



Beberapa waktu lalu, dunia pesantren dihebohkan oleh pemberitaan di media televisi Trans7. Berita yang ditayangkan banyak menyinggung kalangan santri dan pesantren. Tayangan yang menyorot kehidupan pesantren tersebut disampaikan dengan narasi yang membuat kami, para santri, kembali terluka. Padahal luka atas kejadian yang menimpa Pondok Pesantren Al-Khozini masih belum kering, tetapi kami kembali disakiti oleh berita yang ditayangkan Trans7 beberapa hari lalu.
Adapun yang menjadi sorotan pada tayangan Trans7 adalah, pertama, sikap santri terhadap kyai; kedua, gaya hidup kyai yang dianggap mewah dengan busana berharga fantastis; dan ketiga, tradisi pesantren yang dianggap feodal terhadap para santri. Namun, penulis hanya ingin membahas poin pertama, karena menurut penulis masyarakat perlu memahami bahwa hubungan antara santri dan kyai bukan sekadar hubungan formalitas seperti guru dan murid. Adapun poin kedua dan ketiga akan penulis bahas pada tulisan selanjutnya.
Sebelum membahas lebih jauh mengenai relasi antara kyai dan santri di pesantren, penulis ingin menjelaskan terlebih dahulu makna dari kedua istilah tersebut. Dengan memahami definisi kyai dan santri, pembaca akan lebih mudah memahami logika tradisi yang hidup di lingkungan pesantren.
Kyai dan Santri
Kyai dan santri merupakan dua unsur utama yang harus ada dalam berdirinya pesantren. Menurut Zamakhsari Dhofier, istilah santri memiliki dua makna. Pertama, menggambarkan sekelompok pelajar di sebuah pondok pesantren; kedua, menunjukkan tradisi komunitas Muslim. Di pesantren sendiri, terdapat dua tipe santri, yaitu santri mukim dan santri kalong. Adapun dalam pandangan umum masyarakat, santri adalah orang-orang yang menuntut ilmu agama di pesantren.
Secara umum, masyarakat memandang kyai sebagai sosok yang menjabat sebagai pengasuh pesantren. Namun, jika hanya berangkat dari definisi tersebut, maka hari ini siapa pun akan mudah disebut sebagai kyai. Padahal, kyai bukan sekadar pengasuh, tetapi juga seorang ahli agama yang memiliki kharisma, wibawa, dan pengaruh spiritual. Setiap kata yang keluar dari lisannya mampu menyentuh hati para santri yang mendengarkannya.
Kedua unsur ini menjadi masyarakat aktif dalam kehidupan pesantren. Keduanya saling berinteraksi dalam konteks guru dan murid. Namun, hubungan antara kyai dan santri berbeda dengan relasi guru dan murid di lembaga pendidikan lain. Kyai tidak hanya mentransfer ilmu melalui buku, kitab, atau nasihat, tetapi juga melalui teladan perilaku sehari-hari yang menjadi panutan bagi para santri.
Kyai–Santri: Relasi Tanpa Sekat
Penulis ingin sedikit berbagi pengalaman pribadi selama menjadi santri di pesantren modern dan salaf. Penulis telah menempuh kehidupan santri selama kurang lebih 14 tahun di beberapa pesantren berbeda—enam tahun di pesantren modern, dan sisanya di pesantren salaf. Pesantren terakhir yang penulis tempati adalah Pondok Pesantren Nurul Ihsan, Yogyakarta. Meski hanya empat tahun, pengalaman tersebut sangat membekas. Mengapa demikian?
Penulis merasakan adanya suasana berbeda ketika berinteraksi dengan kyai (yang kami panggil bapak). Aura ketenangan, keilmuan, kesabaran, ketegasan, dan spiritualitas beliau begitu terasa ketika beliau berbicara, mengaji, menasihati, atau menegur kami, para santrinya. Sebagai santri, penulis tidak hanya belajar mencuci dan menjemur pakaian sendiri, tetapi juga memperoleh pengalaman spiritual melalui interaksi langsung dengan kyai.
Cerita di atas hanya sebagai pemantik. Intinya, hubungan antara kyai dan santri tidaklah sekadar hubungan formal antara guru dan murid, melainkan lebih dari itu. Di pesantren, tidak terdapat hierarki berdasarkan kedudukan, melainkan hubungan yang dibangun atas dasar kepercayaan dan penghormatan. Hubungan spiritual dan intelektual ini hanya dapat dipahami oleh mereka yang pernah mengalaminya secara langsung.
Relasi tersebut bukanlah sesuatu yang dapat dilihat dengan kasatmata, karena hubungan itu berada pada ruang spiritual, intelektual, dan sosial tanpa sekat. Hal inilah yang menjadikan relasi kyai–santri ibarat dua sisi koin yang tidak terpisahkan. Oleh sebab itu, wajar apabila seorang santri, meski telah menjadi alumni, masih merasakan kedekatan emosional dan spiritual yang mendalam dengan kyainya.
Adapun cuplikan tayangan Trans7 yang memperlihatkan santri menunduk atau mengesot di hadapan kyai tidak dapat dipahami melalui kacamata modern semata. Tradisi keilmuan pesantren secara keseluruhan dibingkai oleh nilai adab dan penghormatan terhadap guru, yakni kyai. Sikap tersebut bukan bentuk feodalisme, melainkan wujud penghormatan kepada sosok yang berilmu. Bagi santri, kyai adalah pewaris para nabi (waratsatul anbiya), sehingga penghormatan tersebut bukan karena jabatan, tetapi karena kemuliaan ilmu yang dimilikinya.
Wallahu a‘lam.
Mahasiswa sekaligus santri Pondok Pesantren Nurul Ihsan Yogyakarta