Musthofa Santri Pondok Pesantren Nurul Ulum Karang Manggis Rombuh Palengaan Pamekasan Jawa Timur

Najwa Shihab, Buku, dan Maulid

1 min read

Najwa Shihab pernah menulis bahwa “setiap buku mempunyai pasangan waktu dan suasananya masing-masing.” Artinya, dalam kondisi tertentu sebuah buku mempunyai nilai relevansi, kecocokan untuk ditelaah dan dibaca, sesuai kondisi personal pembaca maupun sosial di mana ia tinggal.

Seorang penulis buku biasanya menguraikan ide dan inspirarasinya lewat sebuah tulisan, sesuai dengan kondisi psikologis yang dia alami. Bak seorang yang sedang dimabuk cinta, penulis bisa menjelma seorang pujangga yang dengan mudah menuangkan isi pikiran lewat tulisan indah, serupa syair dan puisi.

Dalam sebuah unggahan di akun sosialnya, Mbak Nana, sapaan akrab Najwa Shihab merekomendasikan beberapa buku untuk dibaca pada bulan Oktober ini, sesuai dengan keadaan yang sedang memanas, disebabkan tragedi demonstrasi UU Cipta Kerja, kebijakan pemerintah yang dinilai penuh keganjilan, sikap para demonstran yang melampaui batas dengan melakukan perusakan di berbagai tempat, serta berbagai tindakan anarkis lainnya yang terjadi saat aksi demo.

Salah satu buku yang direkomendasikan Mbak Nana adalah karya sang ayah, Prof. Dr. Quraish Shihab, yang berjudul Yang Hilang dari Kita adalah Akhlak. Buku ini penting dan menarik, sebagai rujukan dalam mengambil sikap dan membuat keputusan agar bijak dan berkeadilan.

Apa yang dilakukan Mbak Nana, sebagai salah satu Duta Baca Indonesia (DBI), dalam mendorong dan merangsang minat baca generasi muda tampak sangat menarik dan luar biasa. Membaca tidak hanya sekadar mengeja tapi juga terapi yang menyegarkan jiwa.

Pada zaman Yunani Kuno, di depan perpustakaan biasanya terdapat sebuah slogan yang tertulis, healing place for the soul. Artinya, perpustakaan menjadi tempat untuk menyembuhkan jiwa. Islam juga mengingatkan pentingnya budaya membaca, lewat wahyu pertama yang turun, Iqra’.

Baca Juga  Peran Sosial Umat Islam Indonesia: Menguatkan Filantropi Islam

Di bulan Rabiu Awal ini, saya mau ikut-ikutan Mbak Nana merekomendasikan sebuah buku berjudul Lentera Kegelapan karya santri Pondok Pesantren Lirboyo tahun 2010. Buku ini berisi potret sejarah kehidupan Nabi Muhammad. Ditulis dengan gaya bahasa yang indah, pembaca diajak merasakan dan mengalami langsung peristiwa perjuangan, pengorbanan dan keteladan Nabi. Buku ini cocok untuk menubuhkan dan menguatkan kecintaan kita kepada Nabi, khususnya di bulan Maulid ini.

Ada juga sebuah buku berjudul Muhammad Al-insan al-Kamil karya Sayyid Muhammad ibn Alawi Al-Maliki. Kitab ini mencoba mengenalkan kepribadian, karakter kesalehan, sifat dan etika mulia Nabi Muhammad saw. Kitab ini juga penting ditelaah untuk kemudian dipraktekkan dan diamalkan dalam keseharian kita serta bisa ditanamkan kepada anak didik dan keluarga kerabat guna mencetak sosok generasi beretika dan bermoral layaknya sang baginda. Kita tahu, akhlak merupakan pilar pokok yang menjadi bagian terpenting dalam kehidupan. Sebagaimana ungkapan Sayyidina Ali r.a., “Sesungguhnya orang-orang berakal membutuhkan akhlak, sebagaimana kebutuhan terhadap pepohonan pada air.”

Buku menarik lainnya dari Sayyid Muhammad ibn Alawi adalah Mafahim yajibu An-Tushahha. Sebuah karya fenomenal beliau yang fokus untuk merespon dan membantah kelompok anti maulid, tahlil, serta ragam serimonial kaum ahlussumah walajamaah. Kitab ini sangat menarik dan banyak diminati kaum pelajar sebab ditulis dengan model membantah tudingan sekte wahabi menggunakan jawaban dan dalil dari panutan ulama kelompok mereka sendiri: senjata makan tuan. Dalil yang ditampilkan oleh Sayyid Muhammad dalam kitab ini cerdas dan jitu untuk membungkam celoteh kelompok yang kerap menyerang aktivitas (amaliyah) keagamaan ahlussanah waljamaah.

Akhirnya, selamat merayakan bulan Maulid dan membaca buku. []

Musthofa
Musthofa Santri Pondok Pesantren Nurul Ulum Karang Manggis Rombuh Palengaan Pamekasan Jawa Timur