Efri Arsyad Rizal Mahasiswa S1 Jurusan Ilmu al Quran dan Tafsir UIN Walisongo Semarang

Bagaimana Milenial Berbicara Moderasi Beragama?

3 min read

Para milenial! Udah pada tahu belum apa itu moderasi beragama?

Pertanyaan tersebut menjadi kata-kata yang hangat untuk menyadarkan milenial akan pentingnya moderasi beragama di Indonesia. Moderasi beragama menjadi program prioritas 3 yang menjadi bagian dari revolusi mental dan pembangunan kebudayaan dalam rencana pembangunan jangka menengah nasional 2020-2024. Channel  Youtube: Convey Indonesia menayangkan isu meningkatnya sikap intoleran dan radikal menjadi perhatian utama akhir-akhir ini.

Mirisnya, menurut Romzi Ahmad (Wakil Ketua Siber Kreasi/Asisten Staf Khusus Milenial Presiden RI) dalam sebuah diskusi “Milenial Berbicara Moderasi Beragama” yang diadakan oleh PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Convey Indonesia pada Jumat 3 Juli 2020 mengatakan bahwa kaum milenial masih asing terhadap kata “moderat”. Mereka lebih kenal kata “toleran” dibanding “moderat”.

Fakta ini tentu menyadarkan kita bahwa program pemerintah yang digadangkan beberapa tahun lalu belum tersosialisasi dengan baik. Romzi juga menyatakan, saat ini kita membutuhkan narasi penyeimbang antara kubu kanan dan kubu kiri. Karena, masih menurut Romzi, narasi yang saat ini sudah ada hanya tesis dan antitesis saja.

Kadang kala kita hanya memberikan argumen untuk me-counter kubu sebelah. Sebaliknya, kubu sebelah juga melakukan hal yang sama. Sehingga hanya menyebebabkan semakin renggangnya jarak antar-umat beragama.

Moderasi beragama adalah sikap dimana kita berada di tengah-tengah. Tidak terlalu ekstrem (radikal) dan tidak terlalu bebas (liberal). Tapi argumen ini sangat sulit dicerna bagi milenial. Toleran dan moderat hakikatnya tidak jauh beda. Perlu adanya penyederhanaan bahasa yang mudah dipahami dan dicerna bagi milenial.

Dengan maraknya radikalisme dan sikap intoleran, sudah saatnya kita para milenial mengambil posisi tersebut. Narasi-narasi solutif sangat perlu digalakkan lagi. Bukan hanya menyindir dan membela saja, melainkan konten-konten alternatif yang tidak saling memojokkan juga perlu diproduksi dengan masif.

Baca Juga  Bagaimana Hukumnya Mengemis Di Media Sosial TikTOk?

Sebagai milenial, kita tentu menjadi subjek yang tepat untuk menyampaikan pesan moderasi beragama kepada generasi milenial sendiri.

Saat ini kita melihat para kiai, ustaz, dan pendakwah memang sudah turut serta bersosialisasi tentang pentingnya moderasi beragama. Namun bagi generasi milenial, dibutuhkan pula aktor-aktor yang memang berasal dari generasinya. Apa yang telah dilakukan Habib Husein Ja’far al-Hadar dalam Channel Jeda Nulis nampaknya bisa dijadikan refrensi bagi kita.

Alih-alih membela atau menyindir, Habib Ja’far justru memberikan terobosan bagi kaum milenial dengan slogan “Islam Cinta”. Dalam dunia tasawuf, Islam Cinta bukanlah hal yang asing. Namun kemasan sesuai zaman yang mampu dicerna oleh milenial saat ini yang dilakukan Habib Ja’far patut diacungi jempol.

Di berbagai konten bisa kita saksikan beberapa video yang berisi percakapan-percakapan ringan namun berat akan maknanya. Menurut Habib Husein, saat ini milenial memiliki dua problem namun dapat diselesaikan dengan satu solusi. Kecenderungan beragama para milenial ada yang masuk dalam kategori “muslim sekuler” dan “muslim puritan”.

Bagi muslim sekuler, umumnya mereka kecewa dengan agama. Merasa bahwa agama sangat kaku dan tidak bisa memberikan solusi dalam kehidupan. Selain itu mereka umumnya dalam beragama masih “angin-anginan”. Kadang ibadah jalan, maksiat pun juga jalan.

