

Indonesia merupakan negara yang terkenal dengan keragaman budayanya. Terdiri dari sekitar 17.000 pulau, 1.300 suku, dan lebih dari 700 bahasa daerah. Di setiap jengkal daerah memiliki warisan budaya khas yang berbeda-beda dengan keunikannya masing-masing.
Hal itu sesuai dengan kompleksitas sejarah yang melatarinya, letak geografis, serta hasil dari interaksi panjang melalui proses akulturasi budaya dimana unsur-unsur asing diserap dan dipadu dengan nilai-nilai budaya daerah setempat, yang kemudian dijadikan sebagai bagian integral dari budaya lokal.
Saridjah Niung, kemudian lebih dikenal dengan nama ‘Ibu Sud’, merekam Indonesia melalui sebuah lirik lagu ‘Tanah Airku’ yang begitu indah.
Lagu tersebut menggambarkan bahwa tanah air Indonesia adalah negara yang begitu dibanggakannya. Negara kesatuan dengan ribuan pulau terbentang, serta budaya dan adat yang beragam; mulai dari bahasa, baju, tarian, alat musik, masakan, dan bentuk budaya yang lain. Alhasil, Indonesia merupakan sebuah bangsa yang sangat kaya dengan pernik-pernik budaya lokal.
Di sisi lain, Indonesia juga sangat terkenal dengan keseniannya. Ada Tari Reog dari Jawa Timur. Tari Kecak dari Bali. Tari piring dari Sumatera Barat. Tari topeng betawi dari DKI Jakarta. Tari Cakalele dari Maluku, serta tarian-tarian khas dari daerah-daerah lainnya. Belum lagi dengan pakaian adat; dari seluruh wilayah di Indonesia memiliki pakaian adatnya masing-masing.
Sebut saja Baju Ulos dari Sumatera Utara, juga Baju Kebaya dari Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Tengah. Di Jawa Timur ada Baju Pesa’an dan Baju Mantena, serta Baju Bodo dari Sulawesi Selatan. Ini sekedar menyebut sebagian dari wilayah Indonesia sebagai contoh. Sedangkan di wilayah-wilayah lainnya, juga memiliki tradisi baju adatnya masing-masing.
Yang menarik, dari setiap budaya lokal tersebut terkandung nilai-nila dan pesan kearifan yang memiliki nilai-guna bagi masyarakat. Misalnya, baju adat Pesa’an dari Madura, Jawa Timur. Pakian ini mengandung pesan bahwa orang Jawa Timur merupakan orang yang tegas, berani, dan apa adanya.
Pakaian adat tersebut, bagi kaum lelaki, berupa kaos loreng becorak warna merah putih denga ditutup baju luar warna hitam tanpa kancing dan dipadupadankan dengan celana longgar atau yang disebut celana ‘gomboran’. Baju adat ini juga dilengkapi dengan aksesori sabuk besar yang terbuat dari kulit sapi dan disebutnya dengan ‘katemang’.
Sabuk katemang ini bisa untuk menyimpan uang atau benda berharga lainnya. Untuk aksesori penutup kepala disebut ‘odheng’, serta sebagai pelengkap adalah senjata tradisional ‘celurit’.
Nilai filosofi yang terkandung pada baju adat lokal Madura Jawa Timur tersebut, baju atasan luar warna hitan yang tidak pakai kancing menunjukkan sikap gagah dan pantang menyerah. Modelnya yang sangat simple menunjukkan masyarakat Jawa Timur adalah orang yang sederhana, apa adanya, dan berkarakter kuat.
Kaos loreng warna merah putih merupakan simbol keberanian orang Madura Jawa Timur. Celana yang sangat longgar mencerminkan kepribadian orang Jawa Timur adalah terbuka terhadap sesama. Celana longgar ini juga mencerminkan sikap yang terbuka, jujur dan apa adanya. Pakaian ini biasanya dipakai dalam kehidupan sehari hari di masyarakat, dan bahkan juga dipakai saat upacara tradisional, pertunjukan Karapan Sapi, serta upacara keagamaan.
Selain baju adat, Jawa Timur juga memiliki budaya lokal lain yang unik. Pada saat ada orang meninggal dunia, kepergiannya selalu diiringi dengan acara selamatan kirim doa selama 7 hari secara berturut-turut. kearifan lokal ini biasa disebut dengan istilah pida’an. Sedangkan pada peringatan 40 harinya, acara kirim doa ini disebut dengan istilah patangpuluhan.
Setelah 100 hari berpulangnya seseorang, masyarakat juga melaksanakan tradisi kirim doa yang berupa selamatan dan biasanya dilamjut dengan makan bersama. Tradisi ini dikenal dengan istilah satuse. Sedangkan untuk peringatan kematian pada tahun pertama disebut dengan istilah Pendak Siji, acara kirim doa pada tahun kedua disebut dengan Pendak Telu, dan pada tahun ketiga disebut dengan Pendak Sewune atau Nyewu – yang artinya seribu hari kematiannya.
Keberadaan budaya lokal yang tersebar di seluruh wilayah Indoensia dengan berbagai ragam dan bentuknya, masyarakat haruslah menghormati dan melestarikannya. Apalagi hal itu telah menjadi warisan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Baik warisan budaya lokal yang berupa bahasa, nilai, norma, tradisi, kesenian, baju adat, makanan adat, maupun bentuk-bentuk budaya lainnya.
Ada banyak alasan mengapa budaya lokal tersebut perlu dilesatrikan; pertama, budaya lokal merupakan simbol identitas dan merupakan jati diri bangsa; kedua, adat budaya lokal tersebut dilatarbelakangi oleh sejarah dan nilai filosofi yang terkandung didalamnya; ketiga, untuk menjaga dan merayakan keragaman budaya.
Keempat, menerima budaya lokal dan melestarikannya dapat meningkatkan kesadaran dan kepedulian generasi muda; dan kelima, menerima budaya lokal dan melestarikannya juga akan meningkatkan perekonomian warga dan negara. Dengan banyaknya wisatawan yang berkunjung untuk menikmati indahnya budaya lokal di Indonesia, tentu akandapat menumbuhkan dan mengembangkan perekonomian yang ada. [AA]
Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, UIN Sunan Ampel Surabaya