Aksi Teror Mujahid Indonesia Timur di Sigi: Anasir ISIS dan Sebuah Perang Kosmik

Ilustrasi terorisme: /Muhammad AdDimaja/Antara/

Beberapa hari yang lalu (27/11), serangan teroris mematikan merundung Sigi, Sulawesi Tengah. Duka cita dan air mata kemanusiaan tumpah bagi Indonesia. Berdasarkan laporan dari lapangan (dan media online), serangan yang terjadi telah menyebabkan jatuhnya korban jiwa dan mengakibatkan kerugian material. Seperti, Gedung Gereja Pos Pelayanan Lewonu Lembantongoa yang terbakar habis, Enam rumah jemaat terbakar dan empat orang jemaat meninggal dunia.

Pelakunya kuat diduga adalah teroris Mujahid Indonesia Timur (MIT) dibawah pimpinan Ali Kalora. Saat ini, pihak pengemban hukum sedang melakukan pengejaran kepada pelaku teroris tersebut. Berbagai kecaman dan kutukan telah dikeluarkan oleh berbagai pihak, termasuk NGO lintas iman dan lembaga keagamaan, yang intinya menuntut adanya penegakan hukum dan keadilan bagi pelaku serta mengharapkan pemerintah hadir untuk menjaga kemanan dan membasmi jaringan pelaku hingga akar-akarnya.

Karenanya, berdasarkan entry point di atas, penulis akan mengkaji fenomena di atas yang terfokus pada dua hal; pertama, Perkembangan anasir Islamic State of Iraq and al-Sham (ISIS) terkini di Indonesia, dan juga di Sulteng; dan kedua, aksi teroris Indonesia adalah bagian dari upaya memenangkan sebuah perang kosmik. Singkatnya, aksi teroris yang terjadi di Sigi saat ini dan juga di beberapa daerah lain di tanah air, termasuk di Papua adalah para teroris yang terpapar ideologi ISIS, dan juga mereka meyakini sedang melakukan perang kosmik (a cosmic war) dan sedang menyiapkan serangan teroris untuk menebar jala ketakutan di tengah masyarakat.

ISIS di dunia global sedang menuju kehancuran, namun anasir dan ideologinya tidak serta mati. Indonesia tidak diragukan memiliki mantan pendukung dan simpatisan yang telah terpapar ideologi ISIS, yang tersebar di beberapa area di tanah air termasuk di Sulteng.  Menurut Schulze dan Liow (2018),  anasir ISIS dapat berkembang di tanah air karena kurangnya pembatasan dan implementasi legislasi atas organisasi keagamaan, politik dan sosial yang memungkinkan penyebaran ISIS ke dalam  jaringan-jaringan yang  sudah eksis seperti Tawhid wal Jihad, Jemaah Ansharut Tauhid (JAT), Mujahid Indonesia Timur (MIT) dan sebagian anasir Negara Islam Indonesia (NII). MIT inilah yang sedang beroperasi dan meneror di Sigi, Sulteng.

Penyebaran kelompok-kelompok pro-ISIS digerakkan oleh sebuah kompetisi dalam komunitas Jihad Indonesia, dengan mana afiliasi dengan ISIS digunakan untuk memperkuat justifikasi dan agenda jihad beberapa tokoh-tokohnya. Termasuk dalam hal ini  adalah tokoh MIT, Santoso atau Abi Wardah. MIT, sejatinya, berasal dan tumbuh dari JAT cabang Poso di mana Santoso adalah seorang komandan militer. Ia menggunakan  kepahitan dan kekelaman  akibat konflik komunal 1998-2007 antara Muslim dan Kristen di Sulawesi Tengah.

Memang  Santoso sendiri  telah mengalami radikalisasi selama konflik tersebut  hingga  pembantaian Walisongo di Mei 2000, yang  membawanya  untuk bergabung dalam mujahidin local  yang berafiliasi dengan Jemaah Islamiyah. Dari tahun 2010 hingga saat ini, MIT telah menggerakkan jihad melawan kepolisian Indonresia dai markas mereka di pegunungan Poso. Antara tahun 2011 hingga 2015, MIT telah memapankan  kamp pelatihan tidak hanya untuk para pengikutnya tepai juga bagi kelompok-kelompok jihad di Indonesia.

Menurut Schulze dan Liow lebih jauh, kasus MIT secara terang benderang mengilustrasikan bahwa ideologi jihadi internasional dapat diimpor. Ia juga satu contoh yang sempurna  dari dinamika lokal menjadi beririsan dengan dnia global. Santoso awalnya  bergabung  dengan Al-qaidah dan selanjutnya ISIS untuk menaikkan  jihad Poso ke dunia internasional untuk mendapatkan funding dan mengangkat namanya.

Setelah Santoso melakukan bai’at kepada Baghdadi pada tahun 2013, MIT  mulai mengadopsi  bendera hitam ISIS di video dan pernyataan-pernyataan orgaisasi mereka.  Pihak kepolisian Indonesia  meyakini bahwa MIT telah mendapatkan dukungan logistic dari ISIS,  utamanyaa uang untuk membeli senjata dari Filipina. Jumlah angotanya sekitar 30 orang  termasuk 3 perempuan, yang juga terkait dengan  beberapa pejuang dari Uyghur Cina, yang datang ke Poso melalui kontak di dalam jaringan internasional ISIS.

Hingga meninggalnya Santoso pada Juli 2016, MIT tampaknya  adalah contoh bagaimana  jihad local mengimpor ideolgi ISIS untuk kebutuhan lokal. Sepeninggal Santoso, MIT dipimpin Ali Kalora (nama aslinya Ali Ahmad) yang membawahi anggata dengan jumlah sekitar 20 orang pejuang. Mereka inilah yang melanjutkan jihad lokal, yang tidak segan-segan melakukan kekerasan yang sangat sadis seperti kejadian yang disebutkan di atas.

Pelaku teror di Sigi adalah Muslim, bahkan mereka menggunakan nama organisasi mereka “mujahid” (pejuang Allah), dan tindak kekerasan yang dilakukan tidak menegasikan fakta tersebut.  Islam sejatinya mungkin bukanlah sebuah agama perdamaian atau agama perang (ambivalence of the sacred), namun ia sebuah agama seperti agama yang lain yang menginspirasikan  rasa belas kasih dan rahmat untuk semesta, namun orang-orang yang melakukan teror ini  juga membaca dan menghapal al-Qur’an  dan meyakini bahwa mereka sedang  melayani titah keTuhanan.

Mereka, mereferensi Reza Aslan (2010), tampaknya terlibat dalam sebuah konflik metafisikal, tidak semata-mata bahwa mereka melawan warga yang berbeda dengan paham mereka, tentara, negara, tetapi  juga perang antara  terang (benar) dan gelap (bathil). Singkatnya, mereka sedang  melangsungkan sebuah perang kosmik (a cosmic war), melawan  kekuatan-kekuatan jahat yang abadi yang mesti dimusnahkan.

Menurut Azlan lebih jauh, sebuah perang kosmik adalah sebuah perang agama. Ia adalah konflik  di mana Tuhan diyakini secara langsung  terlibat di pihak mereka atas musuhnya. Tidak seperti sebuah holy war (perang antar agama) perang kosmik seperti sebuah drama di mana pelakuknya  bertindak dalam sebuah perang yang sedang berlangsung di surga.  Konflik mungkin nyata sebagai perjuangan fisik tetapi perang itu  adalah dilandasi  sebuah inspirasi spiritual, sebuah perjumpaan moral yang dimajinasikan, di mana mereka  berpandangan, sebagaimana kaum fatalis, adalah “manusia adalah  seperti wayang yang sedang berada di tangan sang Dalang”.

Karenanya, korban yang ditimbulkannya  menjustifikasi  bahwa semakin kejam  tindakan mereka, dalam kasus Sigi, memenggal kepala dan membakar rumah bukan lagi persoalan  moralitas, karena dalam perang kosmik tindakan mereka merepresentasikan titah Tuhan.  Dalam hal ini, tidak ada lagi rasa iba dan kasih sayang. Dengan pandangan seperti ini, mereka tidak segan-segan melakukan tindakan kekerasan yang ekstrem.

Sejauh ini ada keraguan dari warga di tanah air bahwa kepolisian tidak begitu serius memusnahkan jaringan MIT ke akar-akarnya. Dalam hal ini,  satuan tugas Operasi Tinombala yang tampaknya tidak tuntas melaksanakan tugasnya. Ada dugaan pelaku teror tersebut dijadikan proyek untuk anggaran penanggulangan teroris bahkan ada isu-isu liar bahwa pergerakan JIT didukung kelompok-kelompok di tanah air untuk tujuan-tujuan politik.

Pihak kepolisian sendiri mengakui bahwa ada kesulitan menumpas mereka karena mereka tampaknya didkung atau bergabung dengan masyarakat setempat sehingga sulit menumpasnya, selain mereka punya pengetahuan yang baik di hutan dan pegunungan. Karenanya, diperlukan sinergi dan kerjasama antara warga setempat yang bisa membantu kepoilsian dan juga ada kesungguhan negara untuk hadir melindungi warganya. Tanpa itu, warga masyarakat setempat akan hidup dalam ketakutan, dan juga bisa menimbulkan aksi-aksi teror serupa dari jaringan kelompok jihad lain di berbagai wilayah di tanah air. Duka Sigi, Duka Indonesia. [AA]

1

Pegiat Perdamaian Indonesia, yang pernah mengikuti “Study of the United States Institute on Pluralism and Public Presence” di University of California Santa Barbara (UCSB) USA dan Co-Founder Lembaga Perdamaian Indonesia (LPI).

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.