Syafa Rosita Devi Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya

Memahami Konsep Isyraqy Al-Suhrawardi Al-Maqtul

2 min read

Al-Suhrawardi adalah seorang tokoh sufi yang dilahirkan sekitar tahun 549 Hijriah di sebuah desa Suhrawardi dekat kota Zanjan di Utara Persia. Nama lengkapnya adalah Syihabuddin Yahya bin Hafasy bin Amirek Suhrawardi yang di gelar dengan al-Maqtul (artinya yang dibunuh). Sejak kecil ia belajar agama dan menghafal al-Qur’an ketika berada di Maragah dan belajar kepada Imam Mahyuddin al-Jili.

Selain itu, Suhrawardi juga belajar beberapa cabang ilmu-ilmu Islam secara luas diantaranya, ilmu fiqh, tafsir, kalam, mantiq, tasawuf, filsafat India, filsafat Yunani dan filsafat Islam. Setelah dewasa ia mulai mengembara ke beberapa negeri di antaranya: Aleppo, Damaskus, Anatholia dan sebagainya dengan maksud memperluas ilmu dan wawasan keagamaannya. Dia melakukan dialog dan berdiskusi dalam masa pengembaraannya, serta banyak melakukan perenungan sufi, mujahadah dan riyadha disamping melakukan ibadah secara intensif demi ketenangan jiwanya.

Dalam ajaran tasawufnya, al-Suhrawardi pada prinsipnya terpengaruh dari beberapa sumber pemikiran dan berusaha menggabungkannya, sehingga melahirkan sebuah konsep yang disebut al-Isyraqiyah. Hal ini merupakan tipe tasawuf falsafi yang paling orisinil di antara konsep-konsep tasawuf yang beraliran sama. Kata “Isyraqy” berasal dari bahasa Arab yaitu bermakna “penyinaran”, sedangkan masyirik berarti “timur”. Maka kedua kata ini secara etimologi mengandung maksud “terbitnya matahari dengan sinar terang benderang”.

Sedangkan dari istilah “penyinaran” dalam term Isyraqy itu, berhubungan dengan simbol dari matahari yang selalu terbit di timur dan memberikan sinarnya ke seluruh alam. Seperti juga disebutkan dalam pandangan Plotinus, tampaklah olehku bahwa sang pencipta (al-Asiya) yang diciptakan (al-Mas’uq) dan cinta (isyq) adalah satu dan manusia merupakan suatu di alam kesatuan.

Baca Juga  Ikhtiar Dulu Tawakkal Kemudian

Tanah yang terang benderang yang tertimpa oleh sinar matahari itu adalah melambangkan makrifah yang diterima dari “Nur al-Anwar”. Di Barat, dimana matahari tenggelam dan selalu gelap adalah alam kebendaan, kejahilan dan penyimpangan. Sebaliknya di Timur, merupakan tempat terbitnya matahari yang dianggap sebagai sumber dari segala ilmu kebenaran yang menerangi akal budi manusia.

Ia membebaskan manusia dari dari kegelapan hingga mencapai tingkat ilmu yang benar dan lebih tinggi dan terang. Dari pengertian tersebut, dapat dipahami bahwa al-Suhrawardi menggunakan simbol sebagai suatu ungkapan yang bersifat analogis yang mengajak manusia untuk merenung dan berpikir, bahwa eksistensi Tuhan di alam jagad ini, merupakan hal yang mutlak yang bisa dirasakan dengan konsep kesucian jiwa dan kesucian batin.

Melalui kalimat simbolis, beliau mengatakan bahwa Allah Yang Maha Esa adalah “Nur al-Anwar” yang merupakan sumber segala yang ada dan seluruh kejadian. Dari “Nur al-Anwar” inilah memancar cahaya-cahaya yang menjadi sumber kejadian alam ruh dan alam materi. Hal ini senada dengan pandangan al-Farabi dengan teori emanasinya yang menjelaskan bahwa demi terpeliharanya keutuhan Dzat Tuhan, maka Tuhan bukanlah sebab langsung dari alam ini, melainkan akal pertama. Dengan kata lain, alam ini diciptakan tidak dimulai dari Tuhan, tetapi dari akal pertama yang melimpah dan yang mengandung dalam dirinya keberagaman potensi yang menjadi sebab pertama.

