Khairun Niam Mahasiswa sekaligus santri Pondok Pesantren Nurul Ihsan Yogyakarta

Tembang Jawa sebagai Warisan Kesusastraan Dakwah Walisongo

2 min read

dakwah walisongo
sumber: pergunu.or.id

Berkembangnya Islam di Indonesia yang dibawa oleh Walisongo memang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah budaya lokal. Oleh sebab itu, Islam di Nusantara memiliki ciri khas serta tipologi tersendiri.

Ciri khas itulah yang membuat Islam di Nusantara menjadi terlihat agak sedikit berbeda jika dibandingkan dengan daerah Arab. Pergelutan antara budaya lokal dan Islam—yang dikenal dengan istilah akulturas—menjadikan Islam yang ada di Indonesia dipandang unik dan menarik.

Di sisi lain, perpaduan yang terjadi antara keduanya menjadi salah satu penyebab mudahnya Islam di Indonesia diterima dan tersebar begitu cepat. Benturan inilah yang menjadi pembeda masuknya Islam di wilayah Nusantara dengan wilayah lain.

Dalam prosesnya, upaya tersebut melalui dakwah yang dilakukan oleh Walisongo memunculkan berbagai macam ekspresi. Salah satu ekspresi yang dijadikan sebagai media dalam menyebarkan Islam adalah ekspresi sastra yang berbentuk syair-syair.

Islam dan Lokalitas

Islam merupakan sebuah ajaran yang penuh dengan nilai-nilai universal. Jika dianalogikan sebagai tubuh, nilai-nilai islam merupakan sebuah roh, sedangkan jasad adalah tempat di mana Islam itu tumbuh dan berkembang.

Oleh sebab itu, jika kita bandingkan Islam yang berkembang di Indonesia akan tampak berbeda dengan Islam yang berkembang di India, Amerika, Arab, Cina, dan lain-lain. Adapun nilai-nilai yang dimaksud di sini adalah tauhid, iman, dan perbuatan yang masuk sebagai bagian dari sistem keimanan seorang muslim.

Dialog Islam dengan berbagai perbedaan geografis, kebangsaan, kebudayaan, dan kebahasaan dalam wilayah tertentu menciptakan sebuah budaya baru yang menjadi ciri khas wilayah tersebut—tentu saja dengan catatan selama budaya baru tersebut masih berada dalam koridor nilai-nilai keislaman. Hal ini menandakan bahwa Islam merupakan sebuah ajaran yang fleksibel.

Baca Juga  Suluk Linglung di Tengah Pandemi Covid-19

Dalam hal ini, Indonesia merupakan sebuah wilayah di mana ajaran Islam yang berkembang di dalamnya merupakan perpaduan antara dua unsur tersebut. Ini terlihat dari budaya-budaya yang terlihat hari ini, di antaranya wayang, sekaten, tahlil, mitoni, dan tembang para Walisongo. Tentu saja budaya tersebut lahir dari perpaduan antara Islam dan lokalitas yang sudah ada sebelum masuknya Islam di Indonesia.

Jika melihat konteks Indonesia, berbagai budaya yang kita lihat hari ini adalah hasil dari penyerapan nilai-nilai Islam dengan budaya lokal yang ada. Salah satu hasil dari perpaduan tersebut adalah terciptanya tembang-tembang Jawa yang turut menjadi peluang bagi para Walisongo dalam berdakwah.

Walisongo dan Tembang Jawa

Semua media dakwah yang digunakan oleh Walisongo dalam menyebarkan Islam mempunyai peran yang begitu penting. Selain seni wayang dan gamelan, tembang yang diciptakan oleh Walisongo juga memainkan peran penting dalam penyebaran Islam di tanah Jawa. Melalui syair-syair ini para Walisongo menjadi lebih mudah dalam mengajarkan Islam kepada masyarakat pada waktu itu.

Sejauh yang penulis tahu, beberapa Walisongo yang turut menggunakan syair dalam menyebarkan ajaran Islam adalah Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan Muria, dan Sunan Kalijaga. Asmaradana, Sinom, Kinanti, Maskumambang, dan Mijil merupakan syair-syair karangan para Walisongo tersebut. Sementara Sunan Kalijaga menulis syair Ilir-Ilir, Gundul-Gundul Pacul, Kidung Rumeksa ing Wengi, Lingsir Wengi, dan Suluk Linglung.

Syair-syair atau tembang di atas diciptakan dengan tujuan tertentu. Adapun tujuannya adalah mengajarkan niali-nilai Islam kepada para pemeluk agama Hindu-Buddha yang pada waktu itu masih menjadi mayoritas.

Syair-syair tersebut sangat dimanfaatkan secara maksimal oleh para Walisongo sebagai media dakwah. Oleh sebab itu, syair-syair yang diciptakan oleh para Walisongo dapat dikatakan sebagai ekspresi kesusastraan dalam wajah Islam di Nusantara. Di antara tembang-tembang yang telah penulis sebutkan sebelumnya, beberapa di antaranya masih sering kali kita dengar hingga hari ini, seperti Ilir-Ilir dan Gundul-Gundul Pacul.

Keberadaan tembang-tembang yang telah diciptakan oleh para Walisongo menjadi tipologi Islam yang berkembang di Nusantara. Banyaknya tembang-tembang Jawa yang diciptakan oleh mereka merupakan sebuah tanda sekaligus khazanah kekayaan yang terbentuk melalui benturan budaya, yakni antara nilai-nilai keislaman dan budaya lokal masyarakat Nusantara.

Baca Juga  Tragedi Asyura dan Upaya Membangun Toleransi

Tembang-tembang yang diciptakan tentu saja mempunyai makna filosofi berupa pesan-pesan kebaikan. Salah satu tembang yang cukup familer adalah Gundul-Gundul Pacul.

Bagi sebagian orang, khususnya masyarakat Jawa, tembang tersebut sangatlah tidak asing. Biasanya tembang itu sering kali dijadikan sebagai dolanan (bermain) oleh anak-anak. Tembang yang cukup familiar ini merupakan sebuah syair berasal dari Jawa Tengah yang ditulis oleh Sunan Kalijaga sekitar tahun 1400-an.

Keberadaan tembang Gundul-Gundul Pacul dan tembang-tembang lain merupakan sebuah ekspresi seni dan sastra Islam dari dakwah Walisongo di Indonesia. Oleh sebab itu, tembang-tembang yang telah diwariskan ini dapat dijadikan sebagai sebuah pijakan dalam hidup karena di dalamnya mengandung banyak pesan moral dan keagamaan. Wallahualam [AR]

 

Khairun Niam Mahasiswa sekaligus santri Pondok Pesantren Nurul Ihsan Yogyakarta