Said Hoedaini Pemimpin Redaksi TV9 dan Penikmat Sastra

Alif dan Mim (3): Tentang Sebuah Jarak, antara Jogja dan Surabaya

2 min read

Alif mengangsurkan sebuah benda berbungkus kertas kado putih bergambar tulip. Mim ragu-ragu. Tidak terbiasa menerima pemberian tanpa alasan yang jelas.

“Buatku?”

“Iya buatmu.”

“Untuk?
“Hadiah wisuda.” Alif mengarang-ngarang urusan. Mim tahu itu. Wisudanya masih satu setengah bulan lagi. Tapi tak urung Mim meerimanya juga.

‘Terima kasih ya…”

Alif mengangguk. Lalu menambahinya dengan seulas senyum.

“Oo,.. Jadi itu yang bikin Kang Alif rela pagi-pagi datang ke stasiun? Oke..oke..” Ranti ngomel dan memanyun-manyunkan bibirnya.

“Jangan keras-keras. Malu dilihat orang.” Alif meletakkan telunjuknya ke bibir. Mim senyum-senyum melihat tingkah dua sepupu itu.

Buatku mana?” Ranti menadahkan tangan setinggi dada Alif.

“Tenang, sudah kusiapkan.” Alif membuka ransel hitam yang sedari tadi ada di punggungnya. “Buatmu. Empat bungkus bakpia patok aneka rasa.”

‘Kok enggak dibungkus kertas kado?”

“Sesuai kasta dan strata sosialnya, bakpia bungkusnya kresek. Bukan kertas kado.”

Ranti menggerutu. Alif dan Mim tertawa.

“Salam sama Pak Lik dan Bulik.” Alif menyalami Ranti. Lalu Mim. “Hati-hati di jalan.”

__________________

Sebuah binder note warna biru muda yang cantik muncul saat Mim membuka bungkus hadiah dari Alif. Pada halaman pertamanya ada beberapa deret kalimat yang ditulis tangan. Bagus. Bahkan terlampau bagus untuk ukuran tulisan tangan laki-laki.

“Engkau adalah apa yang kau rasakan dalam pikiranmu.

Kalau kau anggap dirimu bunga, maka engkau adalah taman bunga.

Kalau kau anggap dirimu semak berduri, maka engkau hanyalah bahan bakar perapian.

Alif, meminjam aforisma Jalaluddin Rumi.”

Mim meletakkan binder note biru muda itu ke meja dengan hati-hati. Itu segera masuk list benda kesayangannya yang paling baru sekarang. Selain Alquran kecil dan jam weker peninggalan ibuk, arloji Al Fajr oleh-oleh bapak dari Mekkah, dan sebuah miniatur Taj Mahal yang indah.

Baca Juga  Ziarah Makam Habib Noh: Menjaga Tradisi di tengah Modernitas Singapura

Sesiangan itu Mim bolak-balik duduk di dalam kamar sembari merenung. Ia memikirkan nama apa yang bagus buat binder barunya. Tidak. Mim tidak sedang mempraktikkan kebiasaan ala Nabi, memberi nama benda-benda kesayangan. Ia tidak memiliki kebiasaan seperti itu sebelumnya. Dorongan memberi nama binder note dari Alif itu muncul begitu saja. Mim juga heran kepada dirinya sendiri. Benda-benda kesayangan yang ia simpan tidak lebih dari usahanya mengawetkan ingatan. Kenangan baik dari orang-orang istimewa dalam hidupnya.

Belum ketemu nama. Sebaiknya ia bernama laki-laki karena pemberinya adalah seorang laki-laki, atau nama perempuan karena pemiliknya sekarang adalah seorang perempuan?

__________________

Kisah binder note biru muda itu berlanjut menjadi sapaan-sapaan ringan dalam masa dua atau tiga hari sekali lewat pesan pendek di handphone. Bertanya kabar, atau sekadar memberi info-info tidak penting tentang apa saja aktivitas hari itu. Lalu berkembang menjadi obrolan-obrolan yang makin kerap selepas Isya hingga berakhir nanti pukul sepuluh malam.

