang kemudian mendorong gerakan perempuan untuk perdamaian dan anti perang.
Melalui berbagai upaya, barulah pada 8 Mei 1914, Kongres AS menetapkan hari Minggu kedua di bulan Mei sebagai Hari Ibu Nasional. Presiden Woodrow Wilson memerintahkan untuk mengibarkan bendera untuk menghormati ibu-ibu yang putranya meninggal dalam perang. Gereja Grafton sekarang menjadi tempat bersejarah nasional. Peringatan ini ditandai dengan pergi ke gereja, membagikan bunga anyelir putih, dan makan malam keluarga, yang tentunya untuk saling mendukung dan merekatkan kembali anggota keluarga
Namun kemudian, peringatan hari ibu berubah. Restoran meraup keuntungan dari makan malam, industri perhiasan menghasilkan sebagian besar pendapatan tahunan karena kebiasaan memberikan hadiah seperti cincin ibu. Peringatan ini juga menghabiskan sekitar $ 2,6 miliar untuk bunga, $ 1,53 miliar untuk hadiah yang memanjakan — seperti perawatan spa — dan $ 68 juta lainnya untuk kartu ucapan. Anna Jarvis tentu sangat murka dengan komersialisasi ini, dan berbalik menolak peringatan hari ibu. Anna ditangkap pada tahun 1948 karena mengganggu ketertiban umum saat memprotes komersialisasi Hari Ibu. Anna berkata “… berharap dia tidak akan pernah memulai hari ibu karena hari ibu menjadi sangat tidak terkendali …”
selanjutnya: Perempuan adalah Ibu…(2)
Feminis dan Komisioner Komnas Perempuan