Sebagai akal berpikir tentang dirinya, sehingga terpancarlah akal-akal lain yang dimaksudkan adalah alam, malaikat dan manusia. Pandangan ini mencerminkan bahwa emanasi atau pancaran, merupakan suatu wujud yang sangat besar dari tingkatan yang terendah sampai ke tingkatan yang tertinggi. Sebagai kesimpulan bahwa, asal mula segala pancaran adalah Allah sebagai Dzat yang mutlak yang harus dipahami bahwa Dia-lah Pencipata segala sesuatu.

Baca Juga  Covid-19 dan Kebangkitan Obat-obat Tradisional Indonesia

Apa yang telah disebutkan di atas merupakan ilmu “al-Anwar” (ilmu cahaya-cahaya), maka cahaya itu dimaksudkan sebagai simbol pencipta atas segala sesuatu, yaitu Allah SWT. Berdasarkan analisa di atas maka martabat keberdaan (wujudiyah) seluruh makhluk adalah bergantung pada kedekatannya terhadap cahaya tertinggi. Dengan ini Suhrawardi mengemukakan tiga kualitas yang memancar dari “Nur al-Hakim”; pertama, Barskh al-Aqli atau alam akal budi, kedua, Barzakh al-Nafs atau alam rohania (alam jiwa), sedangkan yang ketiga, alam Barzakh al-Ajsam yaitu alam ragawi atau bentuk.

Alam akal budi mengandung potensi (al-Anwar) dan daya-daya lain, yaitu akal aktif dan roh suci. Hal ini senada dengan pemikiran Socrates sebagai tokoh filosof Yunani yang juga dikagumi oleh al-Suhrawardi. Menurutnya, “bahwa tujuan tertinggi dalam kehidupan manusia adalah membuat jiwanya merasa tenang dan bahagia dalam hal ini berdasarkan akal budi”. Manusia makhluk yang mampu memberikan penilaian terhadap dirinya, yang dianggap baik dan buruk. Apabila manusia belum bisa memberikan definisi kebaikan dan keburukan dalam dirinya, berarti dia belum mengenal dirinya dan Tuhan-Nya.

Alam rohani meliputi jiwa-jiwa yang suci, bintang-bintang di langit serta yang menguasai manusia, dalam hal ini “Nur al-Anwar” merupakan substansi nilai ketuhanan yang melekat pada setiap roh yang suci, seperti malaikat, para Nabi dan auliah yang dianggap sudah mampu berhubungan secara langsung dengan penciptanya (Allah). Alam ragawi meliputi benda elementer yang berada di bawah planet bulan bintang, benda-benda eter dan form atau substansi benda-benda langit.

Di samping itu, beliau juga mengungkapkan sebagai alam idea yang posisinya berada di antara akal murni atau rasio. Ini sama halnya dengan konsep pemikiran Plato dengan alam ideanya. “Bahwa Idea tidak diciptakan oleh pemikiran kita atau tergantung pada pemikiran, melainkan sebaliknya bahwa pemikiran bergantung pada idea karena idea berdiri sendiri”.

Baca Juga  Tokoh-Tokoh Father Parenting dalam al-Qur’an

Dengan konsep di atas, al-Suhrawardi memberikan kesimpulan bahwa dengan idea inilah memancar wujud-wujud materi yang beraneka ragam yang terlihat pada alam semesta ini. Alam ini merupakan bayang-bayang dari pancaran seluruh Nur al-Anwar, sehingga menurut paham Isyraqyyahnya bahwa alam ini terdiri dari dua aspek, yaitu aspek alam makna yang terdiri dari alam uluhiyat dan aspek akal budi.

Syafa Rosita Devi Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya