Kang Madari Mau Terbang

3 min read

Seusai subuh, Ibu-ibu rumah tangga sudah disibukkan aktivitas rutinan pagi hari. sebagian menyuci baju, menyapu halaman rumah, sebagian lagi sudah antri beli sarapan meski wajah masih jekethetan dan bau badan masih beraroma semi-apeg. Sedangkan, bapak-bapak disibukkan dengan “ngemong” anak, ada yang asyik menikmati kopi dengan cangkrukan.

Begitulah wajah pagi di sebuah pedesaan. Keromantisan orang desa menikmati aroma udara pagi dengan guyub rukun dan ceria bersama.

Seperti biasanya, saat sedang mengantri beli sarapan, rasan-rasan dan ngegosip menjadi sebuah rutinitas dan hiburan. Apapun dan siapapun yang bisa diperbincangkan, ya dibincangkan. Mulai dari si A sampai si Z tak ada yang luput dari santapan mulut manisnya ibu-ibu kalau sedang ngumpul. Namun, pagi itu, bahasannya agak sedikit serius, soalnya isu lokal yang dibahas. Kabar tentang kang Madari, pemuda desa yang dikenal sedikit nyeleneh di kampungnya, yang mau terbang.

Berkat bibir manisnya ibu-ibu, kabar Kang Madari mau terbang menyebar kemana-mana dan menjadi kabar trending di kampungnya. Bahkan, sampai tetangga desa. Pesan broadcast juga turut menyebar di berbagai WA grup (WAG). Dan tidak mungkin tidak, kabar itu membuat pro dan kontra. Bikin kegaduhan. Sebab ramai dibincangkan, kabar tersebut sampai ke telinga ke Kyai Mahmud, seorang kiai di desan tersebut (kiai kampung).

Sebab tak percaya dan takut kalau itu ternyata kabar tersebut adalah hoax, Kyai Mahmud memastikan dan menanyakan langsung ke Kang Madari. Lantas dengan santainya Kang Madari mengiyakan kabar itu.

“Iya betul Pak Kyai. Besok hari Jum’at jam 9 pagi di Masjid al Falah.” Dengan santainya Kang Madari memberitahu Kyai Mahmud.

Kyai Mahmud masih tak percaya atas jawaban kang Madari. Justru Madari dikira stres, gila. Batinnya, mana bisa manusia terbang. Apalagi seorang kang Madari yang terkenal nyeleneh. Kyai Mahmud hanya merespon, “Oke. Aku akan menyaksikan besok Jum’at. Kalau kamu bohong, sudah membuat masyarakat resah. Awas loh ya!!”

Baca Juga  Humor Singkatan Nama

Mendengar Kyai Mahmud sedikit mengultimatum, Kang Madari hanya cekikikan. Merasa suasana sudah tidak nyaman melihat Kang Madari yang cekikikan tidak jelas begitu, Kyai Mahmud pamit pulang. Kang Madari masih cekikikan.

Hari yang dinanti-nanti telah tiba. Pagi itu, seusai jamaah subuh para jamaah banyak yang berkumpul di emperan masjid membahas isu hangat, Kang Madari mau terbang. Di kampung-kampung pun semakin ramai diperbincangkan.

Tak ketinggalan di warung sarapannya Mbak Marmi pun demikian. Ibu-ibu yang mengantri beli sarapan semakin bergairah membahas isu Kang Madari mau terbang. Mereka ada yang penasaran, ada pula yang nyinyir.

Salah satunya adalah Mbak Tarmi. “Masak orang terbang? Ah, mau cari sensasi atau mau mati konyol? Dasar, Madari sudah tidak waras.”

Kicauan burung-burung pun bersahutan bak ikutan membahas kabar kang Madari mau terbang. Pukul 8 pagi, halaman masjid yang telah ditentukan mulai terlihat banyak orang yang ingin menyaksikan. Banyak yang sudah tidak sabar menyaksikan atraksi Kang Madari. Turut serta bakul cuplis, bakso, sosis, es teh, sampai bakul mainan anak-anak meramaikan. Batinnya, mumpung ada kesempatan buat “mremo” dalam event tersebut.

