Dimana Kita Bisa Menyalurkan Sedekah?

bincangsyariah.com

Beberapa hari ini  ramai diberitakan salah satu publik figur dituduh menelantarkan anak asuhnya. Publik figur ini sebelumnya membantu seorang anak yatim piatu di sebuah lapak pemulung untuk disekolahkan. Setelah satu tahun bersekolah di pondok pesantren, anak tersebut meminta keluar dari pondok pesantren. Alhasil dana pendidikan untuknya dicabut. Dicabutnya dana pendidikan tersebut membuat salah satu LBH melontarkan tuduhan penelantaran anak asuh kepada sang publik figur.

Saya sangat menghargai niat penderma yang tulus untuk membantu sesama. Terlepas dari benar atau tidaknya tuduhan tersebut, ada hal  menarik yang perlu disoroti dari kasus ini. Yaitu tentang kepada siapa kita manyalurkan sedekah sehingga bisa tepat sasaran dan sesuai tuntunan agama. Tentang hal ini Allah telah berfirman pada  Q.S Al Baqarah 215

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ ۖ قُلْ مَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

 “Mereka bertanya tentang apa yang harus mereka infakkan. Katakanlah “Harta apa saja yang kamu infakkan, hendaknya diperuntukkan bagi kedua orang tua, kerabat, anak yatim, orang midkin dan orang yang sedang dalam perjalaanan”. Dan kebaikan apa saja yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui”

Berdasarkan Q.S Al Baqarah ayat 215 tersebut, Allah telah menjelaskan urutan orang yang berhak menerima infak atau sedekah. Yang pertama adalah orang tua, ketika kita memiliki harta yang lebih sebaiknya kita memberikannya kepada orang tua sebagai balasan atas didikannya selama ini. Golongan kedua yang kita berikan infak adala kerabat. Kerabat ini bisa diartikan sebagai keluarga dekat yang tinggal jauh dari kita atau tetangga yang rumahnya dekat dengan tempat tinggal kita. Dalam memberikan infak kita juga harus melihat kemampuan finansial dari penerimanya. Jika kerabat ataupun orang tua sudah berkecukupan, sebaiknya harta kita diberikan kepada anak yatim orang miskin ataupun orang yang sedang dalam perjalanan.

Sekarang ini banyak sekali manusia berhati baik bertebaran. Kesadaran untuk berbagi dan rasa empati yang tinggi mendorong para pemilik harta lebih untuk menyedekahkan kepada mereka yang kurang mampu. Kita ambil contoh pada hashtag yang terkenal di twitter #twitterdoyourmagic disana kita akan dapat dengan mudah menemukan orang-orang yang sekiranya membutuhkan bantuan. Dan seketika tweet terebut muncul, banyak yang me-reply-nya dengan bantuan dana dan lain sebagainya.

Selain menggunakan platform media sosial, saat ini sudah banyak situs yang menyediakan lumbung bagi siapa saja yang hendak bersedekah. Kita tinggal memilih kepada siapa kita titipkan sedekah kita. Apakah itu melalui yayasan, komunitas relawan pendidikan, relawan kesehatan, atau komunitas sosial lainnya. Dana-dana tersebut nantinya akan disalurkan sesuai dengan fokus kegiatannya. Ada yang digunakan untuk pendidikan, membiayai pelatihan, membangun daerah tertinggal atau bahkan membangunkan tempat tinggal.

Dana-dana yang diberikan kepada lembaga penyalur, cenderung lebih efektif daripada langsung memberikannya langsung kepada penerima bantuan.  Salah satu alasannya adalah karena pemberi dana tidak mengerti secara khusus apa yang sebenarnya dibutuhkan. Sedangkan lembaga penyalur biasanya terdiri dari relawan-relawan yang telah terjun langsung di lapangan.

Kita tidak bisa membagi rata bahwa semua anak pemulung membutuhkan alat tulis, semua anak yang tidak bersekolah mau bersekolah formal atau semua gelandangan memerlukan uang. Bantuan yang kita berikan hendaknya harus sesuai dengan kebutuhan sebenarnya mereka. Jangan sampai bantuan yang diterima justru sia-sia atau bahkan membuat penerima memiliki “mental meminta” untuk terus-terusan mengemis bantuan ke penderma lain.

Terkait hal ini saya memiliki kisah menarik. Dulu saya sempat tergabung di komunitas relawan untuk sekompleks lapak pemulung. Kita melakukan banyak kegiatan sosial dan juga menampung dana dari penderma. Ada suatu saat sebuah komunitas yang fokus kegiatannya bukan tentang kegiatan sosial memberikan bantuan baju bekas kepada lapak pemulung. Memang selama ini, para pemulung di lapak tersebut menggunakan baju bekas. Namun baju bekas yang diberikan kali ini benar-benar banyak sehingga tempat tinggal mereka tidak mampu menampungnya lagi. Tumpukan baju bekas ini menganggur di musholla dan tidak terpakai.

Ada lagi komunitas yang memberikan bantuan alat tulis kepada anak-anak disana. Padahal mereka tidak membutuhkannya, hasilnya alat-alat tulis tersebut tercecer berserakan dan terbuang tidak terpakai. Padahal daripada alat tulis dan pakaian, mereka lebih butuh biaya pendidikan dan pekerjaan.

Melihat kondisi tersebut saya sangat tidak setuju dengan pendapat orang bahwa tugas kita adalah memberi. Kita sudah mendapat pahala dari memberi, entah pemberian kita terpakai atau tidak itu urusan mereka. Bagaimana bisa kita membantu orang lain tanpa menaruh hati kita untuk ikhlas membantu mereka meningkatkan kualitas hidup. Bagaimana bisa di kegiatan sosial kita masih saja memikirkan diri sendiri, memikirkan pahala kita sendiri. Tidak memikirkan apa dampak dari pemberian kita ke mereka. Apakah benar seperti itu disebut sebagai bakti sosial? Atau itu sebenarnya adalah bakti diri sendiri?

Rahmat Allah sangatlah luas. Jika dikemudian hari setelah kita berusaha agar sedekah kita tepat sasaran namun ternyata masih salah sasaran, kita tak perlu bersedih. “Dan kebaikan apa saja yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui”. InsyaaAllah Allah akan membalas sesuai dengan keikhlasan kita. Semoga kita selalu memiliki hati yang tulus dan ikhlas dalam beribadah. Dan semoga Allah selalu memberikan kita petunjuk menuju jalan yang benar.

3
Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.