Mualim Mengajar di MTs. NU Miftahul Falah Cendono Dawe Kudus

Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari, Karl Von Smith dan Dakwah Islam (2)

1 min read

tebuirengonline

Sebelumnya: Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari… (1)

Selain Al Qur’an dan Hadis, Ir. Karl juga menerima wejangan Mbah Hasyim yang bersumber dari ucapan-ucapan para ulama dan waliyullah. Hal ini membuat Ir. Karl lebih bisa membuka hati dan pikirannya serta mendorongnya lebih banyak lagi mengenal Islam. Pada akhirnya ia bertekad dan memutuskan untuk mengimani dan memeluk Islam.

Setelah mantap untuk memeluk Islam, Ir. Karl menyampaikan keinginannya untuk  memeluk agama Islam kepada Mbah Hasyim.

“Kamu bebas untuk memilih agama yang kamu suka dan kamu ridha untuk dirimu. Kamu telah memahami Islam, maka pilihlah untuk dirimu keyakinan (akidah) dan agama yang kamu percayai dengan syarat keimanan dan akidah ini berdasarkan ilmu, pengertian, dan kesadaran, dan keyakinan setelah mempelajarinya,” demikian Mbah Hasyim menasehatinya.

Pada akhirnya Ir. Karl mengucapkan syahadat sebagai tanda ia komitemen memeluk Islam. Selang dua tahun istrinya masuk Islam. Kemudian disusul oleh anak  laki-lakinya. Tidak hanya itu, ia juga masih terus datang ke majelis Mbah Hasyim untuk menambah dan memperdalam pengetahuan Islam.

Ketika terjadi perang kemerdekaan tahun 1945 Ir. Karl Von Smith memilih ikut berjuang bersama bangsa Indonesia melawan Belanda. Islamnya telah telah mendorongnya untuk berjuang melawan penjajah Belanda demi Islam dan bangsa Indonesia. Akibatnya, pemerintah Belanda menganggap ia sebagai penghianat. Pemerintah Belanda berusaha menangkap dan membunuhnya. Bahkan Belanda menyediakan seribu dollar bagi siapa saja yang bisa menangkap Ir. Karl baik hidup maupun mati.

Setelah Indonesia merdeka Ir. Karl beserta keluargnya pulang ke Jerman. Ia menetap di kota Hamburg. Di sana ia tetap menekuni profesinya sebagai insinyur disamping tetap berdakwah mengajak kaumnya kepada agama yang lurus, Islam.

Baca Juga  Benarkah Agama Mengajarkan Kekerasan?

Dakwah Islam

Kisah Ir Karl Von Smith tersebut bisa kita baca di buku karya Muhammad Asad Syihab, Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari Pejuang Kemerdekaan Indonesia. Buku ini edisi Arabnya berjudul Al Allamah Muhammad Hasyim Asy’ari Wadli’u Labinati Istiqlali Indonesia.

Kisah perjumpaan Ir Karl dengan Mbah Hasyim memberi gambaran kepada kita salah satu jalan dakwah Mbah Hasyim. Jalan dakwah yang penuh dengan hikmah dan mauidhoh hasanah, bahkan dengan perdebatan dan diskusi. Dakwah yang dilandasi dengan kedalaman ilmu,  keluasaan pengetahuan, wawasan, kesabaran, dan kelapangan hati. Dakwah yang mampu menyentuh akal dan hati manusia. Sehingga manusia tertarik kepada kebenaran dan kesucian Islam.

Patut menjadi renungan dan pegangan bahwa Islam adalah agama,    keimanan dan akidah yang berdasarkan ilmu, pengertian, dan kesadaran. Karena itu, dakwah hendaknya mengajak orang untuk memahami Islam dengan benar dan obyektif agar manusia menyadari kebenaran Islam. Sehingga mereka memeluk Islam berlandaskan pengetahuan dan kesadaran akal dan hati.

Mbah Hasyim telah memberikan contoh berdakwah yang bijak. Beliau bisa menerima bantahan dan sanggahan dengan lapang dada. Mbah mengenalkan Islam dengan ilmu dan kesadaran. Mbah Hasyim dengan senang hati melayani diskusi ilmu. Justru diskusi dan perdebatan bagi Mbah Hasyim  bisa mengantarkan orang kepada titik temu dan saling memahami. Di sinilah Mbah Hasyim mampu menjelaskan Islam sesuai dengan ukuran dan kemampuan berpikir lawan diskusinya.

“Kalau bukan karena hubungannya dengan Hadratussyaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari, saya tidak akan mendapatkan taufiq untuk memeluk agama Islam. Beliau sangat berjasa kepada saya dalam hal ini. Saya melihat dalam diri beliau ada keistimewaan khusus yang jarang saya jumpai pada orang lain,” demikian pandangan Ir. Karl. (mmsm)

Mualim Mengajar di MTs. NU Miftahul Falah Cendono Dawe Kudus