Nuzula Nailul Faiz Alumnus Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga

Lima Ayat dalam Surah al-Nisa’ yang Membahagiakan Ibn Mas’ud

2 min read

sumber: portal-islam.id

Abdullah bin Mas’ud termasuk salah satu sahabat yang begitu dekat dengan Nabi Muhammad. Beliau termasuk golongan al-sabiqun al-awwalun atau orang-orang pertama yang masuk Islam. Sejak masuk Islam, beliau menjadi pelayan Nabi sehingga begitu dekat dengan Nabi.

Ibn Mas’ud memiliki kecerdasan dan hafalan yang kuat. Ditambah, beliau punya privilese untuk belajar Al-Qur’an langsung kepada Nabi. Tak heran, beliau termasuk dari empat sahabat yang di-endorse Nabi agar umat Islam mengambil Al-Qur’an pada mereka. Keempat sahabat itu ialah Ibn Mas’ud, Salim, Mu’adz bin Jabal, dan Ubay bin Ka’ab.

Kemuliaan yang dimiliki Ibn Mas’ud membuatnya begitu layak untuk dijadikan panutan dan diperhatikan apa yang menjadi kebiasaan dan yang menjadi favorit beliau. Beliau pernah mengutarakan ayat-ayat dalam QS. al-Nisa’ yang menjadi favorit beliau.

Beliau pernah berkata, “Sesungguhnya dalam surah al-Nisa’ terdapat lima ayat yang membahagiakan bagiku daripada dunia dan seisinya.” Lima ayat tersebut yaitu adalah ayat 31, ayat 40, ayat 48, ayat 64 dan ayat 110.

Tulisan ini akan mencoba mengulas satu per satu kandungan ayat-ayat tersebut dan mengungkap kesamaan ayat-ayat tersebut, sehingga dapat diketahui mengapa ayat-ayat tersebut secara khusus dapat membahagiakan Ibn Mas’ud.

QS. al-Nisa’ Ayat 31

اِنْ تَجْتَنِبُوْا كَبَاۤىِٕرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُّدْخَلًا كَرِيْمًا ٣١

Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang (mengerjakan)-nya, niscaya Kami menghapus kesalahan-kesalahanmu dan Kami memasukkanmu ke tempat yang mulia (surga).

Ayat ini menunjukkan bahwa dosa itu terbagi menjadi dua, doa besar dan doa kecil. Dosa-dosa kecil, seperti melihat aurat lawan jenis yang bukan mahram, menurut ayat ini bisa diampuni dengan menjauhi dosa-dosa besar. Menjauhi dosa-dosa besar di sini menurut Syekh Wahbah Zuhaili berarti dengan melaksanakan hal-hal fardu.

Baca Juga  Antara Taqdir dan Sunnatullah

Definisi dosa besar sendiri menurut Ibnu Abbas ialah setiap dosa yang dibalas Allah dengan neraka, murka, laknat, atau azab. Contohnya menyekutukan Allah, kufur terhadap ayat-ayat Allah dan rasul-rasul-Nya, sihir, membunuh anak-anak, dan sebagainya.

QS. al-Nisa’ Ayat 40

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ ۚوَاِنْ تَكُ حَسَنَةً يُّضٰعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَّدُنْهُ اَجْرًا عَظِيْمًا ٤٠

Sesungguhnya Allah tidak akan menzalimi (seseorang) walaupun sebesar zarah. Jika (sesuatu yang sebesar zarah) itu berupa kebaikan, niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan pahala yang besar dari sisi-Nya.

Ayat ini menunjukkan bagaimana sucinya Allah dari berbagai bentuk kekurangan. Allah tidak akan menzalimi dan mengurangi pahala amal manusia sepeser pun.

Amal kebaikan yang dilakukan oleh orang kafir akan dibalas oleh Allah di dunia, sementara amal kebaikan orang mukmin akan dibalas dengan kenikmatan di dunia dan pahala di akhirat. Allah bahkan melipatgandakan pahala kebaikan dan memberikan balasan yang jelas lebih agung dari amal hambanya, yaitu surga.

