Khairun Niam Mahasiswa sekaligus santri Pondok Pesantren Nurul Ihsan Yogyakarta

Mengenal KH. Dahlan Salim Zarkasy, Founder Metode Qiroati

3 min read

Beberapa metode konvensional dalam belajar membaca al-Qur’an yang sering ditemui adalah Qaidah Baghdadiyah dan metode iqra. Namun belakangan ini hadir berbagai macam metode belajar membaca al-Qur’an yang turut meramaikan proses pembelajaran baca al-Qur’an diantaranya metode Juz Amma, Bagdadiyyah dan Iqra, metode Ummi, metode Tabarak, metode Yanbu’a dan metode Qiroati. Fenomena munculnya beberapa metode tersebut menandakan bahwa metode baca al-Qur’an terus mengalami perkembangan.

Dalam tulisan ini penulis hanya ingin membahas terkait metode Qiroati saja. Hal ini dikarenakan dalam dua minggu ini penulis dan teman-teman pondok lainnya sedang fokus belajar membaca al-Qur’an dengan menggunakan metode tersebut. Belajar metode baca al-Qur’an bukanlah pengalaman pertama bagi penulis. Sebelumnya penulis pernah belajar metode Yanbu’a ketika nyantri di Kudus. Oleh sebab itu ketika pertama kali belajar metode Qiroati penulis tidak terlalu kaget karena menurut penulis kedua metode ini memiliki perbedaan yang tidak terlalu jauh.

Pada pertemuan pertama dalam proses belajar metode ini Bu Nyai Zuhriyah banyak bercerita secara detail terkait sejarah munculnya metode Qiroati dari latar belakang, serta bagaimana usaha dan perjalanan KH. Dahlan Salim Zarkasy selaku founder metode qiroati sampai mendapat restu dan izin untuk diterbitkan. Hal inilah yang membuat penulis tertarik ingin menulis tulisan ini.

Biografi KH. Dahlan Salim Zarkasy

Dachlan Salim Zarkasy lahir di Semarang pada 28 Agustus 1928 dari pasangan Salim Zarkasyi dan Siti Rehana. Selayaknya anak kecil pada umumnya, Dahlan kecil sering bermain kelereng, layang-layang, gebak sodor dan juga menggembala kambing. Terlahir dari keluarga yang sederhana dari keluarga yang kesehariannya sebagai tukang cukur dan sebagai jasa cuci pakaian membentuk karakter Dahlan sebagai pekerja keras, sabar dan ulet.

Baca Juga  Obituari Prof A. Malik Fadjar: Menunda Kepergian Guru

Ketika berumur tujuh tahun Dahlan dan keluargnya pindah ke Yogyakarta untuk mengadu nasib. Di sinilah perjalanan Dahlan di mulai. Ia memulai sekolah di SR (Sekolah Rakyat) di Suryodinatan. Masa remaja Dahlan diisi dengan berkerja bersama saudaranya. Berbagai macam pekerjaan ia lakukan mulai dari pedangan asongan sampai membuat kembang dari kertas di Surabaya.

Seiring berjalannya waktu Dahlan mulai jenuh dengan kehidupannya sejak kecil hingga remaja yang hanya dihabiskan untuk mencari uang. Akhirnya Dahlan memutuskan untuk mondok di pesantren Kauman. Di sini Dahlan mulai belajar ilmu agama dari belajar tafsir Jalalian, al-Irsyad al-Ibaad, Fathul Mu’in, tasawuf dan belajar ngaji dengan KH. Asrar. Pertemuan dengan KH. Asror inilah yang menjadi salah satu latar belakang Dahlan dalam menulis metode Qiroati ini.

Penyusunan Metode Qiroati

Dahlan Salim Zarkasyi mulai menyusun metode Qiroati pada tahun 1963. Latar belakang penyusunan metode ini dikarenakan saat beliau mengajar ngaji masih banyak anak-anak yang kesulitan dalam mencapai hasil yang baik. Sebelum menyusun metode Qiroati sebagaimana umumnya guru ngaji di Indonesia. Dahlan menggunakan metode Baghdadiyah dalam mengajar namun Dahlan merasa metode Baghdadiyah belum maksimal jika dipraktikkan kepada anak-anak.