Berbeda dengan yang pertama, muslim puritan atau yang biasa kita sebut para muslim hijrah, beragamanya masih hanya persoalan gaya hidup atau lebih jauh hanya berislam secara hukum yang hanya mengenal mana haram dan mana yang halal saja. Dua permasalahan tersebut tidak lain disebabkan karena kedangkalan pemahaman agama. Solusinya tentu kita harus bisa memberikan corak beragama yang dalam islam disebut “Islam Tasawuf atau Islam Cinta”.

Baca Juga  Bolehkah Kampanye Politik Praktis Dalam Masjid?

Amatan tesebut nampaknya memang benar nyatanya. Menurut riset Convey, dari tahun 2018 hingga 2019 ditemukan bahwa, di sekolah 1 dari 2 guru dan siswa memiliki pandangan intoleran, di kampus lebih dari sepertiga dosen PAI dan hampir dari setengah dari mahasiswa anti agama lain serta berperilaku intoleran kepada orang yang seagama tapi berbeda aliran. Data tersebut sudah saatnya menjadi pijakan bagi milenial. Sudah saatnya kita mulai ikut mendukung program pemerintah tentang moderasi beragama tersebut.

Lalu muncul pertanyaan, “Apa yang bisa dilakukan bagi kalangan milenial untuk ikut menggaungkan moderasi beragama?”

Setidaknya dalam webinar tersebut penulis menyimpulkan ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh para milenial.

Pertama, bagi mahasiswa PTKI atau para santri, kalian memiliki ruang yang sangat luas. Media sosial seperti Instagram, Youtube, dan Twitter dapat kalian manfaatkan. Sebagai pelajar yang memiliki sanad keilmuan yang jelas, sudah saatnya harus berani maju untuk ikut memposting wawasan keislaman yang ramah dan damai. Jangan terlalu takut salah dan tidak percaya diri. Kalau bukan kita siapa lagi? Apakah kita tidak muak dengan postingan-postingan yang tidak diketahui sumber asalnya?

Kedua, sudah saatnya menggunakan pendekatan yang tepat. Dalam konten-konten yang akan dibuat harus berisikan problem-problem yang dibutuhkan para milenial. Mungkin hanya dengan membahas hal-hal sepele sudah dirasa sangat di luar kepala bagi santri dan mahasiswa perguruan tinggi Islam. Namun dengan memberikan edukasi permasalahan sehari-hari, menjadi celah besar bagi para milenial guna menumpas paham radikal dan intoleran.

Ketiga, janganlah terlalu terang-terangan menggunakan dalil-dalil. Menggunakan dalil tentu merupakan hal yang bagus. Namun di media sosial, kita harus mengedepankan kesan terlebih dahulu dibanding pesan. Para milenial yang tidak pernah mengenyam pendidikan di pesantren dan perguruan tinggi Islam tidak akan fokus besar terhadap hal itu. Mereka ingin solusi alternatif dan bagaimana agama dapat memberikan petunjuk bagi mereka. Bagaimana kita menyampaikan pesan yang baik apabila kita tidak mempunyai kesan yang baik terlebih dahulu?

Baca Juga  Keramahan Yang Pernah Hilang Di Balik Jabal Rahmah: Catatan dari Mekkah (1)

Keempat, sesama milenial terlebih apabila satu almamater, kalian harus bisa berkolaborasi dan konsisten dalam menyajikan konten. Tidak harus muluk-muluk. Kalian bisa juga posting catatan-catatan yang diperoleh dari pengajian. Apalagi selama masa pandemic ini, banyak para santri mengaji via online dengan streaming Youtube dan sebagainya. Selain mencatat di buku, bisa juga mencatatnya di dinding media sosial kalian.

Jika kalian tidak memiliki bahan untuk dijadikan postingan, kalian bisa me-retweet atau me-repost postingan kiai-kiai kita. Dengan kalian membantu retweet dan repost, secara tidak langsung kalian merubah algoritma media sosial. Sehingga postingan-postingan yang dikuasai oleh oknum-oknum radikal dan intoleran perlahan tergeser.
“Sudah saatnya kita adu “point of view” bukan hanya dengan adu dalil saja.” Habib Husein Ja’far Al-Hadar. [MZ]

Efri Arsyad Rizal Mahasiswa S1 Jurusan Ilmu al Quran dan Tafsir UIN Walisongo Semarang