Makhfud Syawaludin Dosen ITSNU Pasuruan

Klepon dan Pentingnya Meningkatkan Pemahaman Fikih Kita

2 min read

Bagi santri dan siapapun yang pernah belajar ushul al-fiqh secara mendalam, tentu akan akrab dengan kitab ushul fiqh karya Imam Syaifuddin Al-Amidi, seorang ulama yang mengalami mimpi spiritual mencium jenazah Imam Al-Ghazali. Ia juga merupakan guru dari Syekh Ízzuddinin Ábdussalam yang pada masanya digelari Sulthanul Ulama. Salah satu pembahasan penting dalam kitab Imam Al-Amidi tersebut adalah mengenai perbedaan pandangan diantara para ulama terkait perbuatan Kanjeng Nabi Muhammad saw yang menjadi dalil syarí.

Imam Al-Amidi dalam memandang perbuatan Rasulullah terbagi menjadi tiga. Pertama, perbuatan Kanjeng Nabi sebagaimana perbuatan manusia secara umum. Seperti makan, minum, berdiri, duduk, dan lain sebagainya.

Dalam hal ini, perbuatan manusiawinya tidak akan terlepas dari tradisi masyarakat pada waktu itu. Menurut penulis, kalau dalam ilmu tauhid, perbuatan ini disebut sebagai sifat jaiz, yakni sifat manusiawi. Sifat manusiawi itu pasti baik. Kalau ada manusia yang berbuat jahat, berarti manusia tersebut sedang terganggu sifat manusiawinya. Sehingga, sebagaimana pandangan Prof. Siti Musdah Mulia, bahwa upaya nahi munkar adalah upaya memanusiakan manusia, bukan sebaliknya.

Kedua, perbuatan Kanjeng Nabi yang khusus untuk dirinya saja. Misalnya, kewajiban sholat tahajud, berpuasa wishal (berpuasa terus-menerus tanpa berbuka), nikah lebih dari empat, dan lain-lain. Apakah kita boleh menirunya? Boleh-boleh saja, kecuali yang menikah lebih dari empat tersebut.

Khusus untuk yang diperbolehkan itu (poligami), para ulama mempunyai banyak ragam pendapat. Misalnya Gus Dur, mengatakan bahwa syarat adil dalam poligami itu juga harus dari pihak perempuan juga. Bahkan, cukup banyak kiai yang tidak dan melarang santri-santrinya poligami.

Ketiga, perbuatan Kanjeng Nabi yang memang secara tegas dijelaskan sebagai panduan pelaksanaan ibadah seperti sholat, haji, dan lain-lain.

Baca Juga  Intuisi dan Rasionalitas dalam Perdebatan Agama versus Sains

Selanjutnya adalah Mbah Bahruddin Kalam, pendiri Pondok Pesantren Darut Taqwa di Carat Gempol dan Ayah dari KH. Moh. Sholeh Bahruddin selaku pengasuh Pondok Pesantren Ngalah Sengonangung Purwosari. Dalam kaitannya dengan upaya menampilkan keberagaman pendapat dalam fiqh, Mbah Bahruddin Kalam pernah menulis kitab fikih Misbahul Munir.

Kitab tersebut yang menjadi inspirasi dari kitab fikih Galak Gampil, yakni kitab fikih yang menampilkan ragam hukum dalam melihat sesuatu dan kitab Jawabul Masail karya Pondok Pesantren Ngalah.

Sebagaimana dijelaskan oleh KH. Moh. Sholeh Bahruddin dalam acara haul Mbah Bahruddin Kalam ke 23 tahun 2017, bahwa Beliau sebagai kiai tarekat memiliki kaca mata yang jernih dalam melihat apapun, siapapun, kapanpun, dan dimanapun. Artinya, Beliau akan selalu melihat kehidupan ini dari sisi kebaikannya dan tidak melihat keburukannya.

Kaitannya dengan klepon yang belakangan ini viral, saya berusaha menampilkan sisi positif dari riuhnya di media sosial.

Pertama, sebagai masyarakat Pasuruan dan daerah yang mana klepon sebagai kue khas daerahnya, dengan viralnya klepon, penulis akan bertanya kapan terakhir kita memakannya? Jangan-jangan kita semua sudah jarang membeli jajanan tradisional yang dalam buku Local Development Heritage: Traditional Food and Cuisine as Tourist Attractions in Rural Areas (1998) dijelaskan bahwa klepon adalah satu dari ribuan warisan budaya yang menjadi simbol atas identitas kolektif suatu daerah atau kelompok. Artinya, ini bagian dari refleksi, sejauh mana upaya kita terhadap pelestarian makanan tradisional.

Kedua, ketika tagar klepon menempati posisi ke lima trending topik twitter di Indonesia, ini adalah peluang bisnis dalam jaringan dan pengembangan inovasi klepon. Meski klepon dengan rasa original sudah enak, perlu dicoba juga klepon berisi kurma, berisi durian, berisi cokelat, dan lain sebagainya. Ternyata, mahasiswa teknologi hasil pertanian yang penulis ajar pun, setuju untuk melakukan project inovasi klepon tersebut. Tunggu ya!

Baca Juga  Seperti yang Tuhan Telah Ciptakan

Ketiga, Ini cukup serius. Bahwa adanya berbagai narasi kebencian dan ultra-konservatif yang membingkai pembahasan klepon, baik dari kalangan yang kadrun dan anti kadrun sekalipun, semakin menyadarkan kita bahwa pendidikan keagamaan kita harus terus diperbaiki.

Pendidikan keagaman harus terus menampilkan keragaman pandangan dalam ilmu agama, sehingga kita tidak mudah kaget. Lebih tegasnya, model penyampaian fikih sebagaimana kitab Misbahul Munir, Galak Gampil, serta berbagai pembacaan fikih secara kontekstual perlu diterus dikembangkan. [AA]

Makhfud Syawaludin Dosen ITSNU Pasuruan