Octaviani Erman Nanda S1 Unida Gontor; S2 Pascasarjana UIN Sunan Ampel; Guru dan Asisten Dosen

Teologi Kemanusiaan Hassan Hanafi

2 min read

Hassan Hanafi (l.1935) merupakan salah satu intelektual Muslim kelahiran Mesir yang berjuang membangkitkan peradaban Islam. Ia menaruh perhatian atas pembaruan atau lebih tepatnya sering disebut rekonstruksi ilmu-ilmu keislaman (klasik) seperti ilmu Ushuluddin untuk disesuaikan dengan realitas objektif.

Hanafi juga disebut sebagai sosok intelektual Muslim yang unik, karena pemikirannya mengkritisi pemikiran tradisionalis dan modernis sekaligus.

Oleh Hanafi, tradisi dan modernisasi diletakkan dalam tiga agenda utama, yaitu sikap kita terhadap tradisi, sikap kita terhadap Barat, dan sikap kita terhadap realitas. Dalam pandangan Hanafi, agama tidak hanya sebagai ritual-ritual agama dan aspek ke Tuhanan saja.

Menurutnya, Islam adalah etika, kemanusiaan, serta ilmu sosial. Islam benar-benar merupakan deskripi seorang manusia dalam masyarakat, kebutuhan primernya, komitmen moralnya dan aksi sosialnya. Kehadiran Islam dalam kehidupan manusia, mendorong lahirnya inisiatif serta kreativitas manusia untuk dapat menjaga komitmen dan tuntutan sosial.

Salah satu latar belakang munculnya gagasan teologi antoposentris Hanafi adalah sikap Islam terhadap tradisi, yang mana kala itu kelompok tradisionalis klasik menyikapi tradisi Islam dengan solusi dan sikap-sikap yang bersifat otoritatif.

Kelompok-kelompok yang lebih memilih jalan aman dalam menyikapi persoalan kalam menjadi pemenang atas kelompok oposisi, hal ini yang menyebabkan terjadinya pertarungan antara kekuatan penguasa dan oposisi, dan menyempitkan wilayah gerak manusia dalam berpikir.

Pengembangan manusia sebagai realitas aktual tidak mempunyai kapabilitas untuk bertindak, sedangkan relasionalisasi (penggantungan) nasib manusia kepada kehendak “yang lain” hanya untuk meniadakan kapabilitas dan kebebasan manusia serta menjadikannya secara terus-menerus sebagai pengikut “yang lain” dan berpegang teguh kepadanya.

Hanafi menghadirkan kritik terhadap teologi Islam yang telah ada. Dalam persoalan tersebut, Hanafi menawarkan kerangka hermeneutika Schleimacher, yang menjadikan psikologi sebagai upaya interpretasi dan menangkap kemauan seseorang. Konsep tersebut dapat digunakan sebagai penggambaran akan potret kehendak masyarakat, sehingga orientasi teologi yang diharapkan dapat diguanakan sebagai terapan dalam aktivitas kehidupan umat.

Baca Juga  Matematikawan Islam Pada Masa Khilafah

Di dalam karya monumental Hassan Hanafi yang berjudul Min al-‘Aqidah ila ats-Tsawrah, tertuang agenda pertamanya (sikap kita terhadap tradisi lama). Dalam karya tersebut Hanafi berhasil memperlihatkan pentingnya kesadaran wa‘yu tentang manusia dan sejarah yang sebenarnya sangat kuat dalam teologi-teologi Islam klasik, namun sering kali tersembunyi, atau sengaja disembunyikan, dibalik kuatnya pencitraan tentang Tuhan.

Konsep teologi yang ditawarkan oleh Hassan Hanafi, adalah teologi yang berpusat pada manusia, karena menurutnya manusia adalah pusat segala kehidupan. Konsep teologi humanis atau antroposentris ini, dijelaskannya melalui tiga premis teori: (1) tentang ilmu sebagai jawaban atas pertanyaan bagaimana aku mengetahui, (2) tentang eksistensi sebagai jawaban atas pertanyaan apa yang aku ketahui, dan (3) tentang aksiologi (teori nilai), sebagai jawaban atas pertanyaan apa yang aku pikirkan.

Dengan memperhatikan penjelasan ketiga premis di atas, tampak bahwa bangunan konsep teologi Humanis Hassan Hanafi berangkat dari dan untuk manusia. Konsep teologi yang ia tawarkan, bukanlah murni dari hasil pemikiran tunggalnya, namun ia mengadopsi pemikiran Rene Descartes (1596-1650).

Keimanan seorang Muslim terkandung dalam ikrar dua syahadat, kesaksian terhadap keEsaan Allah dan Nabi Muhammad merupakan utusan Allah. Konsep tauhid yang terkandung dalam pandangan Hassan Hanafi tidak terlepas dari ikrar ke-Esa-an Allah. Tauhid mempunyai fungsi praktis untuk menghasilkan perilaku dan iman yang diarahkan pada perubahan kehidupan masyarakat dan sistem sosialnya.

Para nabi muncul dan melakukan revolusi untuk membuat reformasi ke arah kondisi-kondisi yang lebih baik. Para nabi adalah pendidik kemanusiaan untuk mencapai kemajuan dan kesempurnaan. Akhir kenabian adalah bahwa kemanusiaan menjadi kemerdekaan akal, dan ia mulai bergerak sendiri ke arah kemajuan.

Dalam pandangan Hassan Hanafi, gerakan reformasi religius yang digagas oleh cendikiawan Muslim masih bersifat persial-periferal, lebih berhubungan dengan formalitas peribadatan dan tidak menghasilkan kerangka teoritik yang dapat diterapkan dalam kehidupan.

Baca Juga  Nuzul al-Qur’an: Mukjizat Hadir di Bulan Ramadan (Bag-2 Habis)

Reformasi religius tetap melakukan diskursus tentang dunia internal untuk mengobarkan kesadaran dan konstruksi individu, bahkan melakukan diskursus tentang dunia eksternal dan perubahan sistem sosial, dalam arti tetap sebagai reformasi tentang (dunia) mental, bukan perubahan (dunia) nyata.

Menjaga peradaban Islam terdahulu dilakukan oleh para Ulama dengan menggunakan senjata ilmu. Hal itu nyatanya berhasil menaklukan beberapa negara kala itu, seperi Persia dan Romawi. Maka, Hassan Hanafi kemudian menggagas bahwa peradaban saat ini membutuhkan aksi praksis bukan hanya teori dalam ilmu semata.

Peradaban saat ini membutuhkan al-ta’shīl al-‘aqlī dan juga al-ta’shīl al-wāqi‘i yang mampu menghiasi pandangan para cendekiawan Muslim saat ini. Hal ini tentu untuk mewujudkan adanya keterikatan antara konsep tauhid dan perbuatan, antara Allah dan dunia, antara Dzat Allah dan Dzat manusia, serta sifat Ilahiah dan sifat manusia, antara keinginan Allah dan kebebasan manusia, dan kehendak Allah dengan peradaban. [MZ]

Octaviani Erman Nanda S1 Unida Gontor; S2 Pascasarjana UIN Sunan Ampel; Guru dan Asisten Dosen