QS. al-Nisa’ Ayat 48

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۚ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدِ افْتَرٰٓى اِثْمًا عَظِيْمًا ٤٨

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), tetapi Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Siapa pun yang mempersekutukan Allah sungguh telah berbuat dosa yang sangat besar.

Ayat ini menunjukkan besarnya dosa menyekutukan Allah dan tidak diampuninya dosa tersebut. Tetapi di sisi lain, ayat ini juga menunjukkan kedermawanan dan pengasihnya Allah, dengan membuka pintu ampunan untuk dosa-dosa lainnya bagi hamba yang Dia kehendaki. Karena mengesakan Allah sendiri merupakan kemuliaan jiwa, sehingga memungkinkan mendapatkan penghapusan dosa di akhirat kelak

Baca Juga  Kisah Anak Yatim di Hari Raya

QS. al-Nisa’ Ayat 64

وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا لِيُطَاعَ بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗوَلَوْ اَنَّهُمْ اِذْ ظَّلَمُوْٓا اَنْفُسَهُمْ جَاۤءُوْكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللّٰهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُوْلُ لَوَجَدُوا اللّٰهَ تَوَّابًا رَّحِيْمًا ٦٤

Kami tidak mengutus seorang rasul pun, kecuali untuk ditaati dengan izin Allah. Seandainya mereka (orang-orang munafik) setelah menzalimi dirinya datang kepadamu (Nabi Muhammad), lalu memohon ampunan kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampunan untuk mereka, niscaya mereka mendapati Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.

Ayat ini menunjukkan kewajiban untuk taat secara sempurna pada perintah-perintah, larangan, ketetapan, dan hukum-hukum yang diputuskan rasul. Dalam ayat ini juga disebutkan meminta ampun dari dosa dan melakukan tobat yang benar dengan memenuhi syarat-syaratnya merupakan jalan bagi dibersihkannya dosa-dosa dan dileburnya kesalahan-kesalahan.

Selain itu, ayat ini menunjukkan bagaimana permintaan ampun dari rasul bagi sebagian pendosa merupakan syafaat yang mustajabah dari Allah.

QS. al-Nisa’ Ayat 110

وَمَنْ يَّعْمَلْ سُوْۤءًا اَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهٗ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللّٰهَ يَجِدِ اللّٰهَ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا ١١٠

Siapa yang berbuat kejahatan atau menganiaya dirinya, kemudian memohon ampunan kepada Allah, niscaya akan mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Ayat ini menunjukkan terbukanya pintu taubat bagi para pendosa dan orang-orang yang bermaksiat pada Allah. Allah menyukai perilaku taubat dan orang-orang yang meminta ampun pada-Nya. Allah menegaskan dalam ayat ini bahwa Dia merupakan Dzat yang maha pengampun dosa dan maha pengasih pada orang-orang yang memiliki kekurangan.

Secara umum, kelima ayat tersebut menunjukkan betapa pengasihnya Allah pada para hambanya. Allah tidak akan menzalimi dan mengurangi amal kebaikan dari para hambanya, bahkan Allah akan melipatgandakan dan membalasnya dengan surga yang nikmatnya berkali-kali lipat bila dibanding amalnya.

Baca Juga  Kisah Pengembala Kambing, Prank dan Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Sementara untuk dosa dan maksiat yang dilakukan hamba-Nya, Allah membukakan pintu taubatnya, entah itu langsung dapat ampunan dari-Nya atau melalui syafaat rasul-Nya, selama hamba-Nya mau minta ampun, menjauhi dosa besar dan tidak menyekutukan Allah

Kewelasan Allah pada hamba-Nya inilah yang barangkali membahagiakan Ibn Mas’ud, lebih-lebih bagi para pendosa dan kita semua. Wallahualam bisshawab. [AR]

Nuzula Nailul Faiz Alumnus Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga