Mohamad Khusnial Muhtar Santri dan Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Ampel Surabaya

Amar Ma’ruf Nahi Munkar sebagai Prinsip Hidup Muslim

3 min read

sumber: nu.or.id

Amar ma’ruf nahi mungkar merupakan prinsip dasar bagi setiap muslim dalam menentukan sikap dan perilakunya dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Prinsip yang ditujukan untuk mengajak atau menganjurkan perilaku baik dan mencegah perilaku buruk, tidak ada yang menyangkalnya sebagai sesuatu yang baik. Namun, apakah bentuk implementasinya berbanding lurus dengan idealnya?

Sebagai orang Indonesia, kita tidak asing mendengar berita bahwa ada sekelompok masyarakat yang biasa menggelar aksi besar-besaran yang melibatkan banyak massa untuk melakukan penggerebekan atau sweeping terhadap satu kelompok masyarakat tertentu yang dianggap melakukan penyimpangan moral. Kelompok tersebut dianggap sebagai gerakan yang ingin menegakkan syariat Islam di Indonesia.

Kelompok tersebut dikenal sebagai kelompok yang sangat kontroversial dalam ucapan-ucapannya baik dari pemimpinnya ataupun perwakilan yang mengatasnamakan kelompok tersebut. Dan kelompok tersebut juga dikenal sebagai gerakan yang dianggap intoleran dan mengancam keberagaman orang-orang di Indonesia atas nama keberagamaan.

Tapi apapun di tengah kontroversi itu, kita lihat dalam sudut pandang agama Islam. Apakah boleh melakukan aksi sweeping dalam agama Islam? Misalkan ada diskotik digerebek, warung makan yang buka siang hari di bulan puasa digerebek, dan sebagainya; apakah boleh atau tidak?

Ada salah satu hadis yang sering disalahpahami oleh masyarakat muslim sebagai berikut.

عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُوْلُ: «مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيْمَانِ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

Artinya: “Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

Pernyataan hadis ini banyak yang kemudian disalahpahami bahwa kalau ada yang melakukan kecurangan, kejahatan, kemaksiatan, dan sebagainya; maka itu harus segera dimusnahkan pada waktu itu juga.

Baca Juga  Covid-19 dan Keheningan Ramadan

Sebenarnya, ungkapan diubah atau dilawan dengan tangan itu maknanya adalah kalau kita berkemampuan atau kalau kita berhak. Mayoritas ulama menganggap yang dimaksud dengan tangan itu adalah kekuasaan. Jadi, kalau ada tempat prostitusi, kalau ada diskotik yang buka secara ilegal, dan sebagainya; itu semestinya yang melarang itu bukan ormas, bukan masyarakat, bukan orang per orangan, tetapi orang yang memiliki kekuasaan, yang mana dalam hal ini adalah pemerintah setempat.

Dalam Islam, keberadaan pemerintah itu sangat-sangat dihargai. Kalau ada pemerintah yang sah secara demokratis ataupun cara lain sehingga terputuskan bahwa dia menjadi pemimpin, maka dia itu harus dihormati. Kalau dia dikritik, maka pengkritiknya itu harus melakukan dengan cara yang sebaik-baiknya dan sebijak-bijaknya.

Pemerintah adalah yang menguasai wilayah dan yang memiliki kuasa atas apa yang terjadi di wilayahnya. Tidak semestinya seseorang atau sekelompok orang main hakim sendiri. Di dalam Islam pun tidak boleh main hakim sendiri, haruslah diserahkan pada orang atau pihak tertentu yang berhak atas perkara yang perlu dihakimi.

Tentang upaya penegakan syariat Islam, upaya yang dilakukan untuk itu, tidaklah boleh dengan cara meninggalkan syariat Islam. Ketika orang-orang Islam menggerebek diskotik dengan pernyataan untuk menegakkan syariat Islam, ketika orang-orang Islam menggerebek tempat PSK dengan menanggap bahwa itu adalah amar ma’ruf nahi mungkar, maka sesungguhnya penggerebekan itu juga salah dan melanggar syariat Islam. Kenapa?

Di zaman Nabi Muhammad SAW pelacur itu tidak sedikit. Misalkan pada Al-Qur’an surat An-Nur ayat 3, latar belakang dari turunnya ayat tersebut adalah gara-gara ada pezina atau pelacur. Tetapi, ketika pelacur itu sudah diketahui, tidak ada cerita di sana digerebek, tidak ada cerita mereka langsung dirajam begitu saja, dan sebagainya; kenapa seperti itu? Karena penegakan syariat Islam itu harus didahulukan dengan amar ma’ruf, baru kemudian nahi mungkar. Maksudnya adalah berikan solusi dulu, baru kemudian nahi mungkar ditegakkan.

Baca Juga  Beragama Jangan Hanya Modal Dengkul

Pelacuran muncul di antaranya adalah karena masalah ekonomi, maka ekonominya dulu yang diselesaikan. Nabi Muhammad sebagai pemimpin masyarakat Madinah, membuat program-program ekonomi sedemikian rupa sehingga kemiskinan itu beliau yang paling akhir merasakannya. Jadi, selama masyarakat Madinah masih ada yang miskin, maka beliau pun turut merasakannya.

Sebagai pemimpin, di mana Nabi Muhammad berhubungan diplomatik misalkan dengan Pemerintahan Persia maupun Kekaisaran Romawi, seketika waktu itu Nabi Muhammad tiap hari mungkin dapat upeti, dapat hadiah, uang yang melimpah terus-terusan. Akan tetapi, di hari itu juga, Nabi Muhammad pasti akan serahkan kepada rakyatnya.

Nahi mungkar ditegakkan setelah didapati solusi yang menjanjikan. Makanya, setelah solusi itu ada, Nabi Muhammad baru membuat sistem bagaimana perundang-undangan tentang pelacuran misalkan. Sebelum itu, tidaklah pernah ada penggerebekan. Inilah syariat Islam yang dimaksudkan, bukan sekadar bertindak semena-mena dengan dalih amar ma’ruf nahi mungkar. Syariat Islam harus dilihat dari sudut pandang yang holistik, jangan berpaku pada aspek moralitas saja.

Syariat Islam adalah berpikir bagaimana solusinya, bukan asal menggerebek. Syariat Islam dihadirkan sebagai rahmat, bukan sebagai malapetaka bagi setiap umat. Syariat Islam adalah bagaimana cara agar seseorang tidak terjerembab dalam kemungkaran dengan tetap menggunakan cara-cara yang terhormat.

Tapi kan itu bakal jadi jangka panjang? Nah, karena jangka panjang itulah, menunjukkan apakah kita benar-benar seorang muslim sejati yang tetap berjuang dengan penuh kesabaran atau muslim urakan yang ingin apa-apa serba instan.

Terapkan syariat Islam sebagai solusi, bukan sebagai bagian dari masalah. Untuk dapat mengubah kemungkaran sangat mungkin memakan waktu yang amat panjang, tapi itu bukan alasan untuk kita menumbalkan ketentuan syariat yang lain. Seandainya Becak itu haram, maka yang dilakukan bukan dengan membakar becaknya, tapi sediakan motor bagi si tukang becak; biar si tukang becak bukan lintang-lintung kebingungan harus bagaimana, melainkan alih profesi dari tukang becak menjadi tukang ojek, misalnya. Jika hanya membakar becaknya saja, buat apa? Malah menjadi masalah baru.

Baca Juga  Masjid Berhak Protes Kenapa Pasar Tidak Ditutup

Kalau ada kemungkaran umpamanya prostitusi, ayam tiren, PKL yang meresahkan, dan lain sebagainya yang mana itu masalahnya ekonomi; maka, bangunlah sistem ekonomi yang kuat, halal dan thoyyib sehingga itu bisa teratasi. Memang butuh perjuangan yang panjang dan banyak; akan tetapi, memang itu yang harus dilakukan, bukan malah melakukan hal di luar koridor syariat Islam. Menyerukan kebaikan dan melawan keburukan dalam rangka menegakkan syariat Islam adalah sesuatu yang baik; tapi, lakukanlah juga dengan cara yang baik. (mmsm)

 

Mohamad Khusnial Muhtar Santri dan Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Ampel Surabaya