Rifky Aritama Mahasiswa Program Studi Ilmu Alquran dan Tafsir UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

Sikap Mulia Rasulullah saat Beliau Dihina

1 min read

Meneladani Sifat Rasul: Membalas Pencacinya dengan Perbuatan yang Mulia

Beberpa waktu lalu masyarakt Muslim digemparkan dengan pernyataan kontroversial dari Perdana Menteri Prancis, Emmanuel Macron, yang menyatakan bahwa karikatur Nabi adalah bagian dari kebebasan berekspresi banyak menimbulkan polemik di beberapa negara. Terutama negara-negara mayoritas dengan penduduk beragama Islam.

Seruan boikot produk Prancis pun terdengar di berbagai belahan dunia khususnya dari masyarakat Muslim. Hal demikian tentu bisa dimaklumi karena jika Nabi kita dihina, tentu sebagai Umat Islam kita amat sangat marah. Namun, sikap marah seperti apakah yang harus kita tampakkan? Apakah kita hanya jadi umat pemarah saja dan hanya melakukan boikot atau demo saja?

Jika kita menelisik lebih jauh saat kanjeng Nabi masih hidup, hinaan demi hinaan sering beliau terima. Bahkan, yang diterima kanjeng Nabi saat masih hidup jauh lebih dahsyat daripada yang sekarang. Tapi, bukan berarti menghina Nabi selagi tidak parah atau sekedar bercanda tidak apa-apa. Tetap saja Mutlak haram hukumnya menghina Nabi. Meskipun demikian, sikap kanjeng Nabi kepada para penghinanya saat beliau masih hidup sungguh mulia.

Dikisahkan saat perang Bani Mustahiq, Abdullah bin Ubay menghasut orang-orang untuk membunuh Nabi. Hasutan ini pun terdengar sampai ke telinga sahabat Umar. Ia kemudian merasa geram dan menyuruh Bilal bin Rabbah untuk membunuh Abdullah bin Ubay. Namun, saat Rasulullah mengetahui tentang hal ini, beliau melarang sahabt Umar untuk membunuh Abdullah bin Ubay.

Rasulullah berkata pada sahabat Umar, “Wahai Umar, bagaimana kalau sampai menjadi pembicaraan orang, dan orang-orang mengatakan bahwa Muhammad membunuh sahabat-sahabatnya sendiri?”

Meskipun demikian, Rasulullah pun kemudian meninggalkan tempat tersebut. Jadi Rasul mengajarkan kita untuk bersikap tegas juga kepada para penghinanya (Haekal, Sejarah Hidup Nabi Muhammad Saw, 1980: 462-463). Sifat marah itu manusiawi, pun demikian dengan sahabt Umar saat mendengar Abdullah bin Ubay menghasut orang-orang untuk membunuh Rasulullah, ia langsung marah.

Baca Juga  COVID-19: Peran Penyair, Ilmuwan, dan Bisikan Data

Dari sini, dapat kita ketahui sifat bijaksananya Rasul dalam menghadapi penghinanya yang bahkan sudah ingin membunuhnya. Bukan kisah ini saja, masih banyak kisah-kisah penghinaan lainnya yang menimpa Rasul dengan hasil Rasul memaafkan para penghinanya.

Pun demikian dengan persitiwa fathu Makkah, saat itu banyak penduduk Makkah yang takut karena Rasulullah membawa banyak sekali sahabat. Disebutkan bahwa pada saat itu kanjeng Nabi membawa 10.000 pasukannya mengepung kota Makkah.

Saat itu penduduk Makkah ketakutan sekali, karena mereka tahu ingat betul bagaimana perlakuan mereka kepada kanjeng Nabi; mereka seringkali menghina beliau, menghalangi jalan dakwahnya, bahkan ingin membunuh beliau dan para sahabatnya.

Namun, apa yang dilakukan oleh Rasulullah sangat jauh dari apa yang penduduk Makkah bayangkan. Saat memasuki kota Makkah, beliau pun berpidato di hadapan para penduduknya yang intinya memberi kebebasan dan keamaan kepada mereka (Haekal, 1980: 553-563). Tentu ini merupakan sebuah sifat mulia yang patut kita tiru.  Karena sifatnya yang mulia ini, membuat seluruh penduduk Makkah saat itu dengan suka rela masuk Islam.

Bisa dibayangkan jika Rasul membunuh separuh dari penduduk Makkah saat itu, maka tidak ada penduduk Makkah yang akan masuk Islam. Mereka mungkin justru akan menyimpan dendam.

Rasulullah dulu sering sekali dihina oleh para penyair musyrik, dan Rasulullah menyuruh sahabatnya membalas dengan balasan elegan. Hasan bin Tsabit -yang terkenal sebagai seorang penyair kesukaan Rasulullah, membalasnya dengan balasan yang elegan. Ia menciptakan syair-syair yang isinya mengangkat kemuliaan-kemuliaan Rasulullah.

Pernyataan ini pun serupa dengan apa yang didawuhkan oleh Habib Umar bin Hafidz dalam ceramahnya yang menanggapi tentang pernyataan dari presiden Prancis. Yaitu, kita harus mengangkat kisah-kisahnya dan mencontoh sifatnya yang mulia. [AA]

Baca Juga  Jangan Mengurangi ‘Kemesraanmu’ Bersama Allah Karena Social Distancing
Rifky Aritama
Rifky Aritama Mahasiswa Program Studi Ilmu Alquran dan Tafsir UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta