



Pendekatan pengajaran wasathiyah di lembaga pendidikan Islam selama ini masih cenderung hanya menyentuh permukaan. Walau hadir untuk menengahi pemahaman Islam ekstrem kanan dan ekstrem kiri, iamasih terjebak dalam pendekatan yang dogmatis.
Model pengajaran meskipun mendalam dan penting untuk keberlangsungan toleransi yang tidak hanya sekedar permukaan, tetapi akan kesulitan memfasilitasi dialog konstruktif dengan isu-isu kontroversial. Minimnya ruang perjumpaan antara mayoritas dan minoritas, semakin menambah lubang yang cukup lebar dalam pengajaran wasathiyah ini.
Untuk menambal lubang-lubang tersebut, diperlukan adanya inovasi. Salah satunya adalah dengan menggunakan narrative framework yang dibingkai secara informal untuk menonjolkan nuansa kekeluargaan yang dibutuhkan dalam dialog antar agama.
Pendekatan ini membuka ruang perjumpaan langsung antara pemeluk agama dan dialog aman mengenai isu sensitif terkait agama lain. Penumbuhan empati melalui pendekatan ini juga bisa mengubah para peserta didik untuk menjadi subjek aktif yang berpikir kritis, berempati, memiliki pemahaman mendalam dan komitmen personal untuk memperjuangkan wasathiyah.
Persoalan Pengajaran Wasathiyah di Lembaga Pendidikan Keagamaan
Persoalan pengajaran wasathiyah yang masih dogmatis ini terkait erat dengan pendekatan yang digunakan dalam pendidikan agama. Pendidikan agama masih terjebak dalam ranah normatif-doktriner yang berorientasi pada salah satu disiplin ilmu tertentu: ilmu fikih (Harto & Tastin, 2019).
Tidak didekatinya agama melalui dimensi lain, juga kurang adaptifnya terhadap kompleksitas yang menjadi karakter era digital (Mubarok et al., 2025), membuat wasathiyah ketika diajarkan menjadi kaku. Para peserta didik tidak diajak untuk menyentuh dimensi pengalaman dan refleksi kritis kehidupan sehari-hari yang membuat mereka menyadari pentingnya menjalankan prinsip wasathiyah.
Wasathiyah yang penting untuk meningkatkan pemikiran kritis di era post-truth, tiba-tiba menjadi layu akibat diajarkan dalam pendidikan agama yang menekankan taqlid (mengikuti buta) dan mengabaikan perangkat ilmu ijtihad (Suswita, 2025), serta bersifat dogamtis.
Pengajaran secara dogmatis itu membuat berkurangnya ruang diskusi yang aman untuk membahas isu-isu kontroversial atau sensitif seputar keberagaman dan intoleransi. Padahal lembaga pendidikan seharusnya menjadi ruang aman untuk para murid berdialog dan menghilangkan prasangka serta kesalahpahaman terhadap pemeluk agama lain.
Isu-isu sensitif yang tidak segera dicarikan jawaban dan klarifikasi itu bisa menjadi bom waktu yang bisa dimanfaatkan pihak tertentu untuk menjerumuskan dalam kesalahpahaman dan ekstrimisme.
Munculnya permasalahan ini mesti ditarik dengan garis yang lebih luas, karena memang konteks sosial dan politik yang lebih luas berdampak pada struktur mikro seperti interaksi di kelas (Vikdahl, 2023). Itu berarti, tidak terakomodasinya isu-isu sensitif seperti hak-hak dasar umat minoritas dalam demokrasi, berkaitan erat dengan konteks sosial politik yang memang cenderung abai terhadap kalangan minoritas.
Selain itu, prasangka dan kesalahpahaman semakin bertambah akibat kurangnya interaksi langsung dengan pemeluk agama lain. Seorang santri, misalnya, akan terheran-heran ketika melihat rumah ibadah agama Buddha dan Konghucu yang penuh dengan patung-patung dewa, dan mungkin akan menganggap pemeluknya adalah penyembah berhala.
Kesalahpahaman itu terus ada, karena ia tidak memiliki kawan dari agama tersebut untuk menjelaskan kesalahpahamannya. Ini penting karena memang kualitas yang baik mengenai kontak lintas agama secara signifikan bisa mengurangi prasangka sektarian (Lak et al., 2024). Ketiga persoalan dalam pengajaran washatiyah ini tentu saja membutuhkan solusi dan jalan keluarnya.
Narrative Framework sebagai Solusi
Narrative framework (kerangka naratif) bisa mengatasi tiga persoalan dalam pengajaran wasathiyah tersebut karena bisa membangun empati dan critical thinking, membuka dialog yang aman dan santai, serta menghadirkan perjumpaan langsung sebagai kunci simpati.
Narrative framework dalam pengajaran agama adalah sebuah pendekatan pedagogis yang komprehensif, yang berakar pada asumsi bahwa individu dan komunitas dibentuk oleh cerita-cerita yang mereka baca, bagi, dan hayati. Hal ini membantu memupuk pemikiran kritis dari para siswa sehingga mereka dapat lebih memahami identitas dan kompleksitas agama (Reed et al., 2013).
Narrative framework berpusat pada para siswa, dimana dalam konteks ini secara praktisnya, murid-murid akan diminta membagikan pengalamannya berinteraksi atau persepsi pada mereka.
Saling membagi cerita ini bisa memancing rasa kritis dan penasaran mereka terhadap kepercayaan agama lain, yang bisa dijawab oleh pemeluk agama tersebut, yang dilibatkan dalam pengajaran ini untuk melakukan perjumpaan lintas agama.
Framework ini merangsang analisis kritis terhadap akar intoleransi dan mekanisme radikalisme. Secara natural mereka akan mempertanyakan pihak-pihak yang terlibat dalam intoleransi terhadap minoritas mengenai apa sebenarnya tujuan dan latar belakang di balik itu.
Tetapi yang penting dicatat, narrative framework mesti dipastikan dapat membuka dialog yang aman dan santai. Diskusi dalam narrative framework berangkat dari cerita sehari-hari yang nyata, bukan dogma dari agama.
Karena itu bagian dari cerita sehari-hari dengan bahasa yang sudah terfilter dengan tata krama dan kebersamaan yang ditonjolkan selama pengajaran. Framework ini menciptakan dinamika belajar yang mengasyikkan, partisipatif, dan mendalam meski membahas topik berat. Topik berat seperti konsep ‘kafir’ misalnya, bisa diselingi dengan sindiran bertajuk bercanda kepada pihak yang sering menyerang menggunakan konsep itu.
Narrative framework akan semakin efektif bila juga mengakomodir perjumpaan langsung dengan pemeluk agama yang sedang dibahas. Interaksi langsung dengan yang selama ini dianggap “orang lain” (the other) bisa menghancurkan stereotip dan abstraksi yang selama ini melekat.
Prasangka dan kesalahpahaman bisa ditanyakan secara baik pada pemeluk agama tersebut dan bisa merasakan kesamaan perasaan dalam beragama. Empati akhirnya bisa muncul secara alami, dan mendorong keinginan untuk membangun kehidupan yang harmoni dan berusaha mencegah adanya kasus intoleransi dan ekstremisme.
Dengan adanya narrative framework untuk diadopsi dalam pengajaran wasathiyah ini diharapkan dapat memperdalam pemahaman wasathiyah, dari sekadar wacana menjadi nilai yang diinternalisasi melalui empati dan pengalaman personal. Pendekatan humanis dan empatiknya bisa membangun agensi aktif dengan menciptakan agen-agen wasathiyah yang tercerahkan, kritis dan proaktif karena memiliki motivasi intrinsik. Selain itu, pendekatan ini lebih bisa menyentuh langsung penyebab intoleransi, ketidaktahuan dan minimnya pertemuan, dengan cara yang nyaman, berkesan, dan efektif.
Mahasiswa Pascasarjana program Agama dan Lintas Budaya (CRCS), UGM