Nurul Hidayati Amanah Penikmat sastra; Alumnus IAIN Kediri 2020

[Cerpen] Kamboja Tanpa Tangkai [2]: Pesan tentang Keputusan

2 min read

Bahkan, tak sedikit peziarah menatapnya curiga. Suatu ketika, di bawah gelayutan mendung yang hampir basah, saat ia sedang memunguti kamboja-kamboja itu datang seorang gadis kepadanya untuk bertanya untuk apa kamboja tanpa tangkai itu. Kali ini, dengan pertanyaan polos, tapi terkesan menyudutkan. Menyudutkan Pakne sebagai manusia yang katanya kurang benar dalam berusaha memperoleh rezeki.

“Mbah, pasti mbah nyari kamboja yang bunganya berjumlah empat atau enam ya”, gadis itu berkata sambil sedikit membungkuk, agar lebih dekat dengan Pakne yang sedang memunguti kamboja-kamboja itu.

“Ya ndak to ndhuk, semua kamboja yang masih bagus tak ambil, kalau bunganya putih bersih, kuningnya juga masih jelas. Memangnya untuk apa kamboja yang bunganya empat atau enam itu?” Pakne menimpali, kali ini menghentikan aktivitasnya memunguti kamboja-kamboja itu.

“Jadi begini mbah, kata orang-orang kalau menemukan kamboja yang jumlah bunganya empat atau enam itu bisa mendapatkan rezeki yang berlimpah. Mbah kan sudah tua, saya pikir sudah agak lemah kalau untuk bekerja, ya barangkali Mbah memunguti kamboja-kamboja untuk itu” Si gadis kembali berbicara panjang, kali ini ia menyadur sedikit mitos yang berkaitan dengan bunga kamboja.

Memang, banyak sekali mitos yang beredar mengenai bunga kamboja dan letaknya yang identik dengan area pemakaman, bahkan ada yang meyakini bahwa kamboja adalah bunga penjelmaan seorang gadis yang ditinggal mati oleh kekasihnya, sehingga ia menungguinya di makam, dan jadilah ia bunga cantik nan semerbak.

Keyakinan itu tumbuh subur menyebar dari mulut ke mulut, sehingga berkembanglah mitos baru, tidak ada orang yang berani menanam kamboja di pekarangan rumahnya, karena diyakini bisa mengundang roh. Haish, begitulah. Mitos demi mitos memang kerapkali berkembang cepat, menghubungkan satu hal dengan hal lain dengan ilmu cocokologi.

Baca Juga  Kopiah: Simbol Religiositas Masyarakat Jawa?

“Oalah Ndhuk, ya tidak begitu. Mengambil kamboja-kamboja ini ya memang pekerjaan Mbah”, Pakne berkata dengan santainya, ia menganggap apa yang diucapkan gadis kecil tadi tak ada apa-apanya dengan semua rintangan hidup yang sudah dilaluinya. Ya, tidak ada apa-apanya.

“Iya untuk apa Mbah?” Gadis itu semakin penasaran, karena hal semacam ini baru ditemuinya sekarang. Maklum, dia adalah seorang anak dari warga desa yang ikut berpindah orang tuanya ke kota, untuk kehidupan yang lebih baik, katanya. Dan ini adalah kali pertama ia pulang ke kampung halaman, sehingga tidak tahu persis dinamika kehidupan di desa orang tuanya sendiri.

“Ya aku tidak tahu persisnya Ndhuk, kamboja-kamboja ini besuk bakal dijemur istriku, kalau sudah benar-benar kering nanti bakal di ambil sama tukang kamboja, di jual kiloan” Pakne menjawab pertanyaan gadis tadi, tapi masih menyisakan tanda tanya lagi. Seolah pertanyaan “untuk apa” kamboja kering itu adalah pertanyaan yang tak berujung.

Memang, selama ini para pemungut kamboja tidak faham betul untuk apa. Mereka hanya tahu harga kamboja-kamboja kering itu, selebihnya mereka acuh. Bahkan pernah suatu ketika, seorang warga memberikan informasi bahwa kamboja-kamboja itu digunakan untuk teh. Para pengumpul kamboja tanpa tangkai itu membantah, mana ada, wong untuk teh ada daunnya sendiri, atau kalau yang biasanya dibuat campuran ya melati, kata mereka.

Hari ini matahari tidak begitu terik. Wajar saja, musim penghujan memang kerapkali meresahkan warga desa. Terlebih, bagi mereka yang bergantung pada terik tidaknya matahari untuk mengeringkan kamboja-kamboja sebagai sumber penghidupannya itu.

Pakne mondar-mandir keluar masuk rumah, bingung antara berangkat mengumpulkan kamboja atau tidak. Jika ia berangkat mengumpulkan kamboja, maka kamboja basah miliknya akan bertambah banyak, jika esok matahari tak terik lagi, ia khawatir bunga-bunga itu akan busuk.

Baca Juga  Mengapa Ada Tradisi Ketupat di Malam Nisfu Sya’ban?

Sebaliknya, jika ia tidak berangkan memungut kamboja-kamboja hari ini artinya ia akan mengurangi jatah penghasilan satu hari. Ia berpikir matematis, seolah-olah rezeki dari Tuhan akan seperti yang ia perkirakan. Padahal, pada kenyataannya Tuhan memberi dari banyak jalan, bahkan dari hal yang tidak pernah disangka-sangka.

Sampeyan dari tadi kok mondar-mandir saja, sudah kayak waktu lewat rumahku jaman aku masih gadis”, Mbokne bermaksud bercanda, tanpa tahu apa yang sedang sang suami pikirkan.

Mbok ya diam dulu, aku lagi mikir ini”, ia menimpali pendek, mengacuhkan istrinya yang bermaksud bercanda itu.

Halah, dari dulu kamu memang seperti itu. Selalu terlalu banyak berpikir. Kalau mau apa-apa ndak langsung ceket. Ndak usah sok bingung begitu, paling-paling sampeyan mikir hari ini enaknya berangkat nyari kamboja apa ndak gitu to?” ia menebak pikiran suaminya.

“Kalau aku jadi sampeyan ya bakal mudah saja, kalau capek ya ndak akan berangkat. Kalau ndak capek ya berangkat. Begitu saja kok diambil pusing” ia melanjutkan perkataannya lagi. Kali ini tanpa memandang si lawan bicara.

“Dari dulu Mbokne memang selalu begitu, selalu santai dalam mengambil keputusan” Pakne berbicara dengan dirinya sendiri juga sedang mengagumi istrinya yang sudah membersamainya dalam beberapa dekade itu.

-Bersambung-

Nurul Hidayati Amanah
Nurul Hidayati Amanah Penikmat sastra; Alumnus IAIN Kediri 2020