Tarik Ulur Nalar Kebangsaan Santri

3 min read

Peserta membawa bendera merah putih saat mengikuti Kirab Hari Santri Nasional di Perempatan Kartonyono, Ngawi, Jawa Timur, Senin (21/10/2019). Kirab Hari Santri Nasional tersebut diikuti ratusan peserta dari berbagai sekolah, pondok pesantren serta lembaga pendidikan berbasis ke-Islaman.

Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang melahirkan tokoh dan para pejuang yang selain militan, juga bertanggung jawab penuh terhadap tugas dan tanggungjawabnya. Bertanggung jawab secara vertikal kepada Allah maupun horizontal dalam relasinya dengan sesama manusia serta ikut berperan dalam melahirkan dan membesarkan Bangsa Indonesia. Pesantren merupakan kawah candradimuka bagi para santri sebelum benar-benar diterjunkan ke medan pertempuran di masyarakat. Baik medan pertempuran yang hakiki pada masa pergolakan pergerakan kemerdekaan, maupun medan pertempuran majasi pada masa sekarang.

Santri produk pesantren yang benar-benar belajar saat ‘Mondok’ umumnya memang berkarakter militan, religius sekaligus bertanggung jawab terhadap kewajibannya. Pesantren yang dimaksud di sini tentu saja pesantren salaf yang berhaluan Ahl al-Sunnah Wa al-Jama’ah. Munculnya banyak pesantren yang aneh dan menyimpang pada masa modern sekarang menjadikan adanya sikap skeptis masyarakat atas pesantren.

Dalam tradisi pesantren, selain diajarkan mengaji dan mengkaji ilmu agama, para santri juga diajarkan mengamalkan serta bertanggung jawab atas apa yang telah dipelajari. Pesantren juga mengajarkan nilai-nilai kesederhanaan, kemandirian, semangat kerja sama, solidaritas, dan keikhlasan. Semangat kerja sama dan solidaritas tersebut menjadikan para santri konsen mewujudkan keinginan untuk melakukan peleburan pribadi ke dalam suatu masyarakat majemuk yang tujuannya adalah ikhlas mengejar hakikat hidup.

Dalam institusi pendidikan umum, terkadang hanya menghasilkan calon pegawai atau orang yang hanya bertujuan mengasah otak, serta menciptakan manusia yang hanya memusatkan pada diri sendiri dan saling bersaing untuk mendapat secupak nasi (der Veur (Ed.), 1984: 35-36). Maka wajar apabila tidak sedikit kaum intelektual produk lembaga pendidikan umum yang pintar secara intelektual tapi secara moral dangkal.

Mereka pintar, tapi seringkali kepintarannya digunakan untuk memintari yang lain. namun, manakala ada kasus beberapa oknum koruptor, atau pelaku kriminal yang ternyata merupakan alumni pesantren, tentunya hal ini harus menjadi bahan perenungan bersama. Kecenderungan masyarakat modern lebih memprioritaskan harta duniawi dan mengesampingkan agama.

Baca Juga  Naturalisme dan (De)legitimasi Evolusi

Di antara persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia hari ini adalah merebaknya paham anti NKRI yang dibawa oleh organisasi trans-nasional yang mengancam eksistensi kehidupan berbangsa dan bernegara. Selain ancaman ketahanan nasional tersebut, gerakan organisasi trans-nasional tersebut juga memaksa beberapa kalangan untuk bersikap sebagaimana yang mereka inginkan yakni menjadi kelompok yang diklaim sebagai ahli sunnah nabi dan yang paling berhak masuk surga menurut versi mereka. Sehingga kemunculan mereka telah menjadi salah satu problem serius yang berkaitan dengan tatanan realitas sosial-keagamaan masyarakat di Indonesia.

Pesantren dengan santrinya dipandang memiliki pemikiran yang inklusif dan toleran. Hal tersebut merupakan modal utama untuk membentengi negara dari berbagai kelompok trans-nasional yang hadir dengan menawarkan pemahaman yang bertentangan dengan adat dan prilaku masyarakat Indonesia. Sikap kelompok tersebut telah mengoyak hakikat bangsa indonesia yang bersemboyan “Bhineka Tunggal Ika”.

