Ramadani Limawan Prayogo Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya

Filsafat Kebahagiaan: Eudaemonisme dan Ajaran Islam

2 min read

Kredit: Black Salmon / Shutterstock

Eudaemonia adalah konsep dalam filsafat moral yang membahas etika manusia dalam menentukan satu tujuan abadi mencapai kebahagiaan, kenikmatan, atau kesempurnaan secara hakiki. Harapan hidup bahagia merupakan keinginan primitif semua makhluk di muka bumi.

Kata “eudaemonia” mungkin terdengar asing, tetapi memahaminya sangat membantu dalam mencapai perjalanan kehidupan yang sempurna dengan meraih kebahagiaan sejati. Istilah ini populer sejak zaman Yunani kuno, diungkapkan oleh filsuf terkenal seperti Sokrates, Plato, Aristoteles, Epikuros, dan filsuf Stoa.

Salah satu tujuan filsafat adalah memperoleh kebijaksanaan, yang menghasilkan kebahagiaan dengan nilai-nilai kebajikan yang terkandung di dalamnya. Manusia, makhluk paling istimewa di alam semesta, memiliki keistimewaan bukan hanya dalam wujud fisik, melainkan juga kelebihan berupa akal untuk menalar dan melakukan proses berpikir.

Keistimewaan itu memberikan manusia kehendak bebas untuk memilih jalan hidup melalui pengetahuan empiris dan spiritual yang bersifat metafisis. Berpikir mengenai realitas yang dihadapi manusia mendorongnya untuk membaca, memahami, dan mengungkapkan maknanya.

Menurut Gorgias, orang perlu menggunakan semua kekuatan akal dan fisiknya untuk mencapai keinginan mereka, karena di situlah terletak kebahagiaan. Islam, sebagai agama penyempurna, mengajarkan bahwa manusia memiliki tujuan hidup bahagia kekal abadi dengan konsep surga.

Lebih jauh, Islam memberikan petunjuk melalui utusan-Nya, Rasulullah Muhammad, sebagai suri teladan yang membawa ajaran rahmatan lil-‘alamin dan kitab suci Al-Qur’an yang senantiasa menuntun ke jalan yang diridai-Nya.

Islam, berasal dari bahasa Arab salima, yang berubah menjadi aslama dan kemudian islam, artinya istilah selamat, aman, damai, patuh, pasrah, dan taat. Dalam arti yang lebih luas, penganut ajaran Islam yang disebut muslim adalah mereka yang mengekspresikan bentuk kepatuhan kepada Allah untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Baca Juga  Disfungsi Toa: Menahan Rindu Mendengar Suara “Bilal”

Pembahasan inti mengenai korelasi eudaemonia dengan Islam menunjukkan bahwa Islam, sebagai agama yang lengkap, memiliki konsep kebahagiaan. Dalam konteks eudaemonia dan Islam, konsep kebahagiaan tidak hanya bersifat individual, melainkan juga menekankan pentingnya kehidupan sosial yang berlandaskan nilai-nilai kebajikan.

Aristoteles, salah satu filsuf Yunani, mengajarkan bahwa manusia mencapai kebahagiaan bukan hanya melalui kebijaksanaan pribadi, tetapi juga melalui partisipasi aktif dalam masyarakat.

Begitu pula dalam ajaran Islam, konsep “ummah” (umat) menekankan tanggung jawab kolektif untuk menciptakan masyarakat yang adil, sejahtera, dan damai. Oleh karena itu, kebahagiaan sejati dapat diraih melalui upaya bersama dalam membangun masyarakat yang menghormati nilai-nilai moral dan etika.

Pentingnya pendidikan juga menjadi aspek yang tidak terpisahkan dalam upaya mencapai eudaemonia dan kebahagiaan dalam perspektif Islam. Pendidikan tidak hanya sekadar pengetahuan akademis, tetapi juga melibatkan pembentukan karakter dan akhlak yang baik.

Pendidikan yang berorientasi pada nilai-nilai kebajikan, seperti yang diajarkan oleh Islam, membimbing individu untuk menjadi lebih sadar akan tanggung jawab sosialnya, sehingga mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. Dalam pandangan Aristoteles, pendidikan juga memainkan peran sentral dalam membentuk karakter yang harmonis dan menciptakan kondisi yang mendukung tercapainya kebahagiaan individu dan sosial.

Pengembangan diri melalui introspeksi dan refleksi menjadi landasan penting dalam mencapai eudaemonia. Dalam konteks Islam, praktik ibadah, seperti salat dan puasa, tidak hanya menjadi kewajiban, tetapi juga merupakan sarana untuk memperkuat hubungan pribadi dengan Tuhan.

Dengan menyelaraskan diri dengan nilai-nilai ilahi, individu dapat mencapai kedamaian batin dan kebahagiaan sejati. Begitu pula, dalam pandangan Aristoteles, refleksi diri dan introspeksi menjadi elemen kunci dalam pencapaian kebahagiaan, karena individu yang mengenal dirinya dengan baik akan lebih mampu mengejar tujuan yang sesuai dengan hakikatnya dan meraih kebahagiaan yang abadi.

Baca Juga  Gus Dur: Make Indonesia Unified Again

Secara keseluruhan, konsep eudaemonia dalam filsafat Yunani dan ajaran Islam menegaskan bahwa kebahagiaan bukan sekadar tujuan pribadi, melainkan juga sebuah perjalanan yang melibatkan kebijaksanaan, kebajikan, dan interaksi positif dalam masyarakat.

Ajaran Islam mengajarkan pentingnya kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai moral, tanggung jawab sosial, pendidikan yang membentuk karakter, serta pengembangan diri melalui introspeksi.

Islam sendiri menggarisbawahi bahwa eudaemonia atau kebahagiaan sejati dapat dicapai melalui keseimbangan antara hubungan individu dengan Tuhan, diri sendiri, dan masyarakat. Oleh karena itu, memahami dan menerapkan nilai-nilai ini dalam kehidupan sehari-hari merupakan kunci untuk mencapai kebahagiaan yang mendalam dan berkelanjutan. [AR]

Ramadani Limawan Prayogo Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya