Nasaruddin Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya; Founder www.lisanarabi.net; Kontributor Tetap Laman Pembelajaran Bahasa Arab di aljazeera.net

Kisah Pengamen dan Anjuran untuk Bersikap Optimis

2 min read

Source: HiMedik.com

Lampu menyalah merah. Saya behenti di belakang tiga mobil. Seorang lelaki muncul dari bawah rindang pohon di pinggir jalan. Dengan gitar kecilnya, ia melawan terik siang itu dan menghampiri satu persatu mobil yang berhenti lantas bernyanyi di samping pengemudi.

Pengendara mobil pertama tidak merespon. Pengendara mobil kedua juga tidak menurunkan kacanya. Pengendara mobil ketiga juga tidak bergeming, tidak mengulurkan apa pun. Saya mengamati dengan perasaan iba, lalu menyiapkan uang dan berharap dia segara menghampiri mobil saya. Jari telunjuk saya letakkan di tombol jendela, siap menurunkan kaca dan mengulurkan uang tanpa menunggu ia bernyanyi.

Sayang, ia tidak menghampiri mobil saya. Ia justru berbalik, memotong ruas jalan sebelah, dan bergegas kembali ke bawah rindang pohon dari mana tadi ia muncul, padahal saat itu lampu masih menyala merah. Saya pun menaruh kembali uang yang tadi saya siapkan. Ada terbersit perasaan kecewa.

Ya, saya kecewa. Andai dia menghampiri saya, ia tidak hanya menyempurnakan ikhtiarnya, tapi juga memberi kesempatan kepada saya seperti kepada tiga pengendara di depan. Tapi ia tidak melakukannya. Ia tidak mendapatkan sesuatu, dan saya urung melakukan sesuatu. Itulah yang membuat saya kecewa.

Saya terus mengingat apa yang saya saksikan siang itu sebagai pelajaran berharga tentang optimisme dan pesimisme. Saya tentu tidak tahu  kenapa lelaki itu tidak menghampiri saya. Mungkin saja dia punya semacam rumus atau teori dalam mengamen: kalau tiga mobil pertama tidak membuka kacanya, mobil-mobil selanjutnya juga akan seperti itu.

Tapi, dari mana dia bisa menyimpulkan seperti itu? Dan bagaimana pula ia bisa begitu meyakininya?

Bagi saya, bisa jadi apa yang dipikirkannya saat itu adalah sebentuk pesimisme. Semacam mental-blocking yang cenderung membuat orang berpikir negatif dan menghalangi diri sendiri untuk  berusaha atau berikhtiar secara maksimal. Pikiran seperti ini hampir ada dalam benak setiap orang, dan acap kali menjadi penghalang utama keberhasilan.

Baca Juga  Kisah Cinta Sufi (4): Khusrau dan Syirin - Kerinduan Memang Teramat Menyakitkan

Seorang lelaki terancam akan selamanya “menjomblo” kalau setiap kali menaksir perempuan ia punya pikiran cintanya akan ditolak. Seorang calon penulis akan tetap menjadi calon penulis kalau setiap akan menulis ia punya pikiran tulisannya jelek dan tidak membuat siapa pun tertarik untuk membacanya. Seorang petani tidak akan pernah menanam kalau punya pikiran “tandurannya” tidak akan berhasil panen. Begitulah, pesimisme akan menghalangi dan memukul mundur siapa pun yang hendak berusaha.

Pesimisme adalah cara berpikir negatif, bahkan bisa disebut proses berpikir yang “salah kamar”. Kenapa? Karena hasil dari tiap usaha dan ikhtiar sesungguhnya bukanlah domain manusia. Bagian manusia hanyalah berusaha dan berikhtiar, hasilnya Allah yang menentukan. Ketika manusia sudah berpikir tentang hasil dan bahkan meyakininya, berarti ia sudah memasuki yang bukan wilayahnya.

Sebaliknya, optimisme adalah sikap mental positif yang akan membawa kepada kebaikan serta mengatasi semua logika dan pikiran pesimistik. Tak terhitung cerita inspiratif tentang kehidupan yang menyiratkan pesan bahwa berpikir dan bersikap optimis adalah energi positif maha dahsyat yang mampu menuntun orang kepada pencapaian-pencapaian besar.

Sejarah mengabadikan beberapa contoh tentang itu. Karena berpikir optimis, Nabi Ya’kub terus mendorong anak-anaknya untuk mencari saudara mereka Yusuf, padahal sudah puluhan tahun menghilang.  Karena berpikir optimis pula, Bunda Hajar berlari bolak-balik antara bukit Safa dan Marwa untuk mencari air, padahal jelas-jelas daerah itu tandus dan gersang.  Dan juga karena berpikir optimis, Nabi Zakaria terus berdoa minta diberikan keturunan, padahal usianya sudah tua dan istrinya mandul.

Andai berpikir pesimis, Nabi Yakub akan meyakini putranya Yusuf sudah meninggal, dan tidak akan berusaha mencarinya. Andai juga berpikir pesimis, Bunda Hajar akan berpikir bahwa tidak mungkin menemukan air di bumi yang tandus, lalu beliau tidak akan berlari bolak-balik antara Safa dan Marwa, hingga akhirnya tidak menemukan Zam-Zam. Dan andai juga berpikir pesimis, Nabi Zakaria akan berpikir bahwa karena usia tuanya dan kemandulan istrinya ia tidak akan memiliki anak, dan karenanya tidak akan berdoa dan berusaha agar diberi keturunan.

Baca Juga  Ujian Yang Membuat Nabi Adam Memohon Ampun

Keagungan sikap optimisme adalah karena dengannya seorang hamba terjaga imannya, bahwa Allah Maha segalanya. Sementara keburukan  pesimisme adalah karena dengannya seorang hamba  lupa bahwa Allah Maha Segalanya. Oleh karena itu, Nabi Ibrahim menegaskan bahwa hanya orang-orang sesat yang punya sikap mental pesimistik dan putus asa (Al-Hijr: 56). Nabi Ya’kub juga demikian, Ia mengingatkan anak-anaknya bahwa pesimis dan putus asa ihanyalah sikap mental orang-orang kafir (Yusuf: 87).

Semoga laki-laki pengamen tadi menepi dan tidak menghampiri saya bukan karena ia pesimis atau putus asa. Aamiin.

Wallahu A’lam.

[HM]

Nasaruddin Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya; Founder www.lisanarabi.net; Kontributor Tetap Laman Pembelajaran Bahasa Arab di aljazeera.net