Prof. KH. Moh. Ali Aziz, M.Ag Guru Besar Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya; Pengarang Buku Best Seller Terapi Shalat Bahagia, 60 Menit Terapi Shalat Bahagia, dll.

Penangkal Virus dan Bullying

3 min read

قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلۡفَلَقِ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ وَمِن شَرِّ ٱلنَّفَّٰثَٰتِ فِي ٱلۡعُقَدِ وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

“Katakanlah (wahai Muhammad), “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki.” (Q.S. al-Falaq [113]: 1-5).

Artikel ini saya tulis ketika penduduk dunia sedang ketakutan pada virus Corona-19 yang muncul di Tiongkok. Hanya sekejap, virus itu merenggut nyawa ribuan orang dan menyebar ke sejumlah negara. Peristiwa ini mengingatkan kita tentang kematian secara massal dan mendadak dengan tubuh kaku yang dialami oleh orang-orang yang membangkang terhadap perintah Nabi terdahulu. Pada waktu yang bersamaan, kita juga sedang menyaksikan sejumlah korban bullying atau perundungan yang dilakukan siswa sekolah.

Sebagai manusia yang beragama, kita tidak boleh ikut-ikutan takut terhadap virus dan bencana apapun, sebab kita mempunyai Tuhan Yang Mahakuasa mengatasi-Nya. Tapi, kita tidak boleh ceroboh. Semua petunjuk Dokter dan Pemerintah untuk menangkalnya harus kita ikuti, sebab kesehatan adalah amanat yang wajib kita jaga. (QS. al-Nisā’ [5]: 58).

Di samping usaha-usaha lahiriah, kita juga harus melakukan ikhtiar batiniah, antara lain penguatan keyakinan dan optimisme melalui zikir dan doa. Ketenangan, keyakinan dan optimisme itu amat besar pengaruhnya terhadap imunitas tubuh.

Pertama, kita kuatkan keyakinan, bahwa kehidupan hanya berlanjut, jika Tuhan Yang Mahahidup dan Mahapemelihara (al-hayy al-qayyūm) mengijinkannya. Maka, dekatkan diri Anda kepada Yang Mahahidup dan seraplah energi-Nya. Dialah Allah yang tak pernah mengantuk atau pun tidur (lā ta’khudzuhū sinatun walā nawm), tapi fokus mengurus alam semeseta, termasuk Anda. Inilah energi besar yang terdapat dalam ayat kursi (Q.S. al-Baqarah [2]: 255).

Baca Juga  Konspirasi Iblis yang ‘Cerdas’

Inilah juga ayat yang membuat setan takut mendekat ketika membacanya menjelang tidur (HR. Bukhārī dari Abū Hurairah r.a). Ayat ini juga berfungsi sebagai pengantar manusia ke dalam surga, jika dibaca secara rutin setelah salat (HR. al-Nasāi dari Abū Umāmah r.a). Inilah ayat yang secara otomatis menjadi sarana perlindungan dari semua bencana dan kezaliman orang.

Kedua, kita kuatkan juga ketenangan dan optimisme melalui surah al-Ikhlās untuk menghadapi apa pun musibah akibat bencana alam atau pun akibat kejahatan manusia dan jin. Melalui bacaan surat ini, kita akan dikawal oleh al-shamad, Tuhan tempat semua makhluk bergantung, dan Tuhan Penyelamat manusia dari berbagai musibah. Allah yang bersifat al-shamad, akan dengan cepat menarik tangan orang yang nyaris tenggelam di laut.

Dialah Tuhan Yang Perkasa, bagaikan pohon besar yang kita rangkul dengan kuat ketika banjir bandang, tsunami menghanyutkan bangunan dan ribuan manusia. Atau, bagaikan gua yang rapat, tempat kita bersembunyi dari kejaran para penjahat. Inilah surat penangkal bahaya yang sama nilainya dengan sepertiga Alquran. Sebab, ia menjelaskan pokok-pokok keyakinan, sedangkan ayat-ayat Alquran lainnya berbicara tentang dua pilar Islam lainnya, yaitu ibadah dan akhlak.

