Khairun Niam Mahasiswa sekaligus santri Pondok Pesantren Nurul Ihsan Yogyakarta

Fenomena Beragama di Era Digital dalam Sudut Pandang Stig Hajarvard

2 min read

sumber: IDNTimes

Kemajuan teknologi hari ini membuat segalanya menjadi lebih mudah dilakukan. Berbagai hal bisa didapatkan secara instan termasuk di antaranya adalah ilmu pengetahuan—dalam hal ini pengetahuan beragama.

Sangat mudah sekali didapat. Cukup dengan bertanya kepada Mbah Google kita sudah mendapatkan apa yang dicari sehingga tidak perlu jauh-jauh datang berguru kepada para ulama yang kompeten dalam hal agama. Terlebih lagi adanya media sosial menambah semuanya menjadi lebih mudah.

Berkembangnya teknologi tentu saja memiliki berbagai dampak, salah satunya pada fenomena beragama hari ini. Tidak dapat dipungkiri bahwa kehadiran media dapat mengubah pola hidup dan pola berpikir manusia.

Seperti sudah menyatu dengan hidup manusia, media sudah tidak bisa terlepas dari segala aktivitas yang dilakukan oleh seseorang. Oleh sebab itu, media hari ini tidak hanya dapat menghasilkan sebuah produk budaya baru tetapi juga dapat membawa berbagai ideologi dan bahkan agama.

Disadari atau tidak, hampir secara keseluruhan masyarakat mencari hal-hal yang berkaitan tentang agama dari media. Hal ini semakin tampak terlihat ketika munculnya berbagai platform media yang disebut dengan media online seperti YouTube, Facebook, Instagram, dan platform website.

Munculnya ragam media daring tersebut sangat mempermudah masyarakat dalam mencari konten-konten keislaman, terlebih lagi dari beberapa platform daring sudah ada yang secara khusus menyediakan konten-konten terkait Al-Qur’an, hadis, dan pembahasan problematika aktual dengan menggunakan sudut pandang Islam.

Mediatisasi Agama

Secara umum, definisi mediatisasi adalah proses sosial budaya yang tidak dapat dipisahkan sehingga sangat bergantung pada proses teknologi. Dalam konteks keagamaan, maka agama selalu saja berada dalam ruang lingkup media sehingga tidak dapat terpisahkan.

Salah satu bentuknya ialah media menjadi sumber utama dalam memperoleh pengetahuan agama. Sebagai wadah daring, media menghadirkan agama dengan kebebasan yang tanpa batas. Maksudnya di sini adalah setiap orang berhak mengemukakan pendapatnya terkait keagamaan di media.

Baca Juga  Kontra Narasi Khilafah HTI = Menodai Agama? Sungguh Argumen yang Pongah

Sebagai wadah dalam menyampaikan pesan-pesan dan ritual keagamaan, media juga mampu untuk merepresentasikan agama kepada masyarakat. Oleh sebab itu, sejak masuknya agama dalam dunia digital, Stig Hajarvard mengatakan terdapat tiga bentuk agama yang telah bertransformasi ke dalam media.

Pertama, media sebagai sumber utama. Sebelum munculnya internet, yang menjadi sumber utama dalam pengetahuan agama adalah kitab-kitab klasik. Orang-orang rela membeli kitab-kitab walaupun dengan harga yang cukup mahal. Tetapi, hari ini kehadiran internet menjadikan budaya informasi keagamaan lebih mudah didapatkan.

Tidak perlu membeli kitab dan datang ke pengajian. Informasi keagamaan dapat kita peroleh di mana saja melalui media elektronik, cetak, dan media daring. Ini menandakan bahwa budaya informasi telah mengalami pergerseran dari informasi konservatif ke budaya informasi virtual dan digital.

Kedua, informasi keagamaan dibentuk sesuai genre media. Dalam hal ini media memegang kuasa penuh atas interpretasi keagamaan. Maksudnya adalah teks-teks keagamaan yang telah masuk dalam media kemudian diformat ulang sesuai dengan genre media tersebut.

Oleh sebab itu, dampaknya dari transformasi yang kedua ini adalah agama dapat menjadi penyebab permusuhan, perpecahan, dan bahkan pembunuhan atas nama agama. Tetapi di sisi lain juga bisa menjadi pembawa pesan-pesan kedamaian.

Ketiga, media mengambil alih fungsi lembaga keagamaan. Dalam konteks Indonesia, kita mengetahui beberapa lembaga keagamaan seperti MUI, Nahdaltul Ulama, Muhammadiyah  yang mana selama ini menjadi rujukan utama masyarakat.

Dalam hal ini, informasi keagamaan yang seharusnya disampaikan oleh lembaga tersebut kemudian diambil alih oleh media dalam penyampaiannya.  Akibatnya adalah dapat memunculkan misinterpretasi.

Contohnya terkait moderasi beragama. Jika media yang menyampaikan hal ini adalah media propaganda, maka interpretasi atas teks-teks keagamaan dihadirkan dengan narasi-narasi yang memunculkan permusuhan. Akan tetapi, akan berbeda jika teks-teks keagamaan tersebut dihadirkan oleh media Islam yang ramah.

Baca Juga  Jangan Mati Besok Malam

Umat Muslim dan Media

Tiga transformasi agama dalam media dalam menurut Stig Hajarvard di atas menunjukan bahwa dalam beragama umat muslim hari ini sangat bergantung kepada media. Bagaimana tidak, semua informasi tentang keislaman telah disediakan di media.

Hal ini akan berdampak buruk bagi muslim awam yang baru belajar tentang Islam. Jika ia mendapatkan informasi keagamaan dari media yang salah, maka akan berdampak pada pemikirannya terkait islam. Karena kehadiran media hari ini tidak hanya digunakan untuk menjalin komunikasi, tetapi juga dijadikan sebagai sarana dakwah.

Seperti yang kita lihat hari ini banyak sekali akun-akun dakwah dan para tokoh agama yang bermunculan. Sebagai konsumen, jika tidak mampu untuk memfilter dan menyeleksi apa yang disampaikan oleh akun dan tokoh agama tersebut maka akan menjadi masalah.

Hemat penulis, fenomena beragama di era digital ini dapat menghilangkan tradisi transmisi keilmuan yang diajarkan oleh para ulama terdahulu dalam kitab-kitab klasik. Memang, internet mempermudah untuk mengakses segala informasi, tetapi di sisi lain juga dapat menghilangkan tradisi dan substansi dari sanad keilmuan. Walalhualam. [AR]

Khairun Niam Mahasiswa sekaligus santri Pondok Pesantren Nurul Ihsan Yogyakarta