Waktu yang ditentukan pun tiba. Kang Madari sudah terlihat bersiap dengan santainya. Pun dengan Pak Kyai Mahmud yang sudah hadir. Halaman Masjid pun sudah terisi banyak orang-orang yang ingin menyaksikan. Ramai betul. Sebab, hari Jum’at adalah hari libur kerja sebagian besar orang di desa tersebut.

Kang Madari berjalan dengan santai menuju bangunan paling atas Masjid, berdiri tepat di sebelah kubah. Orang-orang yang menyaksikan mulai mlongo, semua mata tertuju pada sosok Kang Madari yang kabarnya mau terbang.

Tak luput juga sama Mbak Lilis, ia fokus sama Kang Madari, mengabaikan anaknya yang sedang nangis minta jajan cuplis. Pun dengan Mbak Sundari yang tak sadar bahwa ia dengan santainya meneteki anaknya di tempat umum dengan vulgar. Ia tak sadar kalau dilihat orang lain, sebab kesadarannya tertuju seorang Kang Madari belaka. Suasana hening, tegang.

Baca Juga  Terserah Kiai, Asal Jangan Dua Ayat Ini!

Kang Madari mulai merentangkan kedua tangannya. Ia mulai mengibas-ibaskan kedua tangannya seperti burung terbang. Suasana semakin tegang. Jantung yang hadir menyaksikan semakin berdegup kencang. Sebab tak sabar melihat Kang Madari tak kunjung terbang, Mbak Tarmi bersorak kencang layaknya Mahasiswa beragitasi dalam aksi, “Woy, Kang Madari cepetan. Katanya terbang? Kok gak terbang-terbang. Apa ini cuma nyari sensasi biar terkenal?”

Merasa terganggu dengan suara kerasnya Mbak Tarmi, Mbak Jum yang kebetulan berada di sampingnya berseloroh ke Mbak Tarmi, “Heh, diam. Berisik. Dilihat aja dulu dengan tenang.”

Di saat suasana semakin hening, sebab orang-orang yang menyaksikan jantungnya semakin berdegup kencang, tapi Kang Madari malah dengan santainya berjalan turun ke bawah. Ia menghampiri Kyai Mahmud.

Orang-orang saling tolah-toleh, semua dihampiri rasa kekecewaan. Kesal sama Kang Madari. Salah satunya adalah Mbak Tarmi. Ia lagi-lagi nyinyir dengan nada berapi-api, “Ah, Kang Madari sudah membohongi umat. Gak waras. Cuma cari sensasi biar terkenal di kampung.” Dan sontak disahut banyak orang dengan kompak, “Whuuu..”

Dengan santainya Kang Madari merespon, “Apakah kalian melihat kalau aku tadi mau terbang?”

“Iya melihat. Kamu mengibaskan kedua tanganmu seperti burung terbang. Seolah kamu mau terbang, Kang.”

“Kan aku bilangnya mau terbang. Sudah ku kibaskan tanganku layaknya mau terbang. Aku tidak bilang bisa terbang. Dan apakah diriku berbohong, cuma nyari sensasi seperti apa yang dikatakan Mbak Tarmi tadi?” Kang Madari kembali bertanya kepada orang-orang yang menyaksikan.

Mendengar jawaban dan pertanyaan Kang Madari, orang-orang membisu semua, hanya bisa menggelengkan kepala. Kang Madari melanjutkan omongannya, “Makanya, kalau mendengar informasi itu jangan langsung ditelan mentah-mentah. Disaring, dipahami dulu informasinya. Jangan terburu-buru, gegabah menangkap suatu informasi.”

Baca Juga  [Humor] Dukun PNS

Orang-orang yang menyaksikan pada membubarkan diri, meninggalkan halaman Masjid. Pulang ke rumah masing-masing. Terlihat Pak Kyai Mahmud cuma bisa mengernyitkan dahi. Lantas ikut membubarkan diri. Sedangkan Kang Madari cekikikan dengan puasnya. [AA]

Muhammad Azam Multazam

Artikel Terkait