Najib Murobbi Mahasiswa Pascasarjana Universitas Indonesia

Kisah Pengembala Kambing, Prank dan Mahalnya Sebuah Kepercayaan

2 min read

Spurcec: https://bit.ly/3fUKEJ8

Dikisahkan ada seorang pemuda yang mengembala kambing. Setiap harinya ia pergi bersama kambing-kambingnya ke ladang rumput dekat rumahnya untuk memberi makan kambingnya rerumputan yang segar.

Suatu hari–entah ini bisikan syetan atau inisiatif pemuda itu sendiri–ia ingin nge-prank penduduk desa sekitar rumahnya. Dengan teriakan yang sangat kencang ia berteriak, “Serigala! Serigala!”

Orang-orang kampung sekitar bergegas menghampiri pemuda itu dengan tongkat-tongkatnya dan mencari ke arah sekitarnya dimana serigala berada. Setiap arah dan sudut sudah ditelusuri, namun mereka tidak menemukan apa-apa selain hembusan angin belaka. Dan, sang pemuda itu tertawa terbahak-bahak melihat orang-orang itu.

Keesokan harinya datanglah serigala sungguhan. Sontak, pemuda itu menggigil ketakutan lalu ia berteriak dengan kencang “Serigala! Serigala…” seraya mengharap pertolongan penduduk desa.

Namun, orang-orang mengira bahwa lagi-lagi pemuda itu ingin nge-prank seperti kemarin. Tak ingin kena prank untuk kedua kalinya, penduduk desa pun tidak menghirakan teriakan pemuda tesebut.  “Hmm… tidak semudah itu Darsono!” gumam penduduk desa.

Walhasil, dalam waktu singkat sang Srigala dengan lahap menghabisi kambing-kambing pemuda itu, hinaga tak seekorpun yang tersisa.

Sama seperti tulisan saya sebelumnya, kisah ini juga dikutip dari kitab Al-Qira’atu Ar-Rasyidah dengan judul “Arra’i wa Azzi’bu” pada yang diterbitkan pondok pesantren Gontor, Ponorogo, Jawa Timur.

Kisah Arra’i wa Azzi’bu ini diakhiri dengan tambahan kutipan sebagaimana berikut:

وَلَوْ لَا كَذِبُهُ فِى الْمَرَّةِ اْلأُوْلَى لَصَدَّقَهُ النَّاسُ عِنْدَ صِيَاحِهِ فِى الْمَرَّةِ الثَّانِيَةِ. وَجَاءُوْا لِنَجْدَتِهِ

Seandainya ia tidak berbohong pada waktu pertama kali, pasti orang-orang akan percaya padanya saat ia berteriak yang kedua kalinya, dan mereka akan menolongnya.

Terkait dengan itu, sebagaimana kata orang-orang terdahulu yang mengatakan bahwa “kepercayaan itu ibarat cermin, saat kamu menghancurkannya ia tidak akan kembali seperti semula. Namun, sungguh ironi, seiring dengan perkembangan zaman, agaknya kepecayaan menjadi sesuatu yang sangat langka bagi manusia modern saat ini.

Baca Juga  Tradisi Saling Memaafkan Jelang Ramadan

Banyak orang lebih mementingkan materi dibandingkan dengan menjaga kepercayaan orang lain, tidak terkecuali seperti yang kerap terjadi di media sosial. Misalnya, aksi-aksi prank yang dilakukan oleh beberapa orang mulai dari berpura-pura menjadi orang gila, pengamen, memesan makanan lewat ojol, hingga yang terbaru yakni aksi yang dilakukan oleh youtuber ternama yang dengan tega berpura-pura memberi sekardus mie kepada anak-anak dan waria, padahal isinya adalah sampah dan arang.

Mirisnya, aksi mengerjai orang lain yang lebih dikenal dengan istilah “prank” ini seakan sudah menjadi budaya dalam bercanda ala kekinian. Jika dilihat dari motifnya tentu beraneka ragama, ada yang memancing gelak tawa, hingga ada juga yang sengaja memancing emosi orang lain.

Lantas, pertanyaannya adalah “apakah itu semua salah dan tidak baik dilakukan?”

Mengutip pernyataan Ni Made Diah Ayu Anggreni, seorang psikolog, yang menjelaskan bahwa prank sebenarnya masuk ke dalam kategori permainan yang tujuannya untuk meramaikan (memeriahkan) suasana dengan mengoceh orang lain, melalui usaha mengaburkan logika dan realita. Seperti pada saat seseorang ulang tahun, lalu teman-temannya mengerjainya.

Namun, lambat laun, prank dianggap menjadi hal yang banyak mengandung sisi negatif meskipun tujuan asalnya adalah hanya sebatas bercanda–ala kadarnya–untuk memeriahkan suasana. Salah satu alasannya adalah karena banyaknya orang yang melakukan aksi prank dengan sikap yang keterlaluan dan berlebihan tanpa sungguh-sungguh mempertimbangkan dan memperhitungkan sejauh mana reaksi dari orang yang akan di prank.

Jadi, saya kira, kalau mau bercana atau mengeprank orang lain, cukuplah ala kadarnya. Dan, “ala kadarnya” tentu mempunyai takaran yang berbeda-beda bagi setiap orang. Hal ini dapat dilihat dari berapa lama kita berteman, dan bersahabat dengan teman kita. Dan yang terpenting adalah tahu batas akan nilai kemanusiaan yang ada.

Baca Juga  Manusia, Tangan Tuhan, dan Kebebasan Diri: Akal, Cahaya, dan Hikmah [1]

Sama seperti kisah Arra’i wa Azzi’bu, hal yang dikawatirkan saat seseorang nge-prank orang lain dan ternyata di kemudian hari orang tersebut mengalami hal seperti itu secara sungguhan, maka dia akan diacuhkan karena sudah tidak dipercaya lagi. Dan, mengakibatkan dia menjadi celaka.

Akhirnya, kepercayaan adalah sesuatu yang amat mahal, maka jangnlah menghancurkan kepercayaan orang kepada kita dengan berbuat bohong. (AA)

Najib Murobbi Mahasiswa Pascasarjana Universitas Indonesia

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *