



Miftah Maulana Habiburrahman atau yang akrab disapa Gus Mifatah beberapa hari belakangan ini tengah ramai menjadi perbincangan netizen. Sosok yang sekarang menjabat sebagai utusan khusus presiden bidang kerukunan beragama dan pembinaan sarana keagamaan ini viral di media sosial karena dianggap melakukan pembulian verbal kepada seorang pedagang es teh ketika pengajian.
Video tersebut lantas mendapatkan respon negatif dari seluruh netizen karena apa yang dilakukan Gus Miftah dianggap terlalu berlebihan. Di tambah lagi dalam video semua jamah pengajin ikut tertawa dengan “lelucon” tersebut.
Sejauh ini berdasarkan penelusuran yang penulis lakukan di media, Sebelum viralnya video gus Miftah ini, sudah ada beberapa sosok lain yang juga dikenal sebagai ulama namun prilaku serta perkataannya tidak mencerminkan figur seorang ulama. Salah satunya adalah Habib Bahar Bin Smith.
Dalam beberapa video yang viral di media sosial, tampak habib bahar melontarkan kata-kata kasar kepada Presiden Jokowi. Tidak hanya itu, bahkan beberapa tahun yang lalu Habib Bahar juga terkena kasus penganiyaan sehingga menyebabkannya dipenjara selama tiga tahun.
Melihat fenomena yang terjadi di atas, penulis teringat perkataan guru penulis ketika di pesantren. Beliau berkata “seseorang yang mendapatkan gelar kiai atau ulama itu tidak hanya dilihat dari ilmunya, tetapi juga dari prilakunya, oleh sebab itu ketika sudah memiliki ilmu harus selalu menjaga lisan dan perbuatan”.
Lebih lanjuut, ia menyampaikan bahwa adab dan ilmu bukanlah unsur yang tidak dapat dipisahkan, satu kesatuan. Artinya, adab merupakan ekspresi yang sebagai cerminan dan menunjukkan ilmu yang sudah di dapatkan.
Ciri-Ciri Ulama
Kata Ulama dalam Al-Qur’an disebutkan pada beberapa ayat, salah satunya terdapat pada pada Q.S. Fathir: 28
وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَاۤبِّ وَالْاَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ اَلْوَانُه كَذٰلِكَ اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُا اِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ غَفُوْرٌ
Artinya: (Demikian pula) diantara manusia, makhluk bergerak yang bernyawa, da hewan-hewan ternak ada yang bermacam-macam warnanya ( dan jenisnya). Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. seungguhnya Allah Mahaperkasa lagi maha penyayang.
Thahir Ibn Asyur dalam Tafsir Al Misbah mendefinisikan ulama sebagai orang-orang yang mengetahui tentang Allah dan ilmu syariat. Sebesar apapun pengetahuan seseorang tentang hal itu maka sebesar itu juga ketakutannya kepada kepada Allah.
Sedangkan menurut Quraish Shihab, mereka yang memiliki pengetahuan tentang fenomena alam dan sosial disebut sebagai ulama oleh Al-Qur’an selama pengetahuan tersebut menimbulkan rasa takut kepada Allah.
Di tengah-tengah masyarakat sendiri, istilah ulama selalu merujuk kepada seseorang tidak hanya ahli dalam bidang agama, tetapi juga memiliki akhlak yang baik, serta menjadi teladan bagi masyarakat. Namun, fenomena yang terjadi belakangan ini, banyak orang dianggap sebagai “ulama” justru lebih karena pengetahuannya saja, tanpa memperhatikan segi akhlak yang diperlihatkan.
Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin menyebutkan terdapat lima ciri-ciri orang yang dapat disebut ulama yaitu pertama, Abid (taat melakukan ibadah). Kedua, zahid, (hidup dalam kesederhanaan materi). Ketiga, Alim (mempunyai pengetahuan yang luas). Keempat, faqih. (Mengetahui pengetahuan kemasyarakatan). Kelima, murid (memiliki orientasi keikhlasan). Oleh sebab itu, untuk menjadi ulama tidak hanya membutuhkan ilmu yang cukup, melainkan harus dilengkapi dengan empat unsur lainnya.
Di sisi lain gelar ulama juga tidak bisa di dapatkan dari jenjang pendidikan melainkan didapatkan dengan memiliki kedalaman ilmu serta integritas pribadinya di tengah-tengah masyarakat. sehingga dalam hal ini, gelar ulama diberikan oleh masyarkat kepada seseorang yang telah mencakupi lima unsur tersebut.
Ulama Tidak hanya Berilmu
Sebuah pepatah arab mengatakan al adabu fauqol ilmi yang artinya adab lebih tinggi daripada ilmu. pepatah ini memberikan penjelasan bahwa adab atau etika memiliki posisi yang lebih tinggi dari pada ilmu sehingga seorang muslim harus memiliki adab yang baik sebelum mengejar ilmu pengetahuan.
Namun, penulis sendiri mempunyai pandangan bahwa, antara adab dan ilmu, keduanya berada di posisi yang setara. Artinya, tidak ada yang lebih tinggi karena adab sendiri didapatkan melalui ilmu, tinggal kemudian apakah ilmu adab yang didapatkan dipraktikkan atau tidak.
Sehingga jika ada yang mengatakan bahwa adab lebih penting dari pada ilmu maka penulis sepertinya tidak sepenuhnya setuju dengan pernyataan tersebut karena ilmu merupakan hal yang sangat penting bagi manusia dan juga Allah sendiri memerintahkan manusia untuk menuntut ilmu.
Oleh sebab itu seorang ulama tidak hanya di tuntut untuk menyebarkan ilmunya namun juga harus mempraktikkan ilmunya sebagai teladan dan manifestasi akan ilmu itu sendiri.
Akhrinya, penulis ingin menyampaikan bahwa menjadi seorang ulama berilmu saja tidak cukup tetapi juga harus beradab, ‘abid, faqih, dan zuhud. Wallahua’lam
Mahasiswa sekaligus santri Pondok Pesantren Nurul Ihsan Yogyakarta