Lukman Hakim Mahasiswa STAI Al Fithrah Surabaya

Larangan Menyebarkan Ujaran Kebencian Menurut Alquran

2 min read

Pada saat ini, medsos telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Di dalamnya dapat ditemukan berbagai macam kemudahan dan keunggulan yang ditawarkan untuk berinteraksi baik dalam hal bisnis sekalipun dari berbagai kalangan secara publik.

Namun, sifat keterbukaan informasi di medos memicu tingginya kecenderungan masyarakat untuk melakukan ujaran kebencian seperti penghinaan, pencemaran nama baik, penistaan agama, memprovokasi bahkan menyebarkan berita-berita hoax di berbagai aplikasi media sosial seperti Facebook.

Alquran sebagi pedoman utama umat Islam yang memuat segala solusi dalam berbagai aspek kehidupan. Oleh karenanya, saya akan menyajikan beberapa ayat-ayat Alquran yang berkelindan tentang ujaran kebencian melalui medsos yang kian hari kian merambat. Allah swt berfirman dalam Q.S: al-Qasas [20]: 77.

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan” (Q.S al-Shaff [20]: 77). 

Syaikh Wahbah al-Zuhaili dalam kitab tafsirnya yang berjudul al-Munir fi al-‘Aqidah wa al-Syariat wa al-Minhaj menafsirinya dengan ista‘mil maa wahabak allah yaitu perintah memanfaatkan anugerah yang telah Allah berikan baik berupa harta berlimpah dan nikmat yang meruah untuk ta`at kepada Allah serta bertaqarrub kepada-Nya dengan ibadah-ibadah yang dapat menghasilkan pahala dunia maupun akhirat.

Ayat tersebut juga menjelaskan agar kita menikmati kenikmatan dunia yang telah Allah izinkan seperti makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan suami atau istri. Lalu, diikuti perintah agar melakukan kebaikan dan saling tolong-menolong terhadap sesama mahluk Allah baik dari segi materi, budi pekerti ataupun akhlak sebagaimana Allah berbuat baik juga pada kita. Bahkan disebutkan dalam Audah al-Tafaasir, yakni kita harus tetap berbuat baik walaupun pada orang yang menyakiti kita.

Namun, apakah Allah swt memberikan perintah agar kita menikmati semua anugerah-Nya tanpa ada batasan seperti mengunakan medsos untuk menyebarkan ujaran kebencian?

Pada potongan ayat selanjutnya Allah memberikan batasan yang harus dipatuhi agar hamba-Nya tidak berlebihan dan sombong yakni pada ayat Walaa Tabghi al-Fasaad fi al-‘Ardhi (janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi) maksudnya yaitu melakukan kerusakan dengan cara melakukan kezaliman, pembangkangan dan berbuat jelek pada manusia. Sungguh Allah swt senantiasa menyiksa, mencegah rahmat, pertolongan serta kasih sayangnya pada orang-orang yang suka merusak.

Lebih jelasnya Allah swt akan menyiksa dengan siksaan yang pedih sebagaimana firman-Nya dalam Q.S al-Nur ayat [18]: 19.

Baca Juga  Normal Baru, Jangan Ikut Mengubah Pemahamanmu [Bag 1]

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيا وَالْآخِرَةِ ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar perbuatan yang sangat keji itu (berita bohong) tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, mereka mendapat adzab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”(Q.S al-Nur [18]: 19).

Syaikh Wahbah al-Zuhaili menyebutkan bahwa seseorang yang menyebarkan hoax atau aib dan kejelekan orang lain di hadapan publik akan disiksa baik di dunia maupun akhirat. Hal ini dikarenakan akan menimbulkan permusuhan, kebencian dan menumbuhkan dendam dalam diri seseorang. Menyebarkan berita hoax di ruang publik lebih banyak kemudaratannya daripada menyebarkan berita bohong dengan cara diam-diam.

Jika suatu perbuatan dapat menimbulkan madarat pada orang lain maka, sudah jelas Islam melarangnya sebagaimana sabda Rasul “la daraara walaa diraara” (dilarang membahayakan orang lain dan diri sendiri).             Islam tidaklah mengajarkan pengikutnya untuk menyebarkan ujaran kebencian. Akan tetapi, Islam mengajarkan kita untuk menyebarkan perkataan-perkataan yang baik dan terpuji. Allah swt berfirman dalam Q.S Ibrahim [22]: 24.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا, يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فازَ فَوْزاً عَظِيماً

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung” (Q.S Ibrahim [22]: 70-71).

Menurut al-Maraghi ayat tersebut mengandung dua perintah yaitu, perintah mengucapkan sesuatu yang benar dan berperilaku baik. Sehingga, orang-orang mukmin benar-benar bertaqwa kepada Allah. Lalu, apakah yang diperoleh jika menjalankan perintah yang telah disebutkan?

Sebagaimana ayat selanjutnya “yushlih lakum ’a‘malakum” yakni, Allah swt berjanji, orang yang mengamalkannya akan mendapatkan dua perkara; petama, memperbagus amal karena dengan takwa perilaku seseorang menjadi lebih baik. Sementara amal baik tersebut dapat mengangkat derajat setinggi-tingginya (’a‘la ‘illiyyin) dan mendapatkan kenikmatan yang abadi di surga. Kedua, menghapus segala dosa, menutup aib serta dijauhkan dari siksa yang pedih.

Oleh sebab itu, sebagai umat Islam hendaknya kita senantiasa mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan di dunia agar tidak berlebihan hingga mengabaikan perintah dan larangan-Nya. Islam melarang ujaran kebencian baik di medsos atau selainnya dan Islam mengajarkan kita agar selalu beramal dan mengucapkan sesuatu yang baik. Dengan begitu, derajat kita akan diangkat setinggi-tingginya oleh Allah swt dan memperoleh kenikmatan akhirat yang abadi.

Setiap manusia memiliki hak untuk menikmati anugerah yang Allah berikan. Namun, bagaimana ditanam, begitulah dituai. Menebar ujaran kebencian yang dapat merugikan pihak lain, kerugian pun akan kita terima. Begitu juga sebaliknya. [AA]

Baca Juga  Tragedi Asyura dan Upaya Membangun Toleransi
Lukman Hakim
Lukman Hakim Mahasiswa STAI Al Fithrah Surabaya