Ridwan Al-Makassary Pegiat Perdamaian Indonesia, yang pernah mengikuti “Study of the United States Institute on Pluralism and Public Presence” di University of California Santa Barbara (UCSB) USA dan Co-Founder Lembaga Perdamaian Indonesia (LPI).

Membincang Soal Aliran Islam dan Pembunuhan atas Nama Tuhan di Prancis dan Austria

4 min read

Bulan November acap disenandungkan dengan “Hujan November” (November rain). Namun, Eropa, khususnya Perancis dan Austria, sedang dirundung “hujan” duka. Pada Minggu malam waktu Wina, Austria (1/11) serangan teror telah berlangsung di enam lokasi di ibu kota Austria.

Serangan itu menyebabkan 4 orang meregang nyawa dan selanjutnya membuat 22 orang terluka, termasuk seorang petugas kepolisian. Sebelumnya, Kamis (29/10), telah terjadi penusukan tiga warga Perancis di gereja Basilika Notre-Dame di Nice, yang dilakukan oleh pemuda asal Tunisia, Brahim Aiossaoi (21) sembari meneriakkan takbir berkali-kali.

Kejadian tersebut dipandang sebagai efek dari tindakan Samuel Paty yang menunjukkan kartun Nabi Muhammad SAW saa dia mengajar. Ia kemudian meninggal (6/10) karena dibunuh oleh Abdullah Anzorov, pemuda berusia 18 tahun, yang akhinrya juga meninggal di tangan polisi.

Entry point di atas menunjukkan bahwa sebagian Muslim di Eropa yang datang dari pelbagai latar belakang etnik dan budaya seperti Bosnia, Iraq, Somalia, Pakistan, Iran dan Arab, belum sepenuhnya terintegrasi secara inklusif dengan nilai dan budaya setempat di mana mereka bermukim.

Dalam hal ini, penulis  melihat bahwa bahwa kejadian di atas menunjukkan bahwa posisi sebagai minoritas Muslim  imigran  memiliki implikasi  penting  tentang bagaimana Muslim Barat mengkonstruksi rasa identitasnya (the Self) dan juga orientasi  sosial mereka  kepada masyarakat luas (the Other) di bumi Eropa.

Dalam tulisan saya sebelumnya tentang kegagalan asimilasi sistemik di Perancis, saya mencoba menampilkan tipologi masyarakat Muslim Eropa, dan khususnya pengaruh Neo-tradisional Salafi yang dianut sebagian pemuda Muslim Barat, yang kerap bersikap isolasionis karena memandang diri mereka berbeda dengan non-Muslim.

Tulisan ini berpijak pada beberapa karya pakar, terutama Adis Duderija, dalam sebuah tulisannya berjudul “Neo-traditionalis Salafis in the West: Agents of (Self)-Exclusion”. Menurut Duderija, satu implikasi penting adalah agama telah menjadi satu lokus yang menentukan bagi pembentukan identitas Muslim. Tentu, ini tidak lantas  berarti  bahwa Muslim Barat secara niscaya  menjadi lebih “beragama”, lebih patuh beragama, namun, Muslim Barat mengksonstruksi identitasnya melalui  lensa afiliasi aliran agama.

Baca Juga  Beberapa Ideologi Ini Anti NKRI, Berikut Daftarnya

Senada dengan hal itu, Oliever Roy dalam bukunya “Islam Gobal” menyatakan bahwa imigran Muslim di Barat mengalami ketegangan dengan Eropa pada empat level identitas yaitu; pertama, identitas berdasarkan geografis dan atau persaudaraan; kedua, identitas nasional berdasarkan persamaan budaya dan Bahasa; ketiga, identitas Muslim eksklusif berdasarkan pola agama dengan tidak merujuk secara spesifik pada Bahasa dan budaya tertentu; dan, keempat, identitas berdasarkan akulturasi seirama pola-pola Barat.

Benturan identitas di atas bisa terjadi pada satu atau dua level bahkan dapat tumpang tindih beberapa level dan membangun tembok pembatas sosial-agama antara identitas Muslim dengan identitas non- Muslim. Pembatas tersebut digerakkan oleh penanda-penada tertentu seperti, penampilan fisik (termasuk pakaian), dan juga interpretasi terhadap teks suci yang dapat berperan sebagai pembeda antara diri (the self) dan orang lain yang berbeda pemahaman (the other).

Menurut Waadensburg, terkait identitas Muslim di Eropa, terdapat kondisi the otherness yang secara khusus relevan, yaitu akibat marjinalisasi, diskriminasi dan ekslusi dalam hubungannya  dengan pemahamn diri dan yang lain. Secara prinsip, Muslim adalah “the other” bagi Non-Muslim dan sebaliknya.

Beberapa cendikiawan telah mengembangkan typology mengenai kelompok-kelompok Muslim atau aliran pemikiran Islam (school of thought) yang dianut dan orientasi mereka terhadap Non-Muslim. Dua cendikiawan yang cukup relevan adalah Saief Reza Ameli (2002) dan Dassesto (1996). Ameli dalam studinyanya yang membahas tentang efek globalisasi terhadap identitas Muslim Inggris yang terbagi dalam beberapa aliran pemikiran Keislaman.

Dalam karyanya, Ameli menuturkan ada delapan identitas pemikiran keislaman di Inggris. Pertama, tradisionalist yang dikarakterisasikan oleh konservatisme sosial, penekanan pada ritual dan perbedaan politik. Kedua, islamist yang dikarakterisasikan dengan tekanan pada gerakan dan politik Islam tentang keparipurnaan Islam sebagai satu-satunya jalan hidup. Ketiga, modernist dengan bercirikan sebuah kombinasi modernisasi dan ideologi Islam, keinginan untuk mencapai reformasi Islam melalui modernisasi dan reformasi pemikiran keagamaan yang berhubungan dengan cara-cara berpikir modern.

