Fenomena Hijrah dan Cara Belajar Agama Agar Tidak Salah Arah

Sekarang ini, hampir setiap membuka media sosial, pasti ada saja konten agama yang muncul. Ada yang berupa cuplikan ceramah, ada juga yang hanya potongan kalimat. Banyak orang langsung merasa sudah paham hanya dari video yang durasinya bahkan kurang dari satu menit.

Dari situ fenomena hijrah makin ramai, karena banyak yang merasa tersentuh dan ingin berubah setelah melihat konten-konten seperti itu. Niatnya sebenarnya baik, hanya saja prosesnya terlalu cepat dan tidak benar-benar dipahami.

Kalau diperhatikan, banyak orang mulai hijrah karena merasa tersentuh dari video-video seperti itu. Ada yang merasa, “Aku kayaknya harus berubah mulai sekarang.” Ada yang langsung hapus foto-fotonya, ada yang mengganti cara berpakaian, ada yang tiba-tiba mulai menegur temannya.

Perubahan ini tidak salah, tetapi sering kali terlalu tergesa-gesa. Orang merasa harus cepat berubah supaya tidak terlihat salah di mata orang lain. Padahal belajar agama tidak sesederhana menonton satu atau dua video yang viral.

Perbedaan antara belajar dari media sosial dan belajar dari kitab kuning sangat terasa. Kitab kuning itu bukan sesuatu yang sederhana, tulisan ‘Arab gundulnya’ saja sudah membuat orang harus berpikir. Satu kalimat bisa punya penjelasan panjang, bahkan bisa muncul beberapa pendapat yang berbeda.

Dari situ orang belajar bahwa agama itu tidak selalu satu arah dan tidak semuanya bisa disimpulkan dalam satu kalimat “pokoknya harus begini”.

Sementara itu, konten media sosial dibuat sesingkat mungkin supaya menarik. Penjelasan yang harusnya panjang sering dipotong, sehingga terlihat sederhana. Banyak yang tidak sadar bahwa kalimat yang ditampilkan itu hanya cuplikan dari penjelasan yang jauh lebih luas.

Namun, karena yang dilihat cuma potongannya, orang merasa sudah cukup. Bahkan ada yang baru menonton beberapa video langsung berkata, “Ini pasti salah.” Cara berpikir seperti itu yang membuat orang jadi mudah menghakimi, karena informasi yang mereka terima memang sedikit.

Fenomena hijrah sebenarnya bisa membawa hal baik. Banyak orang jadi ingin memperbaiki diri. Ada yang mulai shalat tepat waktu dan mengurangi kebiasaan buruk. Itu hal bagus dan perlu diapresiasi.

Sayangnya, ada yang baru mulai hijrah beberapa hari, tapi sudah berani menegur orang lain seakan-akan dirinya sudah begitu paham persoalan agama. Bahkan ada yang mengatakan, “Kamu kok masih begitu sih?” padahal dirinya sendiri juga masih belajar.

Situasi seperti ini muncul karena dorongan untuk terlihat benar lebih besar daripada proses belajar yang tenang.

Jika melihat orang yang belajar lebih pelan dan teratur, biasanya mereka lebih hati-hati berbicara. Mereka paham bahwa tidak semua hal bisa dijelaskan hanya dengan satu kalimat.

Mereka tahu kalau ada bagian yang perlu lebih dijelaskan, ada perbedaan pendapat, dan ada ulama yang pandangannya bisa berbeda satu sama lain. Dari situ muncul sikap yang tidak gampang menilai orang lain. Mereka sadar bahwa belajar agama tidak bisa tergesa-gesa.

Belajar agama lewat media sosial sebenarnya tidak masalah, selama tidak dijadikan tempat belajar utama. Video pendek bisa membuat seseorang tertarik, tapi setelah itu memang perlu cari penjelasan yang lebih lengkap. Kalau ada hal yang membingungkan, akan lebih baik mencari penjelasan dari guru, buku, atau tempat belajar yang jelas sumbernya.

Dengan begitu, pemahaman yang didapat tidak setengah-setengah. Tidak ada cara instan untuk memahami sesuatu yang besar.

Pada akhirnya, tren hijrah bisa jadi hal baik kalau dijalani dengan tenang. Tidak perlu ikut-ikutan hanya karena yang lain terlihat berubah cepat. Tidak perlu merasa salah kalau tidak langsung bisa mengikuti semuanya.

Perubahan pelan tapi konsisten biasanya lebih bertahan lama dibandingkan dengan perubahan yang dilakukan tergesa-gesa. Yang penting bukan soal cepat atau lambatnya, tetapi bagaimana seseorang menjalani prosesnya supaya tidak menyesatkan diri sendiri atau menyakiti orang lain.

Kalau hijrah dilakukan dengan cara seperti itu, tidak hanya jadi tren viral, tapi bisa jadi perjalanan yang benar-benar membawa kebaikan. [AA]

10

Mahasiswa Psikologi, UIN Sunan Ampel, Surabaya

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.