Muhamad Halim Fatahillah Mahasiswa UIN Raden Mas Said Surakarta

Pembagian Tauhid menurut Ibn Taimiyah

2 min read

Tauhid menegaskan bahwa keberadaan Allah adalah satu dan tunggal (esa). Ibn Taimiyah, dalam upayanya untuk melakukan pembaruan dalam akidah, mengusulkan pembagian tauhid menjadi tiga konsep yang berbeda: tauhid rububiyah (penguasaan atau kekuasaan), tauhid uluhiyyah (ibadah), dan tauhid asma’ wa sifat (nama dan sifat Allah).

Seperti yang telah diajarkan pada kita  bahwa dalam dunia itu ada khaliq dan makhluq. Khaliq dalam kata lain berarti Tuhan sedangkan dalam Islam Tuhan disebut dengan Rabb. Tauhid rububiyyah ialah pengakuan terhadap kebesaran Allah SWT atas segala yang ada.

Ini mencakup keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat yang Maha Pencipta, yang menciptakan alam semesta beserta isinya. Allah adalah yang Maha Kuasa dan yang mengatur seluruh alam semesta serta segala isinya.

Alam semesta beserta isinya ini diciptakan oleh Allah sendiri. Tidak ada Dzat lain yang dapat menciptakan selain-Nya kemudian mengaturnya. Artinya, segala sesuatu yang terjadi pada alam adalah dari kehendak Allah.

Maka, tauhid rububiyah dapat diartikan sebagai konsep pengesaan Allah dalam tiga perkara, yaitu penciptaan-Nya, kekuasaan-Nya, dan pengaturan-Nya. Dengan konsep tauhid rububiyyah ini, manusia mengakui kekuasaan absolut Allah dalam menciptakan, mengatur, dan mengendalikan segala sesuatu di alam semesta.

Mengesakan Tuhan berarti mempercayai bahwa Allah adalah pencipta, raja, dan pengatur segala sesuatu. Semua yang ada di bumi adalah milik-Nya, dan setiap peristiwa yang terjadi adalah atas kehendak-Nya.

Ketika keyakinan ini benar-benar tersirat dalam hati nurani seseorang, maka akan timbul kesadaran bahwa hukum, fakta, dan ilmu pengetahuan sebenarnya adalah ketetapan dan kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa, yang diciptakan dengan tujuan tertentu.

Ibn Taimiyah mendefinisikan tauhid uluhiyah dengan sangat eksplisit. Menurutnya, tauhid uluhiyah yang diyakini manusia dan beberapa ulama tidak cukup menjadi jaminan kebenaran akidah seseorang.

Baca Juga  Pentingnya Spirit Harmonisasi dalam Kehidupan Beragama di Ruang Publik

Artinya, jika seseorang menyatakan bahwa ia beribadah kepada Allah SWT dan mengakui keesaan-Nya, tetapi masih melakukan perbuatan syirik atau menyekutukan Allah, maka akidahnya belum sempurna. Hal ini disebabkan oleh keberadaan penyakit syirik dalam hatinya.

Tauhid uluhiyah atau sering disebut sebagai pengakuan bahwa Allah adalah Yang Maha  Esa yang layak untuk disembah oleh seluruh makhluk dengan penuh kepasrahan diri. Ini tecermin dalam praktik-praktik ibadah seperti sholat, puasa, zakat, dan amalan-amalan lainnya.

Tauhid uluhiyah juga merupakan refleksi dari tauhid rububiyah. Jika dalam tauhid rububiyah kita mengakui Allah sebagai Pencipta, maka dalam tauhid uluhiyah kita menunjukkan kepatuhan dan ibadah kepada-Nya.

Manusia ada karena diciptakan oleh Allah dan diberi kehidupan oleh-Nya. Semua makhluk adalah ciptaan Allah dan bergantung pada-Nya untuk keberadaannya. Kewajiban manusia adalah tunduk dan patuh kepada Sang Pencipta karena mereka diciptakan oleh-Nya.

Dengan demikian, tauhid uluhiyah mengajarkan manusia untuk mengabdikan diri sepenuhnya kepada Allah dalam segala aspek kehidupan mereka.

Dalam Islam, setiap manusia diwajibkan untuk beriman kepada Allah Yang Esa, tidak menyekutukan-Nya, dan beribadah kepada-Nya  sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah.

Tauhid asma’ wa sifat menetapkan bagi-Nya nama dan sifat-sifat-Nya, sebagaimana yang  telah ditetapkan oleh Allah sendiri dalam Al-Qur’an atau melalui rasul-Nya, tanpa memalsukannya, menangguhkannya, atau mengubahnya.

Ibn Taimiyah memiliki pandangan yang konsisten terkait dengan sifat Allah. Menurutnya, adalah wajib bagi setiap muslim untuk beriman kepada Allah Yang Esa, yang memiliki sifat-sifat dan nama yang sempurna.

Yang dimaksud dengan sifat Allah bukanlah bahwa Allah memiliki sifat-sifat yang sama dengan makhluk, tetapi Allah memiliki sifat-sifat ini untuk menunjukkan bahwa Dia adalah Yang Maha Sempurna.

Baca Juga  Pentingnya Tirakat Makan, Minum, dan Tidur

Sifat-sifat tersebut menerangkan bahwa Allah memiliki sifat-sifat tersebut karena kehendak-Nya dan kemampuan-Nya yang sempurna. Sebagai contoh, Allah adalah Maha Mendengar dengan pendengaran yang tidak ada tandingannya di antara makhluk-Nya. Allah mendengar segala yang jelas dan yang tersembunyi, tidak ada suara kecil pun yang luput dari-Nya.

Argumen ini menolak ide bahwa Allah memiliki jasad atau sifat-sifat yang serupa dengan makhluk-Nya, karena hal ini mustahil. Jika Allah memiliki sifat-sifat yang banyak seperti makhluk, itu akan menyebabkan kemajemukan dalam sifat Allah, yang tidak mungkin terjadi. Sifat-sifat yang dimiliki oleh Allah tidak sama dengan sifat-sifat dalam diri makhluk.

Nama Allah yang banyak ini tidak berarti bahwa Dzat Allah itu banyak. Karena tidak semua yang memiliki banyak nama itu juga berarti memiliki banyak dzat. Ini adalah sebagai atribut yang menerangkan akan kesempurnaan Allah.

Nama di sini adalah sebagai perekat manusia dalam mengenal Tuhannya yang maha segalanya, yang akan membawa manusia kepada keimanan terhadap Yang Maha Sempurna, yaitu Allah. [AR]

Muhamad Halim Fatahillah Mahasiswa UIN Raden Mas Said Surakarta