Muhammad Saiful Umam Khadim Asrama Hasbullah Said Denanyar Jombang; Mahasiswa Pascasarjana IAIN Kediri

Kiai Taufiqul Hakim: Sang Kiai Penyair

3 min read

Foto: https://www.youtube.com/
Foto: https://www.youtube.com/

Jika anda mengetahui metode cepat membaca kitab kuning “Amtsilati”, maka nama KH. Taufiqul Hakim tentu tidak asing. Benar, beliau merupakan penemu metode tersebut. Metode yang diperuntukkan untuk mempermudah membaca kitab kuning dengan target 3-6 bulan bisa tersebut beliau susun bahkan sebelum menginjak usia kepala tiga. Awal tahun 2000-an selepas menamatkan pendidikan di Perguruan Islam Mathaliul Falah (PIM) Kajen Pati sekaligus belajar ilmu Tarekat Naqsabandīyah Khālidīyah di bawah asuhan langsung KH. Salman ad-Dakhlawi Popongan-Klaten, beliau kemudian bermujahadah untuk menyusun sebuah metode mudah membaca kitab kuning. Menurut sebuah catatan sejarah, pada masa menempuh ikhtiar batin tersebut, beliau pernah bertemu Syaikh Mutamakkin Kajen dan Ibnu Malik, musannif Kitab babon gramatikal Arab Alfīyah Ibnu Mālik dalam keadaan setengah tidur dan sadar. Dari “pertemuan” tersebut beliau seakan mendapat dorongan kuat untuk menulis kitab ilmu alat.

Amtsilati sendiri pada akhirnya dirampungkan hanya dalam rentang waktu 10 hari. Dimulai pada 17 Ramadan, selesai malam 27 Ramadan tahun 2001. Bisa dikatakan, laku spiritualnya tersebut memiliki pengaruh yang signifikan dalam penyusunan kitab Amtsilati. Mengenai efektivitas metode Amtsilati, bisa kita lihat dari perkembangan pesantren Darul Falah saat ini. Pada tahun 2005, saat penulis menginjakkan kaki di pesantren Darul Falah, kurang lebih jumlah santri “hanya” sebanyak 500-an termasuk di dalamnya santri putra maupun putri. Kini, jumlah santri di sana tak kurang dari 3000an. Bahkan Amtsilati telah dicetak lebih dari 1 juta eksemplar. Secara bentuk bangunan fisik pun, pesantren Darul Falah telah berkembang sedemikian pesat. Perluasan bangunan terbentang massif dan signifikan, sinyal betapa Amtsilati telah mendapatkan sambutan positif dari publik luas.

Baca Juga  Sisi lain Dari Sahabat Abdurrahman bin Auf (1)

Sebagai seorang Kiai dengan karya Masterpice berupa kitab gramatikal, bukan berati bahwa beliau hanya concern pada disiplin nahwu atau sarf saja. Beliau merupakan kiai yang haus untuk menulis dan menulis. Setelah Amtsilati, beliau menulis kamus, kitab-kitab fikih, dilanjut menyusun kitab yang berisi syair, durrun syarīf. Setelah menyusun kitab durrun syarīf, beliau seakan menemukan style kepenulisannya, yaitu membuat kitab-kitab syiiran atau nadzaman. Lahir dari pena beliau kitab nadzam multi-disiplin, baik hadis, aqidah, akhlak, tasawuf maupun disiplin lainnya.

Salah satu karakteristik dari karya beliau ialah kitab “saku” yang bermodel nadzaman berikut terjemahan multilingual, yakni bahasa Jawa dan Indonesia. Alasannya, Kiai Taufik ingin menyasar segmen pembaca dari berbagai lapisan masyarakat. Tidak hanya santri yang notabene akrab dengan bahasa Arab, tetapi juga kalangan awam, baik Jawa maupun luar Jawa. Hadirnya nadzam versi Indonesia dan Jawa tentu akan mempermudah pembaca dari luar pesantren dalam memahami isi buku. Lebih dari hal itu, nadzam sendiri, kata al-Jāhiz sastrawan klasik penulis kitab al-Hayawān, memang lebih mudah dihafal dan diingat daripada nathar. Thomas Amstrong (2002) juga menandaskan bahwa materi akan lebih mudah diterima dan diingat jika dikemas dalam bentuk lagu, apalagi jika dilantunkan dengan irama.

Proses penggubahan sebagian besar kitab-kitab nadzaman Kiai Taufik meliputi tiga proses kreatif: pertama, menggali dalil-dalil primer maupun sekunder tentang materi-materi keislaman sesuai konteks yang hendak dibahas dari literarur Arab. Kedua, mengubah pemahaman teks Arab tersebut kedalam syiiran bahasa Arab. Ketiga, menerjemahkannya dalam bentuk puisi dua bahasa sekaligus, yakni bahasa Jawa dan bahasa Indonesia yang terikat oleh kungkungan wirahma (metrum). Metrum yang digunakan berpola dua baris yang setiap barisnya secara konsisten terdiri dari empat suku kata, ditulis dalam pola bahr rajaz.

