



Dalam komitmen memperjuangkan keadilan lingkungan, Jaringan GUSDURian bersama Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiiyah Seblak Jombang menggelar Festival JAGAT (Jejaring Agama untuk Gerakan Alam dan Toleransi) dengan tema “Agama untuk Alam Semesta: Merusak Alam Sama dengan Merusak Kemanusiaan” di Seblak, Jombang pada Sabtu (29/ 08/2026).
Salah satu tujuan dari acara tersebut adalah mendorong organisasi keagamaan gama agar lebih peduli lingkungan. Salah satu narasumber, Zainal Abidin Bagir, CRCS UGM, mengatakan bahwa tidak semua organisasi keagamaan pro dengan lingkungan mengingat banyak dari mereka kurang memperhatikan konsep keadilan dalam lingkungan.
“Berbicara mengenai agama dan lingkungan bukan hanya berbicara mengenai norma-norma yang ada dalam kitab suci segala macam. Tapi juga bicara mengenai satu norma penting yakni soal keadilan lingkungan,” ungkap Zainal.
Itulah mengapa, menurutnya, kajian yang sifatnya transdisiplin diperlukan dalam membahas masalah lingkungan.
“Jadi, bukan hanya multidisiplin atau interdisiplin, tapi juga transdisiplin yang keluar dari wilayah akademik dan menghubungkan diri dengan gerakan, dengan komunitas, dengan gerakan lingkungan orang-orang miskin, dan sebagainya”, imbuhnya.
Selain itu, Inayah Wahid, Senior Advisor Jaringan Gusdurian, menambahkan bahwa dalam mewujudkan keadilan lingkungan terdapat dua masalah yang harus dihadapi yakni, masalah political will dan green washing.
“Kita, ada beberapa yang kami temukan kampanye-kampanye yang sepertinya mendukung kelestarian lingkungan. Tapi ternyata di belakangnya kemudian ada kampanye supaya publik beli mobil listrik. Karena ternyata nanti afiliasinya ke situ,” terang Inayah.
Oleh karena itu, ia mendorong organisasi keagamaan untuk menerapkan tiga pendekatan yakni, proteksi, preservasi, dan sustainability.
Kalau kita ngomong proteksi, preservasi, dan sustainability ini kan sebenarnya orang zaman dulu sudah melakukannya jauh lebih dulu. Misalnya, kalau yang zaman dulu itu hobinya kan menakuti anak-anaknya. Jangan lewat sana karena di sana ada pohon yang menakutkan. Ada. Yang jaga pohon itu nakutin. Nah, ini yang kemudian kita butuhkan”, jelasnya
Sebagai pamungkas, acara ini kemudian ditutup dengan pembacaan Risalah Jagat dengan poin-poin sebagai berikut:
Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya