Terorisme Lahir dari Kebencian dan Hilangnya Pelita dalam Hati

2 min read

Salah satu musuh terbesar kemanusiaan adalah terorisme. Ia lahir dari watak retak manusia yang dikendalikan hasrat untuk membunuh. Dalam aksinya yang agresif, teroris tak mengenal agama, juga tak mengenal etnik, ras, wilayah atau batasan-batasan yang lain. Apapun agama korban, sepanjang berbeda haluan dan tujuan, maka mereka dianggap layak untuk dijadikan target sasaran. Teroris hanya bicara tentang kematian, tentang bagaimana memusnahkan yang liyan.

Karen Armstrong, dalam Fields of Blood: Religion and the History of Violence, menyimpulkan bahwa terorisme tak ada hubungannya dengan kanjeng Nabi Muhammad dalam Islam atau Kristus dalam iman Kristen. Ia dengan tegas mengatakan bahwa kekerasan dengan segala bentuk teror dan wujudnya ada di hampir semua peradaban manusia.

Meski terorisme bukan bersumber dari ajaran agama, faktanya hampir semua aksi teror selalu mendasarkan motivasinya pada doktrin agama. Setidaknya dalam kasus terorisme paling mutakhir, bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar dan teror di Mabes Polri misalnya, melalui surat wasiat yang ditinggalkan, pelaku memilih menempuh jalan jihad untuk memperoleh kematian yang terhormat dengan alasan doktrin agama.

Sejauh yang saya amati, para teroris lebih banyak berbicara tentang kehidupan setelah kematian (akhirat), jihad, liyan yang dianggap sebagai musuh agama. Prinsip berani mati demi cita-cita yang dianggap luhur (masuk surga) menjadi dasar keyakinan cara beragama yang mereka tempuh.

Bagaimanapun, saya kira menumpuk pahala demi masuk surga meskipun harus menghilangkan nyawa orang lain adalah tindakan melawan kemanusiaan dan bertentangan dengan nilai luhur semua agama-cinta kasih.

Mengutip perkataan yang disampaikan oleh Syaikh Ali Jum’ah, salah satu Mufti Akbar Mesir, “Terorisme tidak mungkin lahir dari agama, ia hanya produk dari akal yang tidak sehat, hati yang keras, dan jiwa yang sombong.” Hal ini menujukkan bahwa setiap tindakan yang diambil berdasarkan ketiga faktor tersebut, maka hasilnya cenderung bersifat destruktif.

Baca Juga  Hari Pendidikan Di Tengah Pandemi: Terimakasih Ibu

Terorisme tak banyak bicara tentang prinsip berani hidup. Mereka tak mengenal konsep tentang hidup yang rukun dan teratur sebab hidup berdampingan dengan liyan, khususnya yang berbeda ideologi dan  keyakinan, dianggap sebagai sebuah ancaman. Secara general, ideologi terorisme memandang dunia ini sebagai sebuah ladang pertempuran tiada akhir. Musuhnya tentu sudah jelas; mereka yang berbeda ideologi dan keyakinan.

Berawal dari Kebencian terhadap Liyan

Kebencian yang mendalam terhadap liyan kadang membuat seseorang lupa arah dan ingatan. Ibarat api dalam sekam, kebencian yang digumpalkan dalam dada bisa lebih berbahaya. Dia akan berkobar membakar banyak korban; terlebih lagi jika kebencian tersebut lahir dar sebuah kemarahan akibat perbedaan ideologi atau keyakinan.

Kebencian tidak lain merupakan kekuatan yang lahir dari dalam diri manusia untuk diarahkan kepada objek yang ada di luar sana—atau kepada “wajah yang lain” dalam istilah Emmanuel Levinas.

Ketika ‘aku’ sebagai subjek telah merasa terkikis menjadi sebuah objek karena kehadiran ‘aku’ yang lain, maka saat itu juga ‘aku’ sebagai subjek mulai merasa terancam. Karena kehadiran objek dirasa mengancam subjektifitas, maka ‘aku’ selaku subjek melakukan agresi dan dominasi terlebih dahulu atas yang lain.

Saya kira, suasana batin seperti itu, juga dialami pelaku penembakan masjid Christchurch di Selandia Baru, beberapa tahun lalu. Pelakunya, yang juga seorang pejuang supremasi kulit putih, merasa terancam oleh kehadiran imigran dari kalangan Islam.

Pun demikian dengan pelaku bom bunuh diri di Makassar dan penyerangan di Mabes Polri; mereka merasa terancam oleh kelompok yang berbeda ideologi dan keyakinan. Atas dasar itu pula, mereka memupuk semangat kebencian dan mengambil jalan jihad dengan melukai orang lain. Padahal, jika merujuk pada Q.S. Al Maidah (5): 8, Allah dengan tegas melarang kebencian mendasari prilaku ketidakadilan terhadap orang lain sebagaimana yang difirmakanNya sebagai berikut;

Baca Juga  Syeikh Ali Jum‘ah Disebut sebagai “Ali Begal”: Potret Gabas Portal Islam di Indonesia

“Jangan sekali-kali kebencian-mu pada kelompok lain (orang lain) membuat-mu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”

Kisah Qabil dan Habil telah memberi gambaran betapa kebencian bisa mengakhiri riwayat orang lain. Tragedi kemanusiaan ini telah dipandang oleh Ibnu Khaldun sebagai tragedi berdarah pertama dalam sejarah kehidupan manusia.

Saya melihat bahwa rasanya kok sulit untuk menghapus terorisme selama doktrin-doktrin kebencian pada liyan masih selalu diajarkan. Kita perlu menyadari bahwa tujuan penciptaan manusia adalah sebagai khalifah (pemimpin) yang alih-alih bertujuan-tujuan untuk berbuat semena-mena. Justru sebaliknya, sebagai pemimpin, manusia mengemban tugas untuk menebar kedamaian dan kasih pada sesama.

Di sisi lain, manusia dikatakan sebagai sebaik-baik ciptaan, tidak lain adalah semata-mata karena kesanggupannya memikul titah (amanah) Tuhan yang pernah ditolak langit, bumi, dan gunung sekalipun.

Manusia dianugerahi ‘nurani’  (نوران), dua pelita atau cahaya, yaitu akal dan hati. Dua pelita itulah yang membedakan manusia dengan makhluk lain, seperti binatang dan malaikat. Namun, jika kedua pelita itu redup bahkan mati dalam diri seseorang, maka yang tersisa adalah kegelapan yang mana pada titik ini lah kebencian muncul oleh sebab hilangnya nurani dalam diri. [AA]

Muhammad Asrori Mulky