Redaksi Redaksi Arrahim.ID

Mahasiswa Prodi Studi Agama-Agama UINSA Adakan Peace Camp Virtual Beragama dengan Cerdas dan Santuy

1 min read

Surabaya – Himpunan Mahasiswa Prodi Studi Agama-Agama (HMP SAA), UIN Sunan Ampel  mengadakan Peace Camp #Virtual (Minggu, 15/11) . Agenda tersebut sebagai bentuk pengantar para mahasiswa baru angkatan 2020 untuk masuk dalam pembelajaran keilmuan SAA. Setidaknya ada tujuh puluh enam mahasiswa baru SAA yang mengikuti acara ini.

Peace Camp ke-2 ini memang agak berbeda dengan tahun kemarin, hanya saja dulu dilakukan secara offline namun sekarang dilakukan secara online atau virtual.

“Hal ini merupakan sebagai jawaban dari pandemi Covid-19, yang mana meski transisi model pembelajaran sangat berbeda setidaknya teman-teman HMP SAA mampu melakukan kreatifitas atas keterbatasan ruang gerak seperti saat ini. Maka melewati diskusi dari berbagai pihak akhirnya muncul ide Peace Camp #virtual” Ujar, Balya selaku ketua HMP SAA.

Meski secara virtual, panitia mengundang beberapa narasumber yang berkompeten yaitu, Akhol Firdaus sebagai Direktur Javanese Research, Nur Khalik Ridwan, penulis atau intelektual Nahdliyin, dan M. Thoriqul Huda, Dosen Filsafat di IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Kediri, serta Munawwir, Dewan Eksekutif Mahasiswa, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel. Peace Camp kali ini mengusung tema “Beragama dengan Cerdas dan Santuy” sebagai bentuk respon terhadap kondisi beragama masyarakat saat ini.

“Alasan kami mengusung tema ini adalah karena hari ini kita melihat banyak orang beragama yang terlalu terbawa oleh sifat kefanatikan terhadap agamanya sendiri tanpa menimbang memahami terlebih dahulu suatu fenomena yg terjadi di agama. Jadi kami membuat tema beragama dengan cerdas dan santuy ini memiliki arti agar kita dalam beragama itu harus memiliki kecerderdasan dalam bertindak. Dan juga dalam bertindak kita itu harus santuy dalam artian kita itu harus tetap tenang dan mempertimbangkan atas fenomena-fenomena keagamaan yang terjadi”, ungkap Ali Hafidz selaku ketua pelaksana.

Baca Juga  Menteri Agama: ISRL 2020 Menguatkan Nilai Kemanusiaan dan Membangun Peradaban

Dekan fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Kunawi Basyir juga menanggapi kegiatan Peace Camp tersebut. Menurutnya, di era millennial ini, agama seolah-olah menjadi kurang bermakna karena banyak truth claim antar gerakan dengan latar belakang yang berbeda mengenai makna ke-Islam-an itu sendiri.

Basyir, mengatakan “Sebagai generasi muda terutama bagi program studi SAA, saya kira perlu belajar lebih dalam tentang makna keislaman dengan menggali fenomena kekinian yg kemudian didialogkan dengan teks-teks keagamaan melalui epstimologi dan integrasi-interkoneksi, hal ini perlu agar bagi pemeluk agama tidak akan kehilangan makna (value) pesan yang disampaikan oleh setiap agama (kitab sucinya).”

“Kita perlu memahami makna tersebut agar sebagai generasi muda kita mampu mengamalkan dan mengimplenentasikan ajaran agama dengan cara cerdas dan santun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di tengah masyarakat multicultural,” pungkasnya. [AA]

Redaksi
Redaksi Redaksi Arrahim.ID