M. Rizki Sahrul Ramadhan Alumni Ma'had Aly Tebuireng dan Mahasiswa Pascasarjana UIN Malang

Tasawuf Itu Tidak Bidah dan Bukan Penyebab Kejumudan

2 min read

Tasawuf seringkali dituduh sebagai bidah dan penyebab kejumudan umat Islam. Tuduhan semacam ini dapat kita temukan misalnya dalam pendapat-pendapat kalangan Islam modernis (al-Tajdidiyyah). Sekilas, tuduhan itu terlihat benar. Namun jika kita mencermati konsep tasawuf di kalangan ulama Sunni atau Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), akan kita temukan sebuah konsep yang menepis dua tuduhan itu.

Pertama, terkait bidah. Bidah (menyesatkan) yang dilabelkan pada tasawuf dilatarbelakangi oleh kecenderungan kaum sufi yang eksentrik. Konsep ittihad, fana, atau manunggaling yang berisi ajaran untuk menyatu dengan Tuhan hingga terlontar menjadi kata-kata “ana al-Haqq” adalah bentuk dari sifat eksentrik ini. Bersama dengan itu, sufi yang mengalami proses ini kemudian diyakini terbebas dari jeratan aturan syariat yang legal-formal. Pada poin “lepas dari syariat” inilah tasawuf kemudian mendapat label bidah.

Menyikapi hal ini, tasawuf mazhab Aswaja memberikan koridor bahwa bertasawuf tidak boleh mengabaikan syariat. Pendapat seperti ini dapat kita temukan misalnya dalam konsep tasawuf Imam Junaid al-Baghdadi yang menyatakan bahwa tahap fana atau tahap mabuk karena menyatu dengan Tuhan bukanlah akhir dari perjalanan spiritual seorang sufi.

Setelah fana, seorang sufi dituntut untuk bisa kembali mengemban peran kemanusiaan. Pengalamannya ketika bersatu dengan Tuhan bisa dilatih agar tidak menjebak. Sejalan dengannya, pengalaman itu adalah prestasi penyucian jiwa yang akan menghasilkan kualitas manusia terbaik. Manusia terbaik memiliki tugas untuk mengarahkan manusia yang lain.

Ajaran Imam Junaid al-Baghdadi merupakan tampikan tuduhan bahwa tasawuf menjauhkan manusia dari tugas kemanusiaannya. Di antara tugas itu adalah menjalankan syariat Allah. Melalui konsep itu, tasawuf dalam mazhab Aswaja bukanlah bidah.

Dalam konteks Indonesia, ajaran semacam ini dapat kita temui dalam karya KH. M. Hasyim Asy’ari. Ketika terdapat kiai yang mengaku dirinya wali namun tidak mau menjalankan aturan syariat, Kiai Hasyim langsung membantahnya dan mengatakan “Tidak ada seorang pun kekasih Tuhan yang mengabaikan aturan-Nya. Alih-alih wali, ia adalah zindiq” (olahan penulis, bukan kutipan langsung). Spirit untuk bertasawuf tanpa mengabaikan tetap dipertahankan dalam mazhab Aswaja di Indonesia.