Alif sampai tahu jam berapa saja bapaknya Mim menelepon setiap hari. Ia harus menghindari jam-jam itu. Kecuali jika ia ingin keesokan harinya mendapat cerita bahwa Mim ditegur bapaknya karena susah ditelepon atau didesak menjawab pertanyaan itu telepon dari siapa kok lama sekali. Alif tak mau menyusahkan Mim dan hubungan mereka nanti di kemudian hari.

Pada waktu-waktu yang lain Alif mengirimi Mim buku-buku untuk dibaca. Sebagian besar novel-novel karya para penulis terkenal Indonesia. Di antaranya ada Ronggeng Dukuh Paruk, Max Havelaar, Panggil Aku Kartini Saja, Kambing dan Hujan, Cantik itu Luka serta Jatisaba.

Dalam setiap buku yang ia kirim kirim, Alif menyelipkan surat pendek yang ia tulis dengan tangan pada sebuah kertas kecil. Mim hampir hafal isi semua surat-surat itu. Tapi yang paling ia hafal dan selalu membuatnya tersenyum saat mengingat adalah sebuah surat pendek yang terselip dalam salah satu buku. Isinya begini:

Baca Juga  Perbedaan Pendapat Ulama tentang Konsep Nasikh Mansukh dalam Kajian Ilmu Alquran

Kalau ada yang bertanya kepadaku, apa kriteria calon istri ideal menurutku, maka akan kujawab: Syaratnya hanya satu. Perempuan itu harus pintar. Cantik tidak apa-apa.

“Lha kalau jelek?”

“Ya jangan. Masak suaminya ngguuaanteng, istrinya jelek.” Alif terkekeh menjawab pertanyaan Mim dalam satu kesempatan mereka bicara di telepon. Mim kesal. Tapi akhirnya ikut tertawa.

Kalian pernah mendengar kisah tentang anak-anak muda lagi kasmaran? Begitulah Alif dan Mim. Apa-apa milik berdua. Dalam segala urusan saling khawatir dan mengingatkan. Setiap waktu tak pernah luput bertukar kabar. Alif di Jogja dan Mim di Surabaya. Tapi setiap hari mereka seperti dua orang yang bertemu. Kata orang Jawa mereka seperti Mimi dan Mintuno.

__________________

“Doakan urusan kuliahku di Jogja lancar. Aku akan datang ke wisudamu.” Mim hampir melompat karena saking girangnya mendengar kabar itu.

“Kamu berani ketemu Bapakku?” tanya Mim.

“Lho, kenapa.. bapakmu galak? Seingatku dulu, dia tidak galak, Enggak tahu kalau sekarang sudah berubah jadi macan?” Alif

“Ih kamu.”

“Tapi kalaupun bapakmu galak, aku siap.”

“Siap apa?”

“Siap lari sekencang-kencangnya.” Alif tertawa ngakak. Mim diam.

“Aku serius. Kalau tidak berani sebaiknya mundur dari sekarang.”

“Oh tidak, tidak… Sampai mati pun akan kuperjuangkan.” Alif masih cengengesan.

Klik. Mim menyudahi telepon.

__________________

Soal bapaknya, Mim tidak pernah mau bergurau. Lelaki itu langit berlindung sekaligus bumi berpijak bagi jiwa raganya. Bapak adalah teman satu-satunya bagi Mim setelah ibunya meninggal saat ia masih kelas empat SD. Tidak ada orang yang membela Mim seperti bapak. Tidak ada orang yang rela bekerja keras siang malam demi Mim, selain bapak. Mim tak punya orang lain. Mim anak bapak.

Baca Juga  [Cerbung] Bukan Cinta Cleopatra – Bagian Ketujuh

Tiba-tiba telepon genggam Mim berdering. Nama itu muncul di layar. Bapak.

Inggih, Pak.”

“Inggih… inggih… Insyallah secepatnya Mim pulang.”

“Waalaikum salam.” Bersambung… (AA)

Said Hoedaini Pemimpin Redaksi TV9 dan Penikmat Sastra

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *