Mohamad Khusnial Muhtar Santri dan Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Ampel Surabaya

Tentang Puasa, Rahasia, dan Setan yang Dibelenggu

2 min read

Konon puasa adalah bentuk ibadah tertua di antara sekian ibadah lainnya. Dikatakan Nabi Adam yang disebut sebagai nenek moyang umat manusia, telah menjalankan puasa dalam masa hidupnya. Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir al-Qur’an al-Adhim mengungkapkan Nabi Adam berpuasa selama tiga hari tiap bulan sepanjang tahunnya. Riwayat lain mengatakan Nabi Adam berpuasa tiap tanggal 10 Muharram sebagai ungkapan rasa syukur atas dipertemukannya kembali dengan istrinya Hawa.

Puasa bukan barang baru. Puasa telah menjadi ritus yang biasa dilakukan oleh umat-umat terdahulu. Al-Qur’an menegaskan dalam salah satu ayatnya.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ ۝

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS. Al-Baqarah: 183)

Oleh itu, umat Yahudi, Nasrani, Hindu, Buddha, bahkan pagan; semua mengenal dan mengamalkan apa yang namanya puasa. Plato sang filsuf legendaris pernah berkata: “aku berpuasa agar fisik dan mentalku lebih efisien”.

St. Agustinus sang promotor masuknya filsafat ke dunia Kekristenan pernah berkata: “puasa membersihkan jiwa, meningkatkan pikiran, menspiritualkan yang fisik, menumbuhkan rasa sesal dan kerendahan hati, menyingkirkan hambatan hawa nafsu, memadamkan api ketamakan, dan menyalakan cahaya sejati kesucian.”

Pun Fyodor Dostoyevsky, filsuf eksistensialis penuh kontroversi yang paling dibenci oleh publik tanah airnya sendiri, pernah berkata: “Ketaatan, puasa, dan doa seringkali ditertawakan, padahal hanya melalui hal tersebut terdapat jalan untuk kebebasan sejati. Aku memotong keinginan tak terkendali dan tidak penting, aku tundukkan kesombongan dan ketamakanku, dan kuhukum ia dengan kepatuhan; dan dengan pertolongan Tuhan aku mencapai kemerdekaan jiwa dan kenikmatan spiritual.”

Baca Juga  “Menara Kudus: Riwayat Sebuah Penerbit” Menyelami Studi Perkembangan Islam melalui Perspektif Baru (1)

Mengapa puasa dalam hampir semua generasi itu ada? Mengapa puasa diakui oleh semua kalangan, lintas budaya, lintas zaman? Apa puasa mengandung nilai-nilai tertentu yang menjadikannya istimewa? Ada apa dengan puasa?

Tentang ada apa dan mengapa, filsuf besar di dunia Islam, Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali memberi penjelasan dalam Ihya’-nya. Puasa menjadi istimewa karena ada dua variabel maknawi yang eksklusif dimiliki olehnya. Apa sajakah dua itu?

Pertama, rahasia. Dalam puasa itu ada rahasia (sirr), sedang dalam ibadah lain tidak ada.

Maksudnya, satu hal yang bisa menghalangi maksud dan faidah daripada suatu amalan itu karena kebisaannya disaksikan oleh makhluk ciptaan-Nya. Nah dalam hal ini, puasa bebas dari semua itu. Gimik sholat bisa, gimik zakat bisa, tapi gimik berpuasa hasilnya ya tiwas capek saja.

Sholat masih bisa dikatakan sebagai sholat ketika segenap syarat rukunnya terpenuhi. Begitupun zakat dan yang lainnya, tapi beda dengan puasa. Puasa bisa dikatakan puasa verifikasi pastinya hanya oleh yang melakukannya.

Bolehlah ikut sahur bersama, ikut buka bersama. Tapi kalau kemudian tanpa ikut puasa, kan ya bisa saja. Puasa tidak bisa dibohongi, tidak bisa diakali. Mulut kering, nafas tidak sedap, bukan jaminan seseorang berpuasa. Apakah kita betul-betul puasa, sepenuhnya kita sendiri yang bisa membuktikan.

Dengan itu boleh dipahami puasa benar-benar ada dalam dimensi privat manusia. Puasa adalah tentang rahasia, dan itu yang menjadikannya istimewa. Apa-apa yang rahasia atau dirahasiakan pasti bukan sesuatu yang sembarangan, kaleng-kaleng, dan sebagainya; melainkan yang berharga atau yang begitu istimewa.

Kedua, terang-terangan menantang setan. Ya, puasa adalah ibadah yang terang-terangan nantang setan. Setan yang merupakan musuh kita yang nyata, kita tantang begitu saja dengan puasa.

Baca Juga  Kegegalan Asimilasi Sistemik di Prancis; Catatan Terbunuhnya Samuel Paty

Setan menyerang kita melalui hawa nafsu kita. Dan dengan puasa, itu merupakan usaha bagi membentengi hawa nafsu itu. Jadi, yang mana hawa nafsu adalah kendaraan bagi setan untuk menjatuhkan kita, dengan kita puasa, kita menutup akses daripadanya. Artinya, kita ya terang-terangan nantang setan, yang mana setan suka dengan media itu, tapi kita malah bentengi kenderaan itu.

Pernah mendengar ungkapan “setan-setan dibelenggu”?

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda,

 إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

Artinya: “Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Bukhari no. 1899 dan Muslim no. 1079)

Siapa emang yang membelenggu? Allah? Malaikat? Secara filosofis, pada dasarnya ya kita sendiri. Setan yang dibelengu adalah analogi, sehingga bukan setannya diborgol oleh malaikat atau sejenisnya, tapi dengan kita berpuasa, kuasa setan untuk menggoda menjatuhkan kita, terbelenggu karena kita memutuskan berpuasa.

Selain itu, dengan puasa, kita juga sama halnya menggembosi hawa nafsu kita. Hawa nafsu diperkuat dengan makan-minum dan pemenuhan hasrat keduniawian lain. Oleh itu, ketika kita puasa, bahan bakar yang menguatkannya pasokannya kita stop. Dengan itu hawa nafsu menjadi lemah.

Jadi selain hawa nafsu kita bentengi, hawa nafsu juga kita gembosi. Apa lagi ungkapan yang lebih tepat untuk menyatakan bahwa puasa adalah ibadah yang terang-terangan nantang setan?

Dengan itu, puasa bisa membuat kita lebih fokus pada apa yang ingin kita kembangkan dalam diri kita. Dengan puasa kita terbebas dari kekhawatiran penyakit hati seperti halnya sum’ah dan riya. Dengan puasa gangguan yang kita dapati bisa lebih lemah.

Baca Juga  Kyai Mutamakkin dan Corak Islam di Nusantara Sebelum Abad ke-20 (1)

Terlebih lagi, puasa adalah amalan yang dinilai langsung oleh Allah. Bagaimana tidak sebegitu istimewanya puasa itu? Imam Ghazali membahasakan, “puasa dengan ibadah yang lain seumpama Masjid al-Haram yang secara langsung diberi gelar “rumah milik Allah” (Baitullah), walau padahal segala yang ada di permukaan bumi sebenarnya milik Allah pula.” Demikianlah tentang puasa, rahasia, dan setan yang dibelenggu.

Mohamad Khusnial Muhtar Santri dan Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Ampel Surabaya