Ketiga, kita tingkatkan kehati-hatian menjalani hidup melalui surah al-Falaq. Inilah surat tentang perintah waspada terhadap sisi negatif makhluk Allah (min syarr mā khalaq). Hampir setiap makhluk memiliki sisi positif dan negatif. Pohon yang rindang bisa memberi kenikmatan untuk berteduh, tapi juga bisa secara tiba-tiba roboh dan menggencet tubuh kita. Teman sekelas bisa sebagai penyemangat, tapi bisa juga pelaku bullying yang membuat anak kita cacat seumur hidup, atau bahkan meregang nyawa.

Seorang istri yang menemani suami sekian puluh tahun, bisa saja tiba-tiba kalap dan membunuh suaminya dengan keji. Dalam tubuh kita juga terdapat organ-organ yang vital, tapi bisa saja mematikan, jika tidak kita perlakukan dengan benar. Malam sunyi sejatinya waktu terindah untuk bersujud, tapi ternyata juga dimanfaatkan tukang santet, pencuri dan perampok yang mengganggu dan menyakiti kita. Melalui surat ini, kita meminta penjagaan Allah dari sisi negatif semua makhluk Allah itu.

Baca Juga  Rabu Wekasan atau Pungkasan: Ritual dan Doa

Kita juga harus waspada kepada orang-orang yang iri hati atau hasud kepada kita (min syarr hāsidin idzā hasad). “Tak ada manusia tanpa iri hati,” kata Ibnu Taimiyah. Hanya saja, menurut surat ini, ada yang bisa membatalkan hasudnya, dan ada pula yang melampiaskannya (idzā hasad). Hasud adalah kejahatan pertama di langit, yaitu ketika Iblis hasud kepada Adam yang sedang menikmati fasilitas surga. Hasud juga kejahatan pertama di bumi, yaitu ketika Qabil iri hati dan tega membunuh saudaranya, Habil yang mendapatkan istri tercantik.

Keempat, kita tingkatkan kesadaran kita, bahwa setan selalu mengintai peluang untuk menghancurkan kita (min syarr al-waswās al-khannāts). Setan selalu memengaruhi jalan pikiran (yuwaswisu) kita, sehingga dengan keterampilannya, sebuah racun bisa dikemas sedemikian rupa, sehingga terlihat minuman yang menyegarkan. Melalui surat ini, kita diyakinkan, bahwa semua rekayasa jahat itu akan terpatahkan, jika kita mendekat Allah, Penguasa, Pengendali, dan Sembahan manusia (rabb al-nās, mālik al-nās, ilāh al-nās).

Berdasarkan uruian di atas, maka kita wajib menjaga kesehatan dan keselamatan sesuai petunjuk para ahli yang terkait. Tapi, kita juga harus melengkapi jiwa dan raga dengan penangkal otomatis terhadap virus, kuman, bakteri, jamur, tumor, kanker, kejahatan manusia, jin, dan sebagainya dengan membaca ayat-ayat di atas. Yaitu, ayat kursi dan tiga surat “Qul” (al-Ikhlās, al-Falaq, dan al-Nās) pada pagi dan malam hari untuk perlindungan sepanjang hari dan malam itu. Lebih baik lagi, jika ayat-ayat itu dibaca dalam salat pagi dan malam hari.

Misalnya, ayat kursi kita baca pada rakaat pertama salat sunah sebelum subuh, dan tiga surat “qul” kita baca pada rakaat kedua. Lalu, pada malam harinya, kita melakukan yang sama pada salat sunah setalah maghrib. Dengan cara itu, salat kita lebih berkualitas dan lebih menyenangkan Allah, sekaligus mendapat perlindungan dari-Nya sepanjang hari dan malam dari semua bencana, kezaliman orang dan berbagai sumber penyakit.

Baca Juga  Saat Umar bin Khattab Memata-matai Khalifah Abu Bakar Ash-Siddiq

Sumber: (1) M. Quraish Shihab, M, Tafsir Al Misbah, Vol. 1 Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2012, p. 664-668, dan Vol 15, p. 713-760. (2) Hamka, Tafsir Al Azhar, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, juz 30, p.275-298, dan juz 3, p. 15-20.

Editor: MZ

Prof. KH. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Prof. KH. Moh. Ali Aziz, M.Ag Guru Besar Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya; Pengarang Buku Best Seller Terapi Shalat Bahagia, 60 Menit Terapi Shalat Bahagia, dll.