Moh. Mufid Dosen Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Alumnus Universitas al-Ahgaff Yaman, Penulis Buku Islam Teduh: Menyelami Nasihat Spiritual M. Said Ramadhan al-Buthi

M. Said Ramadhan al-Būtī: Sejenak Bersama Rasulullah

2 min read

Dalam perang Hunain, pasukan kaum muslim berhasil meraih kemenangan gemilang. Meskipun di awal perang, pasukan yang dipimpin langsung oleh Rasulullah itu sempat kocar-kacir, sebab serangan mendadak dari pihak musuh. Beruntungnya Rasulullah dengan sigap mengambil kendali dan dengan gagah pemberani memimpin peperangan dengan penuh heroik.

Kemenangan umat Islam ini berdampak pada hasil harta rampasan yang cukup banyak. Dan, saat itu Rasulullah pun membagi-bagikannya dengan memprioritaskan kepada para mualaf dari Mekkah sehingga sahabat Anshar sedikit kecewa dengan kebijkan Nabi tersebut.

Sebagian kalangan Anshar menyindir kebijakan Nabi dengan ungkapan begini: “Semoga Allah mengampuni Rasulullah. Rasulullah telah memberikan banyak bagian kepada kaum Quraisy dan membiarkan kami dengan pedang-pedang kami bercucuran darah mereka.”

Desas-desus berita ketidakpuasan pembagian harta rampasan itu terdengar ke telinga Rasulullah saw. Beliau pun kemudian mengundang para kaum Anshar di suatu lembah. Dalam moment tersebut Rasulullah mengungkapkan perasaan terdalamnya. Ungkapan ini yang menjadikan kaum Anshar makin cinta kepada Rasulullah.

Rasulullah mengawali orasinya dengan memuji Allah. Kemudian beliau berkata demikian:

“Wahai kaum Anshar! Kabar ketidakpuasan kalian sudah sampai padaku. Apa maksud kalian itu? Bukankah aku datang kepada kalian sementara kalian dalam keadaan tersesat kemudian Allah memberi hidayah lewat diriku. Dulu kalian terpecah-belah kemudian Allah persatukan kalian lewat diriku. Dulu kalian miskin dan Allah membuat kalian menjadi kaya melalui diriku?”

Setiap ucapan Rasulullah yang bergetar itu, para kaum Anshar selalu menimpali:”Benar wahai Rasulullah, karena Allah dan Rasul-Nya segala anugerah dan keutamaan.”

Rasulullah tidak puas dengan jawaban para sahabat Anshar. Kemudian Rasulpun bertanya:”Kenapa tidak kalian jawab jujur, wahai kaum Anshar?”

“Jawaban apalagi wahai Rasulullah, sungguh bagi Allah dan Rasul-Nya segala anugerah dan keutamaan” jawab kaum Anshar.

Baca Juga  Cinta yang Terkadang Membutakan

“Demi Allah, andai kalian tega, niscaya kalian bisa katakan demikian untuk membela diri kalian: engkau datang kepada kami saat didustakan lalu kami mempercayaimu, engkau dihinakan lalu kami menolongmu, engkau diusir lalu kami menolongmu, saat engkau papa, kamilah yang mencukupimu. Katakan demikian, wahai kaum Anshar!”

“Tidak wahai Rasulullah,”

Rasulullah pun melanjutkan pernyataannya:” Wahai kaum Anshar! Apakah diri kalian sudah tergoda dengan harta dunia, sehingga kalian keberatan ketika aku menggunakan harta rampasan untuk melembutkan hati sekelompok golongan agar mereka mantap memeluk Islam, sementara aku sudah percaya dengan keteguhan Islam kalian.”

“Wahai kaum Anshar! Tidakkah kalian rela jika mereka pergi dengan membawa domba dan onta, sementara kalian pulang bersama Rasul kalian? Demi Allah, sungguh apa yang kalian peroleh itu jauh lebih berharga dari apa yang mereka dapatkan.”

“Demi Zat yang Muhamnad berada di tangan-Nya. Jika bukan karena hijrah, niscaya aku bukan menjadi bagian kaum Anshar. Sungguh, jika sekiranya orang-orang menempuh jalan suatu lembah dan kaum Anshar menempuh jalan lembah lain, niscaya aku menempuh jalan kaum Anshar.”

“Sesungguhnya, kalian akan menjadi terasing setelah sepeninggalku kelak, maka bersabarlah hingga kalian bertemu denganku di telaga Haudh. Duhai Allah, berikan kasih sayang kepada kaum Anshar, anak dan cucu keturunan Anshar.”

Mendengar uncapan Rasulullah tersebut, seluruh kaum Anshar yang hadir nenangis hingga air mata mereka membasahi jenggot lebat mereka. Seluruh kaum Ansharpun berkata:”Kami rela atas pembagian dan pemberian Allah dan Rasulnya”.

Kisah ini direkam oleh Al-Bukhari dan Muslim dalam kitab hadisnya. Demikian halnya, dikutip oleh Ibn Ishaq dan Ibn Sa’ad dalam kitab tārīkh-nya dengan beragam redaksi. Peristiwa ini benar-benar menyentuh sekaligus menunjukkan sikap lembutnya dan cintanya Nabi kepada kaum Anshar.

Baca Juga  Sarung Sang Guru

Kelembutan, kepekaan, dan kasih sayang Rasulullah itu begitu dalam dan menyentuh perasaan kaum Anshar. Tidak heran jika membuat perasaan mereka bergetar dan selanjutnya suara tangis mereka meledak. Tangis kebahagian dan haru yang mereka rasakan sekaligus.

Sepenggal kisah di atas, dapat dipetik pelajaran berharga bahwa cinta kepada Rasulullah itu butuh pengorbanan. Bahkan, jika perlu harta benda pun dipertaruhkan. Cinta bukan sekadar kata-kata. Tapi, cinta butuh pembuktian dan pengorbanan. Termasuk sikap menerima keputusan apapun dari orang yang dicintainya.

Al-Būtī selalu menangis saat menceritakan kisah ini. Bahkan, al-Būtī berharap kita semua mengenang peristiwa ini agar memahami makna cinta, kelembutan dan pengorbanan. Dalam pepatah Arab dikatakan: Inna al-muhibba liman yuhibbu muthī’u [Sungguh seoarang pencinta sejati akan selalu taat kepada orang yang dicintainya].

Editor: MZ

Moh. Mufid Dosen Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Alumnus Universitas al-Ahgaff Yaman, Penulis Buku Islam Teduh: Menyelami Nasihat Spiritual M. Said Ramadhan al-Buthi