Sebagai seorang Aswaja tulen yang lahir dari rahim pesantren, sudah barang tentu beliau memiliki pemikiran harmonis terkait keislaman dan kebangsaan. Bagi beliau, beragama tentu harus holistik dengan ketaatan terhadap negara. Bernegara juga harus berpondasikan dengan keberagamaan. Satu dari keduanya berdiri untuk tidak saling menjegal-menegasikan, melainkan beriringan laksana kedua kaki yang sama-sama dibutuhkan untuk berjalan merangsek ke depan. Jargon hubb al-watan min al-īmān, jelas menjadi pedoman kuat dalam diri beliau. Sebagai bukti, lahirlah karya yang berjudul Pancasila dan Piagam Madinah (2018) yang ditunjukkan untuk membentengi NKRI dengan asas Pancasila dan kitab yang berjudul I’tiqod Ahlis Sunnah wal Jamaah (Mei, 2019) untuk membentengi akidah ahlus sunnah dari sementara pihak yang menyesatkannya.

Baca Juga  Ibn Sina, Perintis Ilmu Kedokteran yang Tak Terlupakan

Kitab pertama ditujukan sebagai pembelaan Kiai Taufiq dari hujaman oknum yang melesakkan panah dalil-dalil keagamaan yang problematis atas NKRI. Mereka mengatakan bahwa Indonesia adalah negeri tāghūt lantaran berhukum kepada selain Allah hingga memunggungi Alquran dan Sunnah.

Dalam rangka menjawab tuduhan tersebut, Kiai Taufik menjabarkan dalam bukunya dengan aneka dalil-dalil otoritatif bahwa Pancasila sama sekali tidak menyalahi syariat Islam, bahkan esensi dari Pancasila adalah seperti nilai-nilai yang terdapat pada Piagam Madinah, yaitu tentang keadilan, kemanusiaan, gotong royong, musyawarah dan persatuan tanpa membedakan keyakinan ataupun kesukuan. Propaganda dari beberapa kalangan yang mencoba merongrong NKRI dengan mengatasnamakan teks-teks keislaman jelas tidak bisa dibenarkan dalam kacamata syariat Islam.

Sementara karya kedua ditujukkan untuk menjawab tuduhan miring terhadap akidah Ahl al-Sunnah wa al-Jamāah al-Nahdīyah. Kegigihan beliau dalam merampungkan kitab tersebut terbilang tinggi manakala kitab setebal 225 halaman tersebut dirampungkan hanya dalam 3 hari 3 malam saja. Beliau menuturkan persaksian tersebut pada acara temu alumni Amtsilati tahun 2019 di PP. Darul Falah Jepara.

Karya tersebut dirasa penting mengingat dewasa ini, diseminasi serta transmisi aneka ideologi ataupun akidah telah mengancam generasi bangsa. Aneka organisasi transnasional telah merebak sedemikian hebatnya di tengah-tengah kita, jika semuanya tersebar tanpa ada filter maupun pembanding maka keselamatan akidah dan ideologi penerus bangsa menjadi taruhannya.

Untuk memfilter itu semua maka dibutuhkan kerja-kerja intelektual-cum-kreatif dengan karya nyata semisal dengan tulisan ataupun kampanye dengan lisan melalui varian media terbarukan saat ini. Maka langkah Kiai Taufik dengan karya syiiran/nadzaman untuk memudahkan orang awam dalam memahami konten ataupun materi adalah salah satu media dakwah yang terbilang kreatif dan efektif.

Baca Juga  Al-Hallaj: Tokoh Sufi yang Filosofis

Dua karya tersebut, juga karya-karya lainnya semisal kitab Bahaya Miras, Uswatun Hasanah, Menangkal Hal Radikal, Awas Miras, Tato, Bahaya Zina Korupsi, La Tahasadu, La Taghdlab, La Takabbar yang seluruhnya ditujukan untuk memudahkan masyarakat dalam mempelajari keislaman dengan metode nadhaman. Menurut keterangan Jamal Ma’mur (2019), dalam buku Sang Pembaharu Pendidikan Pesantren (Biografi Kiai Taufiq) tak kurang dari 79 judul buku telah Kiai Taufiq lahirkan. Meski tidak berpendidikan “tinggi”, Kiai Taufiq mampu membuktikan bahwa gelar bukanlah segala-galanya. Ketiadaan gelar akademik yang “berantai” bukanlah alasan untuk tidak mampu berkarya. Penulis masih teringat tiga motto Pesantren Darul Falah, yaitu: zikir, pikir, amal nyata. Ternyata, ketiganya selalu istikamah benar-benar diteladankan oleh pengasuhnya. [HM, MZ]

Muhammad Saiful Umam Khadim Asrama Hasbullah Said Denanyar Jombang; Mahasiswa Pascasarjana IAIN Kediri

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *