Muhammad Sya’dullah Fauzi Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab UIN Sunan Kalijaga; Sedang Mengabdi di PP Wahid Hasyim Yogyakarta

Waktu dalam Islam dan Kisah Dinasti yang Runtuh karena Kencing

2 min read

Waktu merupakan amanah dari Allah yang diberikan kepada kita. Dan semua amanah yang diberikan kepada kita pasti ada pertanggungjawabannya.

Inilah mengapa agama Islam kerap kali bersinggungan dengan waktu. Allah berkali-kali bersumpah dalam Alquran dengan menggunakan berbagai kata yang menunjukkan kepada suatu masa atau waktu tertentu seperti wa al-dhuhā (Demi waktu dhuha), wa al-Lail (demi malam), wa al-nahār (demi siang), wa Shubhi, wa al-Fajr, wa al-Ashr dan lain-lain. Posisi waktu mendapat perhatian khusus di dalam Islam.

Banyak tatanan ajaran agama bahkan sudah diatur sesuai dengan waktunya masing-masing. Ada ibadah yang harus dilakukan secara harian seperti salat yang harus dikerjakan setiap harinya lima kali, ada juga yang sifatnya mingguan seperti ibadah salat Jum’at, adapula ibadah yang sifatnya bulanan seperti ibadah sunnah puasa tiga hari pada hari-hari purnama, yaitu tanggal 13, 14, dan 15 bulan hijriyah. Ada juga ibadah yang memiliki jangka waktu tahunan seperti ibadah puasa di bulan Ramadhan.

Itulah mengapa hendaknya kita menggunakan waktu dengan sebaik mungkin. Tidak membuang-buang waktu untuk perkara yang tidak berorientasi pada ibadah kepada Allah apalagi menggunakan waktu untuk bermaksiat kepada-Nya. Jangan sampai waktu berubah menjadi pedang yang menebas kita. Seperti ungkapan Imam Syafi’i:

الوَقتُ كَالسَّيفِ إِن لَم تَقطَعهُ، قَطَعَكَ

“Waktu ibarat pedang, jika kamu tidak menebasnya, maka ia yang akan menebasmu”
Sehingga kita dituntut untuk displin terhadap waktu. Disiplin merupakan nilai Islam yang harus senantiasa kita laksanakan.

Islam selalu menghendaki kehidupan manusia tertata secara tertib dan rapi. Hal ini tergambarkan dari berbagai ibadah yang harus dilakukan sesuai dengan waktunya dan harus tertib tatacaranya, tidak mendahului satu rukun dengan yang lainnya.

Baca Juga  Kisah Ashabul Kahfi: Menggali Hikmah dalam Uniknya Kehidupan dan Pembelajaran

Setiap manusia memiliki jatah waktu yang berbeda-beda dan itu sudah menjadi ketentuan Allah Swt. Semua manusia akan menemui akhir dari jatah waktunya didunia ini. Jatah waktu yang diberikan oleh Allah ini bersifat pasti, tidak bisa ditunda barang sedetikpun juga tidak bisa diajukan barang sedetik pun.

Jika kita mau sedikit merenungi, hidup adalah kumpulan detik-detik waktu yang harus kita gunakan dengan sebaik-baiknya. Bahkan satu detikpun seharusnya kita gunakan untuk sesuatu yang berorientasi pada ibadah.

Karena semua kegiatan selama tidak melanggar perintah dan larangan Allah dan diniatkan sebagai ibadah kepada Allah, maka itu bernilai ibadah.

Banyak yang karena menyepelakan satu detik waktu saja akhirnya menjadi fatal akibatnya. Lengah satu detik saja ketika menyetir, bisa jadi berakibat tabrakan fatal. Sebaliknya, karena waspada barang satu detik saja, akhirnya membuat seseorang terselamatkan dari maut.

Ada satu kisah menarik tentang seseorang yang karena lengah, bahkan dalam waktu yang singkat, akhirnya membuat runtuh semua kekuasaan. Kisah ini bercerita tentang Marwan bin Muhammad yang menjadi khalifah terakhir dinasti Umayyah. Marwan bin Muhammad berkuasa selama hampir 6 tahun, tepatnya pada tahun 744-750 Masehi. Ia juga disebut sebagai Marwan II untuk membedakannya dengan kakeknya, yaitu Marwan bin Hakam yang menjadi khalifah pada tahun 684-685 Masehi.

Singkat cerita di akhir-akhir kisah kepemimpinannya, terjadi pemberontakan dimana-mana. Khawarij di Yaman, Syi’ah yang semakin luas pengaruhnya dan kelompok bangsa yang akhirnya memisahkan diri dari pusat kekuasaan, adalah sebagian penyebab pemberontakan terjadi. Namun ada satu pemberontakan membuat Marwan II menjadi khawatir, yaitu pemberontakan yang dilakukan kelompok yang dipimpin oleh Abul Abbas bin Abdullah Assaffah.

Pada pertempurannya dengan Abul Abbas ini, suatu waktu Marwan II merasa ingin buang air kecil. Kemudian ia mencari tempat yang aman dan menyingkir sejenak dari pertempuran. Ketika ia turun dari kuda perangnya, tiba-tiba kuda miliknya itu lari meninggalkannya karena sengitnya pertempuran yang terjadi.

Baca Juga  Konspirasi Iblis yang ‘Cerdas’

Hingga akhirnya, kuda tersebut ditemukan oleh pasukan Abul Abbas. Mereka mengira bahwa Marwan telah tewas karena pertempuran. Pasukan Marwan pun mengira demikian. Sehingga akhirnya Marwan II ditangkap dan kemudian dibunuh oleh pasukan Abul Abbas. Kejadian itulah yang akhirnya membuat Dinasti Umayyah runtuh dan berdirilah Dinasti Abbasiyyah.

Dari kisah diatas akhirnya muncul satu ungkapan terkenal yang berbunyi:

ذَهَبَت دَولةٌ بِبَولَةٍ

“Dinasti runtuh akibat kencing”
Kisah ini juga memberi pelajaran penting kepada kita bahwa tidak ada satu detik waktu pun yang tidak mempunyai pengaruh dalam kehidupan kita. Satu detik saja yang kita gunakan dengan sebaik-baiknya pasti ada manfaatnya. Sebaliknya, satu detik saja yang kita sia-siakan bisa jadi akan berdampak buruk pada kehidupan kita.

Di sisi lain, banyak yang tidak menyadari bahwa waktu luang adalah satu kenikmatan. Dan kenikmatan yang diberikan kepada kita hendaknya kita gunakan dengan sebaik mungkin. Waktu luang seringkali menjadi tipu daya bagi kita.

نِعمَتَانِ مَغبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالفَرَاغُ

“Ada dua kenikmatan yang seringkali banyak orang yang tertipu olehnya: yaitu kesehatan dan waktu luang” (HR. Bukhari)
Untuk itu, sebelum hilang dan diminta kembali oleh Allah, hendaknya kita gunakan sebaik-baiknya dua kenikmatan yang diberikan kepada kita tersebut.

Muhammad Sya’dullah Fauzi Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab UIN Sunan Kalijaga; Sedang Mengabdi di PP Wahid Hasyim Yogyakarta