



Dalam tulisan ini saya akan mengulas tiga sahabat Nabi Muhammad yaitu Sa’id bin Zaid, Zaid bin Tsabit, dan Mushab bin Umair radliyallahu’anhum.
Pertama, sahabat Sa’id bin Zaid r.a., salah satu sahabat yang dijamin masuk surga dan pemilik doa yang maqbul. Beliau adalah suami Fathimah binti Khattab, adik Sayyidina Umar r.a.. Jadi selain ada per-ipar-an (Sa’id dan Umar) yang dijamin masuk surga, ada juga mertua-menantu (Abu Bakar r.a. dan Zubair bin al-Awwam r.a) yang mendapatkan kabar gembira tentang jaminan surga ini.
Ayah Sa’id r.a, adalah Zaid bin Amr bin Nufail, pencari kebenaran sejati yang wafat sebelum Rasulullah diutus. Zaid, sahabat karib Waraqah bin Naufal ini menolak menyembah berhala dan mengikuti ritus jahiliyah. Dia melakukan rihlah ke berbagai negara untuk berguru kepada para pendeta Yahudi dan Nasrani. Namun, tidak ada kecocokan. Hingga dia pun berdoa kepada Allah agar anak-anaknya kelak diperjumpakan dan mengimani Rasulullah. Allah mengabulkannya.
Kedua, Zaid bin Tsabit r.a., sahabat cilik Rasulullah, yang dikader menjadi sekretaris beliau, ahli al-Qur’an berjuluk Syaikhul Muqri’in. Jika qari’ adalah orang yang membaca Al-Qur’an, maka muqri’ adalah orang yang membacakan Al-Qur’an kepada orang lain, alias mengajar. Nah, Zaid bin Tsabit adalah mahagurunya. Ahli faraid sejak muda sehingga dipuji oleh Rasulullah dengan kalimat “afradlukum Zaid…”. Beliau juga menjadi ketua tim pelaksana teknis penulisan al-Qur’an. Seorang poliglot yang dengan cerdas menguasai bahasa asing dalam waktu singkat: Persia, Romawi, Habasyah, Suryani, Ibrani, dan Qibti.
Ketiga, Mush’ab bin Umair. Sebelum beriman, gadis-gadis Makkah terpikat padanya lantaran keluarganya yang terpandang, kaya raya, dan ketampanannya. Ibunya memaksanya murtad, Mush’ab menolak, hijrah ke Habasyah, kembali ke Makkah, lantas ke Yatsrib. Rasulullah memilihnya sebagai delegasi perdana untuk mendakwahkan Islam dan mengajarkan Al-Qur’an, oleh sebab kebagusan akhlaknya, pribadinya yang empatik, dan tentu saja ilmunya. Tipikal dai ideal!
Mush’ab gugur dalam perang Uhud. Saat melihat kondisi jasadnya, Rasulullah bersedih. Kain yang ada tidak cukup membalut jenazahnya. Ketika selembar kain ditarik menutupi wajah Mush’ab, kakinya kelihatan. Ketika ditarik ke bawah menutupi kaki, wajahnya tampak. Akhirnya, beliau memerintahkan agar kaki Mush’ab ditutupi dengan rerumputan, sembari memuji pengorbanan Mush’ab dengan kalimat pilu:
“Ketika di Makkah dulu, tak seorang pun aku lihat yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya daripadanya. Tetapi sekarang ini, rambutnya kusut masai, hanya dibalut sehelai burdah.”
****
Wallahu A’lam Bishshawab
Rektor Institut Agama Islam Al Falah Assuniyyah Kencong Jember