Oleh sebab itu Dahlan melakukan penelitian dan pengamatan di musholla, dan majlis tadarus al-Qur’an. Selain melakukan pengamatan, aktivitas Dahlan adalah berjualan di pasar. Aktivitas mengajar bacaan al-Qur’an kepada anak-anak dilakukan Dahlan sepulang dari berjualan di pasar. Dari pengalaman mengajar Dahlan melihat ternyata para santrinya hafal huruf hijaiyyah namun tidak mengenal huruf hijaiyah. Bahkan dalam waktu 2-3 hari anak belum hafal alif sampai ya’.

Berangkat dari kegelisahan yang dialami Dahlan ketika melihat anak-anak kesulitan dalam belajar mengaji maka saat itu Dahlan mencoba memulai menyusun metode Qiroati. Diawali dengan huruf alif dan ba yang langsung diberi harokat fathah tanpa mengeja alif fathah a, dan seterusnya. Setelah mahir pada harokah fathah dilanjutkan dengan harokat kasroh dan dhommah dan anak tidak diperbolehkan untuk mengeja.

Baca Juga  Mbah Joyo Dirono: Tokoh Penyebar Agama Islam di Driyorejo, Gresik

Buku metode Qiroati karya KH. Dahlan Salim Zarkasyi disusun sebanyak sepuluh jilid dan selesai pada tahun 1968 telah dicetak dengan sistem sablon dan dipergunakan dalam pengajaran membaca al-Qur’an. Namun, buku tersebut belum mempunyai nama permanen. Pemberian nama “Qiroati” merupakan saran dari Ustadz Achmad Djunaidi dan Ustadz Syukri Taufiq. Dalam buku “Materi Penunjang Qiroati” disebutkan bahwa Qiraati berarti “bacaanku” yang bermakna “inilah bacaanku” maksudnya adalah bacaan al-Qur’an yang sesuai dengan ilmu Tajwid.

Dalam buku ini juga terdapat kisah ketika metode Qiroati ini di tashih sekaligus mendapat restu dari KH. Arwani Al Hafidz dengan disaksikan oleh H. Dja’far dan K.H. Sya’roni beserta dua putra KH. Arwani Al Hafidz agar dapat digunakan oleh para guru ngaji dalam mengajarkan membaca al-Qur’an.

“Buku sampean niki sae sanget, kondo karo guru-guru ngaji, nek arep ngajar ngaji nganggo bukumu (Qiroati), iki perintahe mbah Arwani”. (buku kamu ini sangat baik, sampaikan kepada guru-guru Al-Qur’an jika mengajar pakailah bukumu, ini perintah mbah Arwani). Dengan adanya restu yang disampaikan oleh Mbah Arwani kepada KH. Dahlan Salim Zarkasyi membuatnya merasa lega dan bersyukur. Restu dari Mbah Arwani ini beliau sampaikan juga kepada gurunya yaitu KH. Turmudzi Taslim.

K.H. Dahlan Salim Zarkasyi wafat pada 20 Januari 2001 M dan dimakamkan di Semarang. Terdapat tiga wasiat KH. Dahlan Salim kepada para guru ngaji. Pertama, Guru ngaji harus sering tahajud. Kedua, guru ngaji harus sering tadarus al-Qur’an. Ketiga, guru ngaji harus ikhlas. Dengan adanya metode Qiroati cukup banyak membantu anak-anak dalam belajar membaca al-Qur’an serta metode ini juga turut meramaikan khazanah pembelajaran al-Qur’an di Indonesia. Wallahua’lam

 

Baca Juga  Mengenal Ibrahim bin Adham, Seorang Pangeran yang Meniti Jalan Sufi

*Dikutip dari buku Materi Penunjang Qiraati, cerita Bu Nyai Zuhriah dan sumber-sumber terkait KH. Dahlan Salim Zarkasy

Khairun Niam Mahasiswa sekaligus santri Pondok Pesantren Nurul Ihsan Yogyakarta