Khairun Niam Mahasiswa sekaligus santri Pondok Pesantren Nurul Ihsan Yogyakarta

Mengenal Ki Ageng Suryomentaram, Filsuf Tanah Jawa

2 min read

Pada umumnya, generasi muda zaman sekarang lebih mengenal tokoh filsafat Barat seperti Plato, Aristoteles, Socrates, Rene Descartes dan tokoh filsafat Timur seperti Ibnu Rusyd, Ibnu Sina, Al-Kindi dan lain-lain. Mereka lupa bahwa Indonesia juga mempunyai banyak tokoh filsuf khususnya tanah Jawa, salah satunya adalah Ki Ageng Suryomentaram. Jujur saja hal itu juga yang dialami oleh penulis. Pertama kali penulis mendengar nama Ki Ageng Suryo Mentaram ketika menonton kajian filsafat dari bapak Fachruddin Faiz di sebuah akun channel youtube dan itu sekitar satu bulan lalu yang kemudian berinisiatif untuk menulis tulisan ini.

Secara silsilah keluarga Suryomentaram bukanlah orang sembarangan. Ia merupakan anak dari Sri Sultan Hamengkubuwono VII dan Bendara Raden Ayu Retnamandaya. Cucu dari Sultan Hamengkubuwono VI tersebut lahir pada tanggal 20 Mei 1892 dan wafat pada tanggal 18 maret 1962. Nama aslinya adalah Bendara Raden Mas Kudiarmidji.

Semasa kecil Ki Ageng Suryomentaram terbilang anak yang cerdas, ia menguasai tiga bahasa asing, Bahasa Belanda, Arab, dan Inggris. Ia sangat gemar membaca buku-buku sejarah, filsafat, psikologi dan agama. Dalam pendidikan agama Islam, Ki Ageng Suryomentaram belajar mengaji pada KH. Ahmad Dahlan, kemudian belajar makna Islam, kehidupan dan manusia. Selain Islam, ia juga mempelajar agama Katolik, Buddha, Hindu, dan aliran-aliran kebatinan. Dari sinilah ia mempunyai rasa toleransi yang tinggi.

Keluar dari Istana dan menjadi Rakyat Biasa

Sebagai bagian dari keluarga istana, kehidupan Ki Ageng Suryomentaram bisa dibilang sangat tercukupi dan tidak berkekurangan. Namun pemikirannya berubah ketika melakukan perjalanan dari Wilayah Kesultanan Yogyakarta menuju wilayah Kasunanan Surakarta. Selama di perjalanan ia banyak melihat para petani yang sedang bekerja di ladang dan sawah. berangkat dari hal inilah yang membat pola pikir Ki Ageng Suryo Mentaram berubah mengenai kehidupan.

Baca Juga  Pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib dan Kontribusinya

Setiba di Yogyakarta Suryomentara merasa gelisah karena teringat pada para petani yang dilihatnya ketika diperjalanan. Bagi Suryomentaram para petani tersebut memiliki semangat kerja yang tinggi namun hasil yang didapat tidak sesuai dengan beratnya pekerjaan. Sangat berkebalikan dengan orang-orang yang tinggal di istana.

Berangkat dari kegalauan tersebut Suryomentaram kemudian mencari tempat untuk menyendiri dan menyepi. Ia pergi ketempat yang pernah dikunjungi oleh para leluhurnya untuk mendapatkan pencerahan. Semakin lama menyepi Suryomentaram semakin merasakan ketenteraman sehingga ia memutuskan untuk meninggalkan istana Kesultanan Yogyakarta.

Namun, beberapa sumber mengatakan bahwa KI Ageng Suryomentaram kembali lagi ke istana dan meninggalkan Istana yang kedua kalinya setelah ayahnya wafat dan tidak akan kembali lagi.

Setelah meninggalkan Istana Suryomentaram pergi ke desa Bringin, Salatiga. Disana ia mulai menjalani kehidupan sebagai rakyat biasa, mengenakan celana pendek, kaos oblong, dan sarung yang diselempangkan di pundaknya. Sebagai rakyat biasa ia menjalani berbagai pekerjaan, seperti penggali sumur, pedagang batik dan ikat pinggang, petani, menjadi guru di Taman Siswa, menjadi guru aliran kebatinan, menjadi penulis, ahli jiwa dan filusf.

Pemikiran dan Ajaran Ki Ageng Suryomentaram

Dalam masyarakat Jawa, Suroymentaram dikenal sebagai ahli ilmu jiwa dan filsuf karena pemikiran-pemikian yang diajarkan berbasis pada filosofi Jawa dan mengacu pada kearifan leluhur. Ajarannya tidak hanya mengacu kepada teks saja tetapi lebih kepada hasil kontemplasinya selama bertahun-tahun dan dipraktikkannya sendiri dalam keseharian.

Hasil dari renungan dan pengalaman empiriknya ia tuangkan kedalam beberapa tulisannya diantaranya Kawruh Beja, Aku Iki Wong apa, Pangawikan Pribadi, Kawruh Rasa, Kawruh Jiwa, Piageming Gesang, Kawruh Pamomong, Jimat Perang, dan beberapa yang lain.

Kumpulan-kumpulan tulisan KI Ageng Suryomentaram kemudian dihimpun dan disusun oleh putranya Grangsan Suryomentaram dan diberi judul Kawruh Jiwa. Buku ini terbagi kedalam empat jilid dan diterbitkan 28 tahun setelah Ki Ageng Suryomentaram wafat. Singkatnya Kawruh Jiwa merupakan pengetahuan tentang rasa.

Baca Juga  Umar bin Khattab sang Pengembang Pendidikan Islam

Suryomentaram menjelaskan bahwa Kawruh Jiwa bukanlah sebuah pelajaran mengenai baik dan buruk dan bukan perintah atau larangan untuk melakukan sesuatu. Tetapi, Kawruh Jiwa merupakan ilmu yang berguna untuk melihat, memahami, dan mengerti mengenai jiwa dan segala sifat yang terdapat dalam diri manusia.

Salah satu ajarannya yaitu bungah-susah (bahagia-susah). Suryomentaram menjelaskan bahwa setiap manusia akan merasakan senang dan susah. Adapun keadaan senang hanya bersifat sementara dan kemudian akan kembali merasakan kesusahan. Karena rasa manusia bersifat tidak abadi. Perubahan rasa tersebut disebut sebagai mulur (rasa senang) dan munkret  (rasa susah).

Manusia akan selalu merasa senang apabila keinginannya telah dapat tercapai. Ketika keinginannya telah tercapai maka ia akan menginginkan hal yang lain. Pada intinya manusia akan selalu mempunyai keinginan-keinginan lain untuk mempersenang dirinya sendiri.

Adapun munkret yaitu rasa sedih dan kecewa bahkan marah ketika keinginan manusia tidak tercapai. Munkret memiliki dua pengertian. Pertama, menurunkan level keinginan dari yang tinggi ke yang rendah ketika keinginanya tidak tercapai. Kedua, merasa susah karena setiap keinginannya tidak tercapai.

*sumber: Sri Wintala Ahmad, “Ilmu Bahagia KI Ageng Suryomentaram, Sejarah Kisah dan Ajaran Kemuliaan”, (Yogyakarta: Araska, 2020).

Khairun Niam Mahasiswa sekaligus santri Pondok Pesantren Nurul Ihsan Yogyakarta