Nur Hasan Alumnus Islamic Studies, International University of Africa, Sudan. Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Lembaga Pendidikan Islam Pada Zaman Klasik

2 min read

Perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat pada zaman klasik (Dinasti Umayyah-Abbasiyah) tidak bisa terlepas dari peranan lembaga pendidikan yang ada pada waktu itu. Karena, ia merupakan tempat atau media bagi proses belajar mengajar dan transmisi keilmuan yang mampu melahirkan banyak cendikiawan Muslim. Di antara lembaga pendidikan yang mempunyai peran besar pada zaman Islam klasik adalah Maktabah, Kuttab, Halaqah, Observatorium, Rumah Sakit, Klinik, Darul Hikmah, Darul Ilmi, dan Madrasah.

Maktabah atau perpustakaan mempunyai peran penting dalam mengembangkan ilmu pengetahuan pada masa itu. Di kota-kota yang menjadi pusat peradaban Islam, seperti Baghdad, Cordoba, Masyhad, Kairo, terdapat berbagai maktabah yang selalu penuh dikunjungi para ilmuwan, baik untuk membaca, diskusi dan lain sebagainya. Perpustakaan-perpustakaan tersebut kemudian juga menjadi cikal bakal berdirinya universitas-universitas Islam.

Sedangkan Kuttab adalah lembaga pendidikan tingkat dasar yang sudah ada sejak Nabi saw. sebagaimana dijelaskan oleh Hasan Asari dalam bukunya Menyingkap Zaman Keislaman, Kajian Atas Lembaga-Lembaga Pendidikan. Kuttab biasanya bertempat di rumah seorang guru atau di istana untuk keluarga istana, Di tempat ini biasanya diajarkan baca tulis Alquran, ilmu agama, seni pidato, etika dan estetika, serta sejarah dan tradisi. Sejak abad ke-8 M. di sini juga diajarkan ilmu pengetahuan umum seperti ilmu sosial dan budaya sebagai persiapan untuk memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Kemudian ada Halaqah yang merupakan lembaga pendidikan tingkat lanjutan. Yaitu setingkat College, dengan seorang guru duduk dikelilingi oleh para murid. Model seperti ini biasanya banyak diselenggarakan di masjid-masjid dimana didalamnya dikaji ilmu-ilmu agama secara umum pada tingkat tinggi. Halaqoh ini ada yang sifatnya terbuka untuk umum dan ada juga yang sifatnya dikhususkan untuk jemaah-jemaah tertentu saja. Disiplin keilmuan yang diajarkan biasanya meliputi ilmu keislaman, yaitu hadis, tafsir, fikih, ushul fikih, sharaf, dan sastra Arab. Sedangkan ilmu-ilmu selain itu, hanya sedikit diajarkan.

Baca Juga  Tadarus Litapdimas [11]: Ratu Kalinyamat, Perempuan Tangguh Penguasa Pesisir Utara Jawa

Menurut Mehdi Nakosten, dalam bukunya The History of Islamic Origins of Western Education A. D. 800-1350; with an Intruction to Medieval Muslim Education. Dijelaskan bahwa pada masa Dinasti Abbasiyyah, setidaknya ada 3000 lebih masjid yang menyelenggarakan kajian dalam bentuk Halaqah. Pada abad ke-14 M. tercatat ada 12.000 masjid di Alexandria yang menjadi pusat transmisi ilmu pengetahuan dari masa ke masa. Begitu juga di masjid Al-Mansyur (Baghdad) yang mempunyai 40 Halaqah.  Selain itu masjid Al-Haramain, Masjid Al-Azhar, Al-Hamra dan berbagai masjid lainnya juga yang mempunyai peranan besar dalam kemajuan ilmu pengetahuan.

Sedangkan, Observatorium sebagai lembaga pusat pengembangan ilmu alam, khususnya astronomi juga mempunyai peranan penting dalam kemajuan ilmu pengetahuan di masa kejayaan Islam. Pada masa Dinasti Abbasiyah, Khalifah Al-Makmun (memimpin sejak 813-833 M.) menempatkan Al-Khawarizmi sebagai peneliti khusus yang bertugas menyusun kalender di Observatorium di Baitul Hikmah. Selain itu, para ilmuwan lain seperti Ibnu Sina tercatat melakukan kegiatannnya penelitiannya disana.

Diantara Observatorium yang terkenal pada tahun 1261 M. adalah Observatorium Maraghah Persia yang menyimpan berbagai peralatan seperti armillary spheres, solistial armilla, equinoctial armilla, dan azimuth rings. Peralatan tersebut mempunyai fungsi penting dalam pemetaan benda-benda langit. Selain itu, Observatorium tersebut juga dilengkapi dengan perpustakaan dengan koleksi buku yang kurang lebih berjumlah 400.000.

Adapun Rumah Sakit dan Klinik yang biasanya menjadi tempat untuk merawat dan menyembuhkan orang sakit, juga berfungsi sebagai pengembangan ilmu pengetahuan khususnya di bidang kedokteran. Di lembaga ini, para mahasiswa harus menguasai ilmu kedokteran, mulai dari karya Hipocrates, Hunain bin Ishaq, Aphorism, Al-Razi, Ibnu Sina dan lain sebagainya. Selain itu, mahasiswa juga dituntut untuk menguasai ilmu keagamaan sehingga selain menjadi dokter, mereka mampu mengikuti kajian-kajian keagamaan dan ilmu kealaman di pusat-pusat kajian.

Baca Juga  [Puisi] Panen Air Mata

Sedangkan Darul Hikmah dan Darul Ilmi adalah lembaga kajian filsafat dan sains Yunani yang awalnya merupakan lembaga yang difungsikan sebagai pusat penerjemahan karya-karya filsuf Yunani. Dari lembaga ini para ilmuwan besar seperti Al-Khawarizmi, dan lainnnya.

Namun, pada masa pada masa kekuasaan Bani Saljuk kedua lembaga ini mengalami nasib yang tragis. Satu persatu mati. Di Baghdad, Darul Hikmah kemudian digantikan dengan Madrasah Nidzamiyah. Sedangkan di Mesir, Darul Ilmi digantikan dengan Madrasah Al-Ayyubiyah dan juga Madrasah Syafi’iyyah.

Madrasah sebagai lembaga pendidikan baru dikenal pada masa Dinasti Saljuk–menggantikan Dinasti Buwaihi. Pada masa ini, madrasah didirikan secara besar-besaran dan madrasah pertama bernama Madrasah Al-Baihaqiyah yang didirikan oleh penduduk Naisabur. Pada masa iDinasti Saljuk pula para khalifah, wazir, sultan dan orang kaya berlomba untuk mendirikan madrasah.

Awalnya, madrasah biasanya dibangun untuk kepentingan mazhab fikih tertentu, terutama dalam rangka melawan pengaruh Syiah. Kajian ilmu agama yang ditekankan adalah bidang fikih, hadis, tafsir. Sedangkan ilmu umum tidak mendapatkan porsi yang banyak. Namun, pada masa al-Mustanshir (1226-1242 M.) ilmu umum mulai diajarkan di dalamnya, dengan mengangkat dokter ahli untuk mengajar mahasiswa yang ada di Madrasah Al-Mustanshiriyyah.

Beberapa lembaga pendidikan di atas, mempunyai peranan penting dalam proses perkembangan ilmu pengetahuan dan transmisi keilmuan dalam masa Islam klasik. Melalui lembaga tersebut, ilmu pengetahuan Islam mengalami kemajuan yang sangat pesat dan mampu membangun sebuah peradaban yang disegani oleh dunia.

Namun karena faktor kekuasaan, politik, kepentingan mazhab dan kepentingan kelompok, tidak jarang lembaga-lembaga tersebut menjadi korban. Yang kemudian membatasi ilmu-ilmu yang diajarkan, karena tidak sesuai dengan kepentingan yang diinginkan. Hal-hal seperti inilah yang seharusnya tidak boleh terjadi, karena berdampak mambawa sebuah kemunduran. Oleh karena itulah dalam membangun sebuah peradaban, seharusnya tidak ada dikotomi terhadap ilmu-ilmu yang harus dipelajari. [AA]

Nur Hasan Alumnus Islamic Studies, International University of Africa, Sudan. Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.