Nailil Mafazah Mahasiswi UIN Sunan Ampel Surabaya

Mengenal Teori Double Movement Fazlur Rahman

2 min read

Fazlur Rahman merupakan tokoh pemikir Neo-modernisme yang lahir pada 21 September 1919 di Hazarah, Punjab, Pakistan. Seorang Magister di tahun 1942, mendapat gelar Doctor di tahun 1951, dan tidak lama kemudian diangkat menjadi Profesor di bidang filsafat. Beliau meninggal di usia 69 tahun pada 26 Juli 1988 di Amerika Serikat.

Berawal dari kondisi di zaman itu yang sudah mengabaikan sejarah dan tidak relevan bagi perkembangan masyarakat dan mengalami stagnasi, membuat Rahman merasa sangat tidak setuju yang nantinya akan menggugah untuk memunculkan teori baru yang digagasnya yaitu teori Double Movement atau gerakan ganda (Hanna, 2020).

Dalam pembaruan Islam, Rahman memfokuskan pemikirannya pada Al-Qur’an yang tidak lain merupakan sumber pertama umat islam. Untuk mengawalinya, Rahman mengharuskan melakukan pemahaman yang menyeluruh pada moralitas Al-Qur’an. Dari sinilah teori Double Movement itu muncul. Terdapat dua langkah dalam teori ini;

Pertama adalah Sosio-Historis. Dalam langkah ini, hal yang dilakukan adalah membaca teks dan melihat kembali latar belakang sejarahnya. Pesan apa dan kejadian bagaimana yang membuat teks itu diturunkan. Kedua adalah Kontekstual. Dalam langkah Kontekstual ini, ketika sudah melakukan seperti yang disebut dalam langkah Historis, kita harus mengkontekstualkan dengan zaman atau kondisi yang terjadi saat ini (Labib , 2013).

Misalnya adalah Poligami. Banyak pihak yang mempercayai bahwa poligami merupakan hal yang halal dilakukan dalam islam. Namun, mereka hanya melihat dari satu sisi yaitu pada tekstualitas yang terdapat dalam QS. An-Nisa ayat ke 3. Posisi Rahman dengan menggunakan teori Double Movement membaca teks ayat tersebut yang kemudian melihat sosio-historis nya.

Bahwa ketika ayat tersebut diturunkan adalah untuk merespon suatu kejadian zaman itu banyak kaum laki-laki memperbudak perempuan, menikahi seorang janda dan menjadi seorang wali dari anak yatim namun tidak lagi adil memberikan tanggungjawabnya (Fahmi, 2017).

Baca Juga  KH. Zainul Arifin Pohan dan Rukun Tetangga: Refleksi 76 Tahun Indonesia Merdeka

Jika dicermati ayat tersebut menekankan pada “jika tidak mampu berlaku adil maka menikahlah dengan satu wanita saja”. Pesan sosio-historisnya adalah poligami hanya dilakukan untuk memelihara dan menjaga kaum lemah seperti anak yatim dan janda. Karena awalnya poligami merupakan solusi untuk kekhawatiran pada masa depan mereka. Maka,  jika tidak mampu berlaku adil terutama pada anak kandungnya, lebih baik tidak melakukannya.

Untuk langkah kedua adalah mengkontekstualkan teks dan pesan moral dengan kondisi zaman. Seiring berjalannya waktu, tujuan awal poligami untuk menyelamatkan kaum lemah dan berlaku adil itu gugur hanya tinggal pemahaman pada teks ayatnya saja. Dari sini poligami akan membawa beberapa dampak terhadap kaum wanita terutama ekonomi, sosilogis, psikologis, dan ketidakadilan. Maka poligami di zaman saat ini mendapat banyak penolakan bukan karena enggan menerima ayat tersebut, akan tetapi karena mengantisispasi kezaliman (Burhanuddin, 2019).

Dari sini, bisa kita ambil kesimpulan bahwa tujuan dari teori Double Movement adalah Rahman meyakini bahwa dengan gerakan ini ketika menafsirkan teks, ijtihad dapat diperbaiki lagi. Nasihat-nasihat dalam Al-Qur’an dapat hidup dan efektif lagi. Gerakan ini melibatkan kerelevanan teks Al-Qur’an dengan konteks kekinian terutama dalam merumuskan kembali hukum dari Al-Qur’an. Hal ini merupakan bentuk gerakan kembali ke arah spiritual islam dengan akar historis (Al-Qur’an) yang kuat kemudian diinteraksikan dengan situasi sekarang (Daud, 2013).

Modernisme bukan hal yang harus ditolak, pun dengan Tradisionalisme juga tidak harus disisihkan. Keduanya bisa dipadukan untuk berjalan beriringan. Menurut Rahman ini mampu mengatasi dan mengakhiri ijtihad yang semena-mena.

Perlu digaris bawahi Rahman tidak pernah meninggalkan sumber utama umat islam. Bahkan dari sini Rahman memadukan nilai islam murni tersebut untuk mengangkat spiritual dan moral masyarakat didunia modern. Tujuannya agar masyarakat mampu dan tetap eksis menjalani kehidupan modern yang sesuai dengan zaman (Muhammad, 2017).

Baca Juga  Mengapa Barat Takut terhadap Islam?

Jadi dalam pembaruan yang diinginkan Rahman adalah bagaimana kita membawa moralitas Al-Qur’an itu diterapkan dengan kondisi kita saat ini. Inilah yang membedakan pemikiran Rahman dengan pemikir-pemikir pembaruan lain. Walaupun sama-sama berakar dan kembali pada Al-Qur’an, akan tetapi pemikir lain masih mengedepankan tekstualitasnya saja yang menurut Rahman hanya cenderung pada wilayah teologi. (mmsm)

Nailil Mafazah Mahasiswi UIN Sunan Ampel Surabaya