Priska Nur Safitri Pegiat literasi alumni Program Pascasarjana UIN Wali Songo, Semarang

Pentingnya Dakwah dalam Menekan Penyebaran Hoaks COVID-19

2 min read

ltnnujabar.or.id

Hoaks sebagai permasalahan serius yang merusak demokratisasi serta memecah persatuan dan kesatuan.  Di perparah dengan mudahnya berbagi informasi di sosial media menjadikan pesan hoaks mudah menyebar. Kecepatan teknologi komunikasi tak di dukung dengan tingkat pengetahuan literasi masyarakat yang mumpuni, sehingga hoaks mudah viral.

Informasi yang belum tentu kebenarannya juga berdampak negatif bagi pihak atau aktor yang menjadi sasaran dari hoaks. Data menurut We Are Sosial dalam laporan “Digital 2021” menyebut masyarakat Indonesia menggunakan internet mencapai 202,6 juta jiwa atau 73,7% dari total populasi masyarakat Indonesia yaitu 274,9 juta jiwa.

Situs layanan content management Hoot Suite menyebut rata-rata masyarakat menghabiskan waktu 8 jam 52 menit/ hari untuk mengakses internet. Pengguna internet, menggunakan internet paling banyak adalah akses terhadap media sosial. Rata rata menggunakan waktu 3 jam 14 menit.

Mastel 2019 menyebut penyebaran hoaks paling banyak adalah media sosial. Kominfo 2021 menyebut media sosial Facebook mendominasi sebagai saluran penyebaran hoaks. TIM AIS Kominfo mengatakan telah melakukan takedown terhadap konten hoaks, termasuk seputar COVID-19 hingga hoaks seputar vaksinasinya.

Survey theconversation.com yang dipresentasikan di (ANPOR) Asian Network for Public Opinion Research 2018 menyebut bahwa, lamanya waktu menghabiskan waktu di internet memiliki kecenderungan dalam menyebarkan hoaks. Hingga Agustus 2020 Kominfo menyebut ada 1.028 konten hoaks seputar pandemi COVID-19 yang beredar di masyarakat. Selain itu Kominfo menyebut ada 567 hoaks vaksin COVID-19 hingga 22 Februari 2021.

Pandemi COVID-19, akhibat Corona Virus Desease bukan hanya berdampak pada ekonomi, kesehatan, namun juga merasuk pada ranah digital yakni hoaks COVID-19 yang berseliweran di lini media sosial. Dalam memutus mata rantai COVID-19, Pemerintah sudah menghimbau masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan (prokes).

Baca Juga  Puasa adalah Ibadah Substantif

Namun masih banyak masyarakat yang abai dengan protokol kesehatan. Catatan Lembaga Survei Paramater Politik Februari 2021 menyebut tingkat kepatuhan masyarakat terhadap protokol COVID-19 hanya sebesar 54,8%. Artinya angka tersebut masih jauh dari harapan guna memutus mata rantai.

Ajakan menaati prokes bila dilakukan secara serempak, maka tak menuntut kemungkinan bahwa hoaks COVID-19 mampu difilterisasi dengan baik bagi penerima. Atau hoaks tersebut menjadi basi karena ketahanan literasi yang baik, sehingga tak ditelan mentah-mentah dan tak mengikuti perintah dari konten hoaks tersebut.

Dalam melakukan hal tersebut dibutuhkan peran siapun yang ‘peduli’ dalam mengajak pada suatu hal baik. Dalam Islam disebutkan bahwa ajakan pada suatu kebaikan merupakan esensi dari dakwah. Menekan laju hoaks COVID-19 adalah bentuk amar ma’ruf nahi munkar.

Era post trut, tantangan dakwah menjadi komplek dalam menekan laju hoaks. Al Quran surat Al Hujurat ayat 6 menyebut bahwa “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kamu orang fasik yang membawa berita, bersungguh sungguhlah dalam mencari fakta supaya tak menimpa musibah kepada kaum tanpa pengetahuan yang menyebabkan kamu atas perbuatan kamu menjadi orang yang menyesal”.

Ayat tersebut menekankan pentingnya melakukan klarifikasi kebenaran sekaligus menyeleksi informasi benar dan bermanfaat atau tidak dengan melakukan ‘tabayyun’.

Melakukan cross check informasi yang belum tentu validitasnya, merupakan langkah awal dalam melakukan countering suatu informasi yang terindikasi hoaks. Dakwah sebagai aktivitas yang dinamis sejatinya menyadarkan manusia pada kebaikan, sehingga tugas dari setiap muslim adalah wajib memberi pengertian dan menyadarkan umat terhadap penyebaran informasi hoaks. Sekaligus mengajak masyarakat untuk  berfikir dan menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Da’i atau siapapun yang memiliki kepedulian terhadap hoaks harus mampu menerapkan dakwah di ranah digital untuk menekan penyebaran hoaks COVID-19 melalui dakwah sosial media. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara;

Baca Juga  Apakah Lulusan Universitas Islam Selalu Jadi Kyai?

Pertama, pesan yang hendak disampaikan berdasarkan kaidah al Qur’an dan hadis’t, dengan penyampaian materi tanpa dicampuri opini, kemudian disinkronisasikan dengan target sasaran serta materi dielaborasikan dengan peristiwa yang lagi hangat di masyarakat. Kedua, jangan beri tekanan psikologis bagi penerima pesan, namun persuasi mereka dengan motivasi untuk berbuat kebajikan.

Selain itu peran pemuka agama juga penting untuk mentransformasikan amar ma’ruf nahi munkar. Bagi setiap muslim juga memiliki tanggung jawab yang sama yaitu memanusiakan teknologi, termasuk media sosial, untuk hal positif dalam menekan penyebaran hoaks, sebagai wujud cinta sesama makhluk supaya tidak terpolarisasi hoaks yang menyesatkan. Sekaligus membantu pemerintah menekan angka terkonfirmasi positif COVID-19, namun juga wujud kesadaran dalam dunia virtual guna menekan penyebaran hoaks, maupun konten yang unfaedah.

Orientasi dakwah adalah mengajak kebaikan dengan tidak asal membagi pesan yang belum tentu kebenarannya. Dengan melakukan hal tersebut sebagai kedewasaan dalam bermedia sehingga dapat membawa rahmah bagi semesta. Dengan mempertimbangkan ‘manfaat’ dari informasi akan membentuk pribadi tangguh sebagai benteng dirinya sendiri dan sekitanya, serta mengajak masyarakat mampu melakukan filterisasi informasi dalam menekan penyebaran hoaks melalui konten positif di media sosial. (mmsm)

Priska Nur Safitri Pegiat literasi alumni Program Pascasarjana UIN Wali Songo, Semarang