Adanya model pemikiran yang mengedepankan toleransi dan pluralitas dirasa sangat mendesak. Beberapa santri yang sudah mengembangkan baktinya diantaranya sebagai akademisi, politisi, dai, telah berhasil membahwa model berislam yang rahmatan lil alamin. Sebagai contoh seperti Sosok Gus Baha, Gus Muwafiq, Gus Nadhirsyah Hosen, TGB Zainul Majdi, dan lainnya, berhasil membangun citra santri yang moderat. Pemikiran-pemikiran mereka dipandang mampu mewakili kemapanan teologis serta kesadaran sosiologis golongan Islam yang moderat yang mayoritas sehingga mampu merawat kebhinekaan bangsa Indonesia dengan materi-materi keislaman yang mereka sampaikan.

Dalam dunia pesantren, kekayaan tradisi yang melimpah dapat dijadikan modal menuju puncak sebuah tradisi dan kejayaan baru. Sistem pendidikan sangat berpengaruh dalam membentuk tradisi. Di tengah tuntutan pesantren untuk bisa melewati fase transisi menuju penguatan tradisi pada zaman modernisasi, sistem pendidikan pesantren masih menganut metode tradisional, yakni pengajaran dengan pola interaksi kiai-santri, pengajian intensif sistem sorogan dan model ngaji berkah ala bandongan justru terbukti telah berhasil mencetak alumnus pesantren yang handal.

Baca Juga  Memanusiakan Korban Covid-19: Sebuah Catatan Keprihatinan [bagian 2]

Jika pesantren mampu mempertahankan ruh pendidikan serta tradisinya yang positif dan mampu mengembangkan sisi yang lain belum optimal,maka pesantren akan mampu untuk terus memberikan sumbangsih positif bagi kehidupan bangsa Indonesia.

Ada banyak tradisi di pesantren yang menjadi acuan santri dalam bersikap, namun dalam kajian ini, tradisi yang diambil ada tiga, yaitu: membaca kitab kuning, bahtsul masail, dan barokah (hikmah).

Pertama, Kitab kuning. Setiap pesantren pastinya memiliki tradisi ini. Tidak ada santri yang tidak berhadapan dengan kitab kuning. Secara epistemologis, dapat dikatakan kitab kuning sebagai salah satu sumber pengetahuan bagi santri. Dari tradisi tersebut, santri mampu menggali berbagai khazanah keilmuan Islam dari masa ke masa.

Kedua, Tradisi bahtsul masail di pondok pesantren merupakan salah satu yang khas dari pondok pesantren terutama yang berafiliasi ke Nahdlatul Ulama (NU). Bahtsul masail yang bisa dimaknakan sebagai forum kajian santri atau kiai dalam membahas persoalan-persoalan keagamaan, biasanya seputar masalah fiqh.

Ketiga, tradisi santri yang menarik adalah barokah atau hikmah. kebanyakan santri sangat menginginkan barokah. Dalam kamus santri barokah adalah salah satu kata yang terpenting dalam menjalankan proses belajar di pesantren. Barokah menurut ulama adalah ziyadatul khoir wal istimror,  bertambahnya kebaikan dan terus menerus. Barokah menjadi salah satu indikator keberhasilan santri mondok di pesantren. Para santri selalu berharap mendapatkan ilmu yang barokah.

Selain tradisi yang diberlakukan turun temurun dan terus menerus, kaum santri juga memiliki apa yang disebut denga “Nalar santri” yang merupakan profesionalitas intlektual dan kematangan spiritual. Nalar santri sangat dibutuhkan dalam mengcounter paham-paham yang ekslusif secara ideologi agama maupun negara. Selain itu, nalar santri akan memberikan kekayaan paradigma bagi seseorang untuk bersikap terbuka dalam melihat wacana dan realitas sehingga cendrung bersikap inklusif. Hal tersebut akan berperan penting dalam membangun pola hubungan santri, tradisi dan juga moderntitas. [HM]

Baca Juga  Masih Soal Diskriminasi Jalur Hafal Alquran
Avatar