Baca Juga  Pandemi dan Kebangkitan Ketahanan Pangan Indonesia

Keempat, sekularis yang bercirikan penolakan politisasi Islam dan aspek tradisionalnya. Namun berbeda dengan para tradisionalis mereka aktif dalam politik sekuler dan aktivitas sosial dan tidak kurang pada kepatuhan agama dan keterlibatan di dalam institusi sosial mereka. Kelima, nationalist adalah mereka yang mengidentifikasi diri mereka terutama dengan budaya tanah air orang tua mereka sebagai ekspresi patriotism.

Keenam, anglicised adalah mereka yang tidak terlalu terikat pada budaya orang tua mereka, dan juga keberhasilan mengadopsi nilai baru dan kurang relijius. Ketujuh, hybrid yang bercirikan tidak berorientasi pada budaya orang tua mereka dan juga tidak terikat pada budaya setempat. Kedelapan, undetermined (tidak terikat pada budaya tertentu) yang bercirikan penolakan atas ragam budaya yang dihadapkan padanya, kebingungan atas kepercayaan agama dan merasa  putus asa dan tidak memiliki akar.

Sedangkan Dassesto (1996) lebih mengkaji konstruksi Islam Eropa sebagai sesuatu realitas given yang fokus pada  bagaimana “menjadi seorang Muslim” yang merupakan sebuah konstruksi sosial dan juga fungsinya. Dengan mengkaji strategi dan interaksinya antara kelompok Muslim yang beragam dan konteks sosial politik skala luas di mana Muslim hidup, Dasseto mengembangkan model ideal tentang orientasi sosial Muslim Eropa hari ini.

Mereka mencakup, pertama, orientations of participations in Europe, yang bercirikan de-Islamisasi di mana Islam sebagai satu referensi telah hilang, ketika Islam dibatasi hanya pada sektor privat; kedua, orientations that distance themselves from Europe bercirikan Muslim Eropa yang berpersepsi sebagai mereka yang hidup di pinggiran dunia yang kontras dengan ayoritas non-Muslim.

Ketiga, orientations that are intermediary between the above two adalah mereka secara eksternal berintegrasi dengan Eropa namun loyal pada  prinsip Islam di luar, hidup di Eropa dalam sebuah cara Islam yang utuh sebagai satu komunitas Ghetto;  dan keempat, missionary orientations in Europe yang berkarakterkan Muslim yang memandang menerima mandat atau kewajiban untuk mengislamkan Eropa.

Baca Juga  'Luput Sembur' Covid-19

Kelompok yang terakhir ini memandang “the other” sebagai pihak yang mesti diislamkan. Bagi Bassam Tibi, inilah sebuah mimpi putus asa kaum Islamis untuk kembali kepada sejarah; sebuah titik kembali kepada dominasi dan kejayaan masa lalu Islam.

Dalam hal ini, Francis Fukuyama, yang secara lugas menjelaskan kebangkitan Islamisme di Eropa, menyatakan bahwa tantangan jangka panjang yang paling serius yang dihadapi oleh demokrasi liberal hari ini adalah kekhawatiran akan gagalnya integrasi minoritas imigran khususnya dari negara-negara Muslim sebagai warga demokrasi yang pluralistik.

Apa yang diungkapkan para para cendikiawan di atas menunjukkan bahwa aliran pemikiran yang dianut oleh sebagian pemuda Muslim di Barat adalah pemahaman yang disebut neo-tradisional Salafi sebagai satu agen ekslusi. Secara singkat, tipe keagamaan ini membawa penganutnya pada pemahaman yang puritan, yang berdasar pada skripturalisme (literal) dalam memahami teks.

Pada tingkat yang ekstrem, gerakan atau individu, yang menganut paham ini bila beririsan dengan kondisi marjinal, frustasi dan kemudian dirangkul atau terpapar kelompok radikal semacam ISIS dan gerakan salafi-jihadi atau terpapar ideologi jihadis. Sehingga, mereka berpotensi menjadi pembunuh berdarah dingin, atau teroris yang tidak segan-segan membunuh atas nama Tuhan. Tampaknya pelaku pembunuhan di Prancis dan Austria dapat dijelaskan dengan argumen di atas.

Sebagai kesimpulan, aksi teror di Austria dan Perancis tidaklah mewakili Islam sebagai faith (keyakinan), tetapi dilakukan oleh para isolasionis yang Islamis untuk membedakan mereka dengan non-Muslim dan ingin “mengislamkan” Eropa.

Akhirnya, penulis melihat bahwa penting untuk merenungkan apa yag disampaikan oleh Bassam Tibi (2018), “Muslim dan Eropa mungkin tidak berbagi gen yang sama, namun dari rekaman sejarah mereka membagi bahasa humanisme yang universal”, sehinga yang terjadi seharusnya bukan Eropanisasi Islam atau Islamisasi Eropa, tetapi sebuah Eropa-Islam (Europe-Islam) sebagai bagian dan berkat dari humanisme lintas-peradaban. [AA]

Ridwan Al-Makassary
Ridwan Al-Makassary Pegiat Perdamaian Indonesia, yang pernah mengikuti “Study of the United States Institute on Pluralism and Public Presence” di University of California Santa Barbara (UCSB) USA dan Co-Founder Lembaga Perdamaian Indonesia (LPI).