Nor Ismah kandidat Ph.D bidang Gender dan Studi Asia Tenggara, Leiden University, Institute for Area Studies, Belanda

Narasi Media Sosial untuk Kampanye Anti Kekerasan terhadap Perempuan

3 min read

Sebelum membincang soal kampanye anti kekerasan terhadap perempuan, saya akan sedikit bercerita tentang “Humans of New York” (HNY), sebuah platform media sosial (Halaman Facebook) yang diprakarsai oleh seorang fotografer bernama Brandon Stanton. Sejak November 2010, melalui HNY ini Stanton telah mendedikasikan diri untuk memotret kehidupan orang-orang di sepanjang jalanan kota New York.

Ia menampilkan foto-foto dan kisah hidup mereka. Proyek ini akhirnya berkembang pesat. Bahkan, di halaman Facebook HNY, foto-foto yang diunggah  telah mendapatkan 8 juta like, sedangkan akun Instagramnya sekarang telah diikuti diikuti oleh 9.3 juta follower dengan 4.938 unggahan.

HNY menyajikan cerita-cerita para informannya dengan cukup menarik. Meskipun singkat, ia menyajikan alur, kadang konflik dan ending, dan pesan yang jelas. Ia meminjam teknik penulisan feature yang ditulis dengan tujuan untuk menyentuh kepentingan manusia, namun singkat dan padat.

Misalnya, dalam sebuah unggahan pada tanggal 28 Juli 2019 lalu, HNY menampilkan foto seseorang yang menunjukkan telapak tangannya ke kamera dengan wajah tersenyum. Foto ini bercerita tentang seseorang yang tangannya selalu basah dan apa yang dia lakukan sebagai asisten direktur sekolah menengah menghadapi anak-anak laki-laki kelas 8 yang bandel.

Meskipun tangannya selalu basah, namun ia tetap merasa bahagia. Jika ada orang yang ingin membasahi ujung jarinya terlebih dulu untuk membuka kantong plastik, ia dengan senang hati akan memberikan bantuan (HNY, 29 Juli 2019). Foto ini pun mendapatkan banyak sekali respon dari pengguna Facebook, sebanyak 12.477 komentar.

Menggunakan Kekuatan Stori dan Isu

HNY adalah salah satu contoh bahwa sebuah platform dapat digunakan sebagai media untuk mengangkat subjek-subjek dan cerita-cerita yang tak terdengar agar muncul ke publik. Meski HNY menampilkan “cerita tentang seseorang”, namun ia tidak menonjolkan “siapa” dan segala embel-embel yang melekat sebagai fokus pesannya. Ia lebih menitikberatkan pada cerita itu sendiri (stori) dan “isu” yang disuarakan.

Baca Juga  Refleksi 75 Tahun Kemerdekaan: Ingkar Janji Kemerdekaan terhadap Perempuan

Dua muatan ini kemudian dipertajam dengan tampilan foto, tanpa teks atau narasi tambahan lainnya di dalam foto tersebut. Jadi, HNY sejatinya menggunakan kekuatan cerita, bukan gambar, untuk menarik perhatian pembacanya.

Penonjolan pesan pada aspek “stori” dan “isu” dalam sebuah platform bisa menjadi satu bentuk perlawanan terhadap media mainstream yang cenderung menonjolkan aspek “siapa”-nya. Ketika identifikasi “siapa” ini mengerucut pada jenis kelamin, mereka cenderung seksis dan membakukan stereotip. Hasilnya, laki-laki biasanya lebih banyak mendapatkan ruang untuk berbicara dan didengarkan pendapatnya karena ia dipandang lebih berwawasan, menguasai isu, dan mudah ditemui kapan saja.

Sebuah riset yang dilakukan oleh Tempo Institute dan PDAT menunjukkan bahwa hanya 11 persen dari 22.900 atau sejumlah 2.525 perempuan dijadikan sebagai narasumber di media di Indonesia.

Media tersebut meliputi Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Republika, Bisnis Indonesia, The Jakarta Post, Jawa Pos, Tempo.co, Kompas.com, dan Detik.com. Pengamatan ini dilakukan terhadap berita-berita selain rubrik hiburan mulai 6 Agustus hingga 6 September 2018 (Wardhani 2018).

Pengalaman Perempuan sebagai Sumber Pengetahuan

Menampilkan narasi tentang pengalaman hidup, terutama tentang perempuan, biasanya dianggap sebagai “picisan” dan tidak cukup sah dijadikan sebagai rujukan. Sejarah panjang perkembangan ilmu pengetahuan memang bias laki-laki. Yang berlaku adalah bahwa pengalaman laki-laki bersifat universal, mencakup pengalaman perempuan.

Pandangan ini tentu saja mengecualikan keunikan pengalaman perempuan. Validitas sebuah penelitian atau pengetahuan diukur melalui angka-angka dan sejauh mana bisa melakukan generalisasi. Namun, sejak gelombang kedua gerakan feminisme pada tahun 1960-an, feminis mulai melakukan kritik atas penelitian-penelitian tersebut. Mereka mulai memposisikan isu-isu, pengalaman, dan concern perempuan sebagai fokus dalam kerja-kerja penelitian mereka (Hesse-Biber, et all. 2004).

Baca Juga  Khadijah memang Luar Biasa, tapi Tak Usah Meremehkan Aisyah

Sekarang, banyak tulisan dan penelitian mulai memposisikan pengalaman perempuan sebagai sumber ilmu pengetahuan, misalnya, melalui pendekatan antropologi dan etnografi. Kongres Ulama Perempuan Indonesia atau KUPI yang diselenggarakan pada April 2017 di Cirebon, misalnya, telah memasukkan pengalaman perempuan sebagai pertimbangan penting dalam menentukan kemaslahatan dari tiga fatwa yang mereka keluarkan.

Fatwa tersebut meliputi: pertama, tentang hukum mencegah pernikahan anak yang mendatangkan kemudharatan; kedua, hukum kekerasan seksual; dan ketiga, hukum melakukan perusakan alam atas nama pembangunan.

Metode yang diterapkan oleh KUPI ini terbilang progresif mengingat praktik perumusan fatwa di Indonesia selama ini mengabaikan pengalaman perempuan, padahal persoalan-persoalan yang dibicarakan berkaitan dengan kehidupan perempuan. Misalnya, fatwa tentang sunat perempuan dan poligami.

Kaitannya dengan NHY, model penyajian narasi yang dilakukan oleh HNY, menurut saya, sangat grounded (mendasar), berangkat dari bermacam konteks dan keunikan yang terjadi di dalam realitas, dan menghargai sesederhana apa pun pengalaman para informan dan diposisikan sebagai sumber terpercaya (expert).

Pengalaman-pengalaman itu secara eksplisit menunjukkan bahwa pengalaman satu informan (baca: perempuan) tidak dapat mewakili pengalaman (perempuan) yang lain, atau menggeneralisasi satu mengaburkan yang lain.

Kampanye anti Kekerasan terhadap Perempuan

Untuk mengakhiri tulisan ini, saya mengandaikan jika metode HNY bisa diadopsi untuk kampanye anti kekerasan terhadap perempuan. Penyajian fakta tentang tingginya kasus pernikahan anak di Indonesia, misalnya, tidak hanya dilakukan melalui angka-angka dan grafik yang biasanya ditampilkan melalui slide presentasi dan buku-buku hasil penelitian.

Ada cara lain menyajikan fakta dengan memanfaatkan potensi sebuah platform. Fakta-fakta diceritakan kembali melalui potret dan kisah dari hasil interview kepada korban, ayah, ibu, kakak, adik, yang terdampak dengan narasi yang menyentuh human interest masyarakat.

Baca Juga  Andai Saya Musisi, Saya akan Cipta Lagu Aisyah sang Filantropis

Kekuatan narasi pada human interest-based, media kampanye ini bertumpu pada “stori” dan “isu”, pelibatan pengalaman perempuan sebagai sumber pengetahuan, pilihan diksi yang sederhana, jelas, dan tidak seksis, serta nuansa cerita yang menunjukkan keberdayaan perempuan.

Tidak hanya fakta tentang kekerasan yang penting disebarkan, tetapi penting juga menarasikan pengalaman-pengalaman nyata pemberdayaan perempuan yang sudah banyak dilakukan oleh individu dan organisasi yang terlibat melakukan perubahan sosial.

Masyarakat juga membutuhkan penjelasan dengan bahasa yang sederhana dan jelas tentang hak asasi manusia, draft regulasi dan UU yang mengakomodasi hak asasi perempuan, dampak kekerasan yang menimpa pada seseorang atau kelompok, dan informasi-informasi lain yang biasanya hanya bisa diakses oleh para aktivis dan akademisi yang menjadi perdebatan di ruang-ruang seminar dan konferensi.

Dengan belajar pada HNY, saya melihat bahwa sebuah platform bisa menjadi jembatan antara agen gerakan social justice dengan masyarakat di akar rumput menggunakan kekuatan bahasa dan narasi. [AA]

Nor Ismah kandidat Ph.D bidang Gender dan Studi Asia Tenggara, Leiden University, Institute for Area Studies, Belanda