Khairun Niam Mahasiswa sekaligus santri Pondok Pesantren Nurul Ihsan Yogyakarta

Isra Mikraj: Cikal Bakal Interaksi Batin antara Pencipta dan Hamba

2 min read

sumber: smaia1.al-azhar.sch.id

Isra Mikraj merupakan sebuah perjalanan spiritual Nabi Muhammad yang berlangsung satu malam, sebuah perjalanan yang tidak bisa dimasukkan ke dalam nalar manusia. Oleh sebab itu, proses perjalanan tersebut cukup diyakini menggunakan iman saja.

Bagaimana tidak? Siapa yang percaya bahwa seorang manusia bisa melakukan perjalanan dari Masjidilharam di Makkah menuju Masjidilaqsa di Yarusalem dengan waktu satu malam, ditambah lagi menggunakan transportasi berupa hewan bernama burak (buraq).

Perjalanan spiritual Rasulullah itu diabadikan dalam al-Qur’an surah al-Isra’ ayat 1: “Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah menjelaskan bahwa perjalanan Nabi bukanlah atas kehendak beliau dan tidak juga terjadi atas dasar kemampuan pribadinya, tetapi itu atas kehendak Allah.

Secara umum, ayat di atas menjelaskan tentang perjalanan spiritual Nabi Muhammad. Akan tetapi, dalam ayat tersebut tidak dijelaskan apakah prosesnya terjadi dengan ruh dan jasad beliau atau ruh saja, atau bahkan di dalam mimpi. Para ulama berbeda pendapat tentang hal ini. Di sisi lain, juga terdapat perbedaan terkait peristiwa tersebut terjadi dalam satu peristiwa atau dua kali.

Spiritual Healing ala Nabi Muhammad

Peristiwa Isra Mikraj bisa dikatakan sebagai bentuk hiburan Allah kepada Nabi Muhammad. Hal ini dikarenakan sebelum itu Nabi Muhammad telah mengalami masa-masa yang sangat sulit. Kesulitan tersebut datang silih berganti. Diawali dengan meninggalnya paman beliau, Abu Thalib yang selama ini melalui pengaruh dan ketokohannya selalu membela Nabi.

Baca Juga  Etika Politik Berbasis Keadilan dalam Pandangan Gus Dur (2)

Setelah wafatnya Abu Thalib, Nabi mengalami kesulitan lain, yakni wafatnya istri tercinta, Khadijah, yang selama ini selalu mendukung dan menanamkan ketenangan kepada beliau. Kepergian kedua tokoh tersebut sangat terasa oleh Nabi. Oleh sebab itu, tahun kepergian kedua tokoh penting dalam kehidupan Nabi disebut ‘am al-huzn (tahun kesedihan).

Selanjutnya, gangguan kaum musyrikin yang semakin memperburuk suasana hati Nabi sehingga beliau menuju Thaif untuk berdakwah tetapi di sana pun beliau ditolak dan diganggu. Mengutip dari Tafsir al-Misbah, Allah kemudian menghibur beliau seakan-akan berkata, “Kalau penduduk bumi menolak kehadiranmu dan menentang ajaran yang engkau sampaikan, tidak demikian penghuni langit.” Dari sini kemudian beliau diisrakan dan dimikrajkan.

Dalam perjalanannya, Nabi banyak mengalami pengalaman batin yang sangat luar biasa. Beliau dapat menembus langit pertama hingga langit ketujuh yang pada setiap langitnya beliau bertemu dengan para nabi sebelum-sebelumnya. Puncak perjalanan sipiritual Nabii adalah ke Sidratulmuntaha, lalu ke Baitulmakmur dan bertemu secara langsung dengan Allah.

Salat sebagai Ruang Komunikasi

Perjalanan spiritual Nabi ketika Isra Mikraj tentu saja mempunyai banyak pelajaran yang dapat diambil. Pertemuan tertutup antara Allah dan Nabi tentu saja dalam rangka memberikan pesan-pesan kepada umatnya. Salah satu pesan yang menjadi penghubung antara hamba dan penciptanya adalah salat.

Mengutip dari Yuyun Yunita dalam artikelnya, awalnya perintah salat itu lima puluh waktu, tetapi Nabi Musa memerintahkan Nabi Muhammad untuk meminta keringanan hingga akhirnya Allah mengurangi kewajiban salat fardu menjadi lima waktu saja.

Sebagai salah satu perintah yang langsung turun ketika Isra Mikraj berlangsung, salat merupakan sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan oleh umat Islam. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan bahwa salat merupakan waktu di mana seorang hamba dapat berkomunikasi dengan penciptanya. Ketika seseorang melaksanakan salat, tidak ada sekat yang membatasi seorang hamba untuk berdialog secara batin kepada Allah.

Baca Juga  Merajut Kesetaraan Gender: Menghadapi Seksisme dan Diskriminasi

Adapun bentuk komunikasi dalam salat terlihat dalam bacaan-bacaannya. Diawali dengan kalimat takbir Allahu Akbar, lafal tersebut merupakan sebuah bentuk pengakuan atas kebesaran dan keagungan Allah. Akibat dari pengakuan tersebut, maka ketika seseorang shalat menjadi khusyuk karena merasa dirinya dan segala yang ada di dunia ini hanya sebagian kecil dari kekuasan Allah.

Selain itu, bacaan surah al-Fatihah juga merupakan bentuk komunikasi verbal manusia dengan Allah, sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Muslim: “Rasulullah bersabda: ‘Allah Azza wa Jalla berfirman: Aku membagi salat itu antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian. Apabila hamba-Ku membaca ‘Segala puji bagi allah, Tuhan sekalian alam.’

“Allah SWT berfirman: ‘Hambaku telah memuji-Ku.’ Dan ketika seorang hamba berkata, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,’ Allah berfirman: ‘Hambaku telah memujiku.’Dan ketika seorang hamba berkata, ‘Yang menguasai di Hari Pembalasan,’ Allah berfirman, ‘Hambaku telah memuliakan aku.’

“Dan ketika seorang hamba berkata, ‘Hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan,’ Allah pun berfirman, ‘Ini adalah bagian-Ku dan hamba bagian-ku, dan bagi hamba-Ku apa yang dimintanya.

“Dan ketika seorang hamba berkata, ‘Tunjukkanlah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah engkau beri nikmat kepada mereka, bukan (jalan) yang dimurkai dan bukan pula jalan yang sesat,’ Allah berfirman,  ‘Ini adalah bagi hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang dia pinta.” (HR Muslim)

Selain komunikasi lisan, bentuk komunikasi fisik juga terlihat ketika seorang sedang bersujud, yang mempunyai makna sebagai sebuah bentuk penghambaan dan ketidakberdayaan di hadapan Allah.

Lebih lanjut, filosofi dari sujud sendiri adalah untuk tidak bersikap sombong antara sesama manusia apalagi kepada Allah. Hal ini dikarenakan kepala sebagai simbol kehormatan yang letaknya di atas berada sejajar dengan lantai yang sehari-hari kita injak. Wallahualam bissawab [AR]

Khairun Niam Mahasiswa sekaligus santri Pondok Pesantren Nurul Ihsan Yogyakarta