Redaksi Redaksi Arrahim.ID

Gus Pitik

1 min read

Di pesantren, terutama pesantren-pesantren tradisional, adalah hal lumrah para santri hidup sederhana. Untuk makan sehari-hari, biasanya para santri masak sendiri. Untuk keperluan ini, mereka membuat kelompok masak antara 2-4 orang santri, sekalipun ada juga santri yang masak seorang diri. Mereka urunan untuk membeli kompor dan bahan-bahan yang diperlukan. Di dalam kelompok disepakati jadwal giliran siapa yang akan memasak. Setelah matang, semuanya akan diletakkan di atas baki atau daun pisang atau apa saja yang bisa ditemukan yang dianggap “pantas” untuk menaruh makanan. Apakah higienis? Maaf, higienis tidak masuk dalam pertimbangan.

Jangan pernah dibayangkan menunya seperti apa. Yang mereka makan biasanya hanya nasi, sambal ala kadarnya, dan lauk ala kadarnya. Mereka akan duduk mengelilingi baki untuk makan bersama. Saking terbatasnya makanan yang tersedia, diam-diam terjadi kompetisi untuk mendapatkan jatah pulukan yang paling akhir, sekalipun dengan itu dia harus menanggung konsekuensi membersihkan baki yang dipakai sebagai tempat makan itu.

Sesekali ada momen di mana mereka tidak masak. Mungkin karena tidak sempat, mungkin karena baru mendapat kiriman uang dari rumah. Biasanya mereka akan makan di warung sederhana yang ada di sekitar pondok. Menu yang disediakan warung ini sesungguhnya juga sangat sederhana. Tidak jauh berbeda dari apa yang dimasak sehari-hari. Tapi aura warung tetap menghadirkan kesan mewah dan eksklusif. Sesekali santri juga memerlukan perasaan mewah dan eksklusif itu.

Nah, ini adalah kisah dua orang santri yang terikat dalam persahabatan “kelompok masak”. Namanya Hakim dan Teguh. Hari itu mereka tidak masak. Karena kantong masih tebal, mereka berdua memutuskan untuk sedikit saja merasakan kemewahan hidup dengan makan di warung sebelah pondok. Menu yang dipilih adalah: nasi plus sayur lodeh plus ikan pindang. Sebetulnya itu bukan menu pilihan karena itulah satu-satunya menu yang tersedia. Itu pun sudah membuat mereka berdua bergaya seperti juragan ayam.

Baca Juga  Konsep Insan Kamil Syaikh Abdul Karim Al-Jili

Dengan duduk medingkrang, satu kaki diletakkan di atas kursi panjang atau dingklik warung, mereka makan pelan-pelan seakan tidak ingin lekas sampai di ujung pesta. Sambil makan, mereka berdua ngobrol asyik ngalor ngidul.

Di tengah-tengah keasyikan makan, tiba-tiba seekor ayam masuk ke dalam warung. Kehadiran ayam tentu sangat mengganggu suasana yang ingin mereka nikmati secara eksklusif itu. Mereka tak rela berbagi kebahagiaan dengan ayam. Seekor ayam yang masuk ke warung tidak memiliki maksud lain selain mengincar makanan apa saja yang bisa diserobotnya. Apalagi kalau tiba-tiba si ayam nelek, pasti hancurlah pesta makan lauk pindang itu.

Sontak, Teguh bangkit berdiri. Dengan penuh kejengkelan dia mengusir ayama reseh itu, “Hsyah…hsyah…!

Melihat kejadian itu, Hakim melarang Teguh.

“Guh, jangan diusir, itu ayam Pak Kiai!”

Di pesantren, adalah lumrah juga santri menghormati kiai, keluarganya, dan segala sesuatu yang dimiliki kiai, termasuk hewan piaraannya. Entah bagaimana Hakim bisa tahu bahwa itu adalah ayam Pak Kiai. Mungkin dia hanya menggoda Teguh.

Mendapat peringatan Hakim seperti itu, Teguh langsung membungkuk hormat ke arah si ayam. Dengan mengarahkan jempol tangan kanannya ke arah pintu, teguh berkata sopan ke ayam,

“Monggo Gus Pitik, dipun aturi medal sae-sae nggih. Hsyah…! (Silakan Gus Ayam, dipersilakan keluar baik-baik. Hsyah…!).

Setelah “Gus Pitik” keluar, pesta pun kembali dilanjutkan hingga suap terakhir di warung yang sungguh mewah dan eksklusif itu. [MZ]

Redaksi Redaksi Arrahim.ID

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *