Priska Nur Safitri Pegiat literasi alumni Program Pascasarjana UIN Wali Songo, Semarang

Merajut Toleransi Beragama

2 min read

Sumber: https://biografi.kamikamu.co.id/

Semboyan bangsa Indonesia yang berbhinneka tunggal ika, diterjemahkan sebagai apapun perbedaan yang ada tetap menjadi satu kesatuan yaitu Indonesia. Semboyan yang menggambarkan bangsa Indonesia yang memiliki persatuan dan kesatuan yang beraneka ragam seperti agama, suku, ras antar golongan atau kepercayaan. Persoalan agama, sebagai bentuk persoalan yang sensitif karena menyangkut doktrin.

Namun dinamika saat ini untuk mewujudkan kebhinekaan masih ditemukan orang yang tak paham toleransi. Dasarnya manusia selalu memiliki keinginan untuk hidup nyaman sejahtera. Manusia membutuhkan petunjuk mengenai apa yang baik serta benar dalam kehidupannya.

Keharmonisan masyarakat dalam lintas agama diwujudkan melalui manusianya yang taat beragama bukan pada agamanya. Namun bagaimana dengan konflik yang mengatasnamakan agama? konflik agama merupakan bentuk pertikaian, perkelahian, permusuhan baik berupa kekerasan maupun aksi yang melibatkan isu-isu dalam bingkai keagamaan karena pemeluk agama kurang pendalami dan memahami terhadap agamanya. Konflik muncul akibat adanya konstestasi ingin merebutkan peluang yang berujung pada kemenangan.

Pada pertengahan 2018, SETARA Institute mengatakan ada 109 pelanggaran KBB (Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan) dengan 136 tindakan yang tersebar di 20 provinsi. Tingginya angka pelanggaran terhadap kelompok minoritas menunjukkan belum terbentuknya prasyarat substantif terkait bagaimana idealnya/ role model kebebasan dalam beragama.

Perbedaan, termasuk agama, bukan menjadi masalah. Pemerintah melalui pasal 29 ayat 2 menegaskan “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama dan beribadah menurut agama dan kepercayaan mereka masing-masing.” Jaminan konstitusional tersebut diperkuat dengan Pasal 28E Ayat (1 & 2), UU No. 39/1999 tentang Hak Asasi Manusia, dan UU No. 12/2005 tentang Pengesahan Konvensi Internasional Hak Sipil dan Politik.Mengutip pendapat Socrates bahwa saat kita berbeda iman/ agama/ ideologi tetapi kita saudara dalam kemanusian, cinta kasih, perdamaian dan keadilan.

Baca Juga  Sikap Gus Dur Menghadapi Kelompok Islam Garis Keras [1]

Agama Islam juga dalam surat Al Kafirun diterangkan bahwasannya “Katakanlah Muhammad, “Wahai orang-orang kafir!. Aku tidak menyembah apa yang kamu semua sembah. Dan kamu semua tidak akan menyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Bagi kamu agamamu bagi ku agamaku”.

Pada dasarnya semua agama mengajarkan kebaikan dan kedamaian bagi kehidupan manusia. Bila agama Hindhu mengajarkan Ahimsa yang artinya tidak boleh membunuh atau menyakiti. Kristen, dengan ajaran cinta kasihnya. Budha dengan ajaran kesederhanaannya. Islam yang mengajarkan Rahmatan Lil Alamiin (kasih sayang bagi semesta alam).

Kerukunan umat beragama menyadari bahwa dirinya dengan orang lain ada berbedaan namun tidak mempermasalahkan perbedaan itu. Mereka akan saling melakukan koordinasi, bersinergi bersama dalam menjalalankan hal-hal tertentu sehingga muncul kesepakatan bersama namun tidak memiliki kaitan terhadap kepercayaan agama.

Terpenting adalah bagaimana setiap manusia memaknai perbedaan tersebut.  Dalam al Qur’an surat Al Hujurat ayat 10 yang artinya “Hai manusia, sesungguhnya telah aku ciptakan kamu terdiri dari laki-laki dan perempuan, dan dijadikannya kamu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar supaya kamu saling mengenal (saling memahami). Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa”.

Ayat tersebut dapat dipahami bahwa setiap orang mukmin memiliki ikatan dalam persaudaraan. Orang yang beriman akan mendamaikan saudaranya yang bertikai. Allah mengajarkan kita untuk saling memahami dan mengenal. Kerjakanlah perintah Allah supaya mendapatkan Rahmad dariNya. Karena derajat yang paling tinggi di sisiNya adalah takwa.

Menghormati agama lain merupakan bentuk kecintaan kita pada agama kita yang mana setiap agama mengajarkan ‘kebaikan’ bagi pemeluk dan kecintaannya pada Indonesia. Mewujudkan harmoni persatuan dan kesatuan antar umat beragama melalui keragaman yang ada akan tercipta kemajuan dalam hal pembangunan manusia yang berkarakter dan berbudi pekerti luhur.

Baca Juga  Dari Imam-Mujtahid ke Presiden, Dari Imam-Quraisy ke Imam Mahdi

Bijaksana dan arif memaknai perbedaan maka akan menemukan keunikan yang merupakan suatu kelebihan yang bisa kita banggakan pada dunia, bahwa masyarakat Indonesia dengan aneka macam keanekaragaman agama mampu hidup rukun berdampingan dan rukun.

Toleransi dalam lintas agama sebagai perwujudan untuk belajar cara ‘menghargai’ dan sebagai solusi atas masalah yang menyangkut keagamaan. Bung Karno pernah bilang pada kita tentang arti dari nilai ketuhanan. Ketuhanan mengajak kita menjaga persaudaraan, dan berkebudayaan, dalam memompa kesetiakawanan, serta gotong royong dalam berbangsa.

Oleh karenanya marilah kita mulai dari diri sendiri, hari ini, saat ini untuk menghargai perbedaan. Perbedaan akan menjadi indah bila kita saling menghargai, mengayomi serta tidak menganggap milik kita paling tepat.  Karena perbedaan adalah sebuah keniscayaan yang dianugrahkan Tuhan pada umatnya.

Melalui perbedaan akan memupuk toleransi dan mengajarkan rasa kemanusian karena kita sama-sama makhluk Allah SWT. Sikap toleran dalam beragama akan menjauhkan manusia dari payung ekstrimisme dan radikalisme. (MMSM)

 

Priska Nur Safitri
Priska Nur Safitri Pegiat literasi alumni Program Pascasarjana UIN Wali Songo, Semarang