Saiful Umam Dekan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; S3 University of Hawaii at Manoa, Honolulu, Amerika Serikat

Obituari Bu Nyai Ismah: Sebuah Momen Singkat yang Tak Terlupakan

2 min read

Bu Nyai Nor Ismah—istri Kiai Ulin Nuha—adalah salah satu putri K.H. Abdullah Salam, ulama Kajen yang sangat berpengaruh dan dihormati tidak hanya oleh masyrakat sekitar tapi juga kalangan pesantren di Jawa.

Dengan Bu Nyai Ismah saya sebetulnya tidak kenal dekat dan tidak pernah berinteraksi karena beliau adalah angkatan di atas kakak perempuan saya. Apalagi sejak beliau menikah dengan Gus Ulin, beliau tinggal di Kudus. Tapi sebagai orang yang lahir dan tumbuh di Kajen, siapa yang tidak mengenal beliau.

Seingat saya, oleh orang Kajen beliau lebih kerap dipanggil Yu Is. Di Kajen, paling tidak waktu saya masih usia sekolah, panggilan penghormatan untuk permpuan keluarga Kiai adalah Yu. Saya sendiri lebih mengenal Yu Tatik, adik bungsi Bu Nyai Ismah, yang sekarang tinggal di Lebaksiu, Tegal, istri dari Kiai Ubaidillah, pengasuh Pesantren Tahfidh Darul Qur’an di Lebaksiu. Juga dengan Guz Zaki, kakak dari Yu Tatik, yang sekarang menggantikan posisi Kiai Abdullah Salam di Kajen. Dengan beliau berdua ini saya kenal baik karena memang satu generasi.

Jika dengan Bu Nyai Ismah saya tidak pernah berinteraksi langsung, dengan suaminya, Kiai Ulin saya pernah berinterakasi. Saya boleh mengaku sebagai salah satu dari ribuan murid beliau. Waktu itu, sekitar tahun 1979-1980, saya masih sekolah di kelas satu Tsanawiyah Madrasah Mathali’ul Falah, Kajen, Margoyoso Pati.

Gus Ulin—demikian orang Kajen lebih akrab memanggil beliau—waktu itu mengajar mata pelajaran Alquran. Sekali seminggu beliau datang dari Kudus ke Kajen, untuk mengajar ngaji kami semua yang ada di kelas satu. Ada empat kelas, kalau tidak salah waktu itu. Beliau masuk dari satu kelas ke kelas berikutnya dalam satu hari itu.

Baca Juga  Calvinisme ala Prof. Akh. Muzakki

Satu hal yang masih teringat dan membekas pada diri saya sampai sekarang adalah pelafalan huruf dhad (ض) yang terkenal sulit itu. Banyak dari kami, murid-muridnya, yang harus mengulang berkali-kali untuk bisa mengucapkan dengan benar huruf tersebut. Apalagi kalau huruf dhad ada di bagian akhir sebuah kata dan dalam keadaan waqaf.

Beliau adalah guru yang sangat sabar. Tidak pernah beliau marah terhadap kami-kami yang tidak kunjung fasih mengucapkannya. Sebaliknya, beliau selalu memberi tahu bagaimana mengucapkan dengan benar. Beliau tunjukkan dimana posisi lidah pada saat mengucapkan huruf dhad itu. Selama satu tahun itu, saya belajar banyak dari beliau tentang tajwid dan makhārij al-hurūf.

Semenjak saya kuliah di Ciputat, kemudian bekerja dan tinggal di Ciputat, seingat saya tidak pernah ketemu seara langsung beliau berdua lagi. Sampai pada tahun 2013, saat saya menjadi panitia pernikahan putri pertama almarhum Abu Sholeh dengan salah satu putra al-maghfūr lah K.H. Ma’mun Muzayyin, Kajen, yang juga keponakan dari Bu Nyai Ismah. Istri dari Kiai Ma’mun, Bu Nyai Hanifah, adalah kakak dari Bu Nyai Ismah.

Waktu itu saya dan beberapa kawan dari Keluarga Mathaliul Falah (KMF) yang ada di Jakarta diberi tugas untuk menunggu dan menemui rombongan keluarga besan di Wisma Syahida pada malam hari sebelum hari pernikahan.

Sebelum rombongan besan dari Kajen yang naik bus sampe di Wisma Syahida, Kiai Ulin dan Bu Nyai nyampe lebih dulu. Beliau berdua menaiki mobil dan tidak ikut rombongan dari Kajen. Kebetulan waktu saya sedang ada di depan, sehingga langsung menghampiri beliau. Setelah mencium tangan Kiai Ulin saya berniat membantu menurunkan barang-barang bawaan untuk dibawa ke kamar.

Baca Juga  Kiai Achmad Machsun dari Bojonegoro: Mendirikan Pesantren Rehabilitasi untuk Anak-anak Marginal

Sesaat setelah saya menyalami Kiai Ulin itu, Bu Nyai langsung menyapa saya. “Kowe adike Zakiyah to?” Tentu saja saya kaget disapa beliau. Spontan saya jawab, “Nggih, Bu.” Kemudian beliau membenarkan “Yo kowe ngundang aku, mbah,” sambil tersenyum. Saya pun dengan agak malu langsung membetulkan, “Nggih, mbah.”

Terus terang saya takjub dan kaget, meski ada rasa senang dan bangga pada saat itu. Bagaimana seorang Bu Nyai yang sangat dihormati, istri dari Kiai Ulin, menantu dari Kiai Arwani, putri dari Kiai Abdullah Salam, dan guru Alquran dari ribuan guru-guru Alquran di wilayah Jawa Tengah masih mengenali saya? Padahal saat itu adalah malam dengan lampu yang juga tidak terlalu terang.

Selain itu, sudah bertahun-tahun tidak bertemu dan perubahan fisik juga pasti terjadi pada diri saya. Bagaimana beliau masih mengenali saya? Sungguh suatu kehormatan dan kebanggaan yang saya rasakah waktu, bahwa beliau masih mengenal saya, meski mungkin tidak ingat nama.

Tapi menyebut nama kakak saya tanpa keraguan sedikitpun saat bertemu itu adalah suatu hal yang membuat saya tak akan pernah bisa melupakan momen itu. Tentu saja saya tidak berani bertanya, bagaimana beliau mengenali saya. Bahkan saya biarkan rasa penasaran tersebut sebagai sebuah kekaguman dan penghormatan saya terhadap beliau.

Ketika tadi malam tiba-tiba muncul berita di sejumlah whatsapp grup yang saya ikuti bahwa beliau kapundut, wafat, tak kuasa saya menahan air mata. Ingatan akan peristiwa sekitar tujuh tahun lalu kembali muncul. Untuk beberapa jam pun saya tak bisa tidur sambil sambil mengirimkan doa untuk beliau dan menunggu informasi kapan dan dimana beliau dimakamkan. Keinginan untuk sowan ke Kudus belum terlaksana, tapi beliau sudah tidak ada.

Baca Juga  Kontribusi Kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab

Sugeng kundur wonten ngarso Gusti Allah SWT, Bu Nyai Ismah.

Mugi-mugi kulo lan sedoyo murid-murid njenengan tansah diparingi kekuatan mengikuti dan meneladani sifat dan perilaku njenengan.

يا ايتها النفس المطمئنة ارجعى الى ربك راضية مر ضية فادخلى في عبادى وادخلى جنتى

Editor: MZ

Saiful Umam Dekan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; S3 University of Hawaii at Manoa, Honolulu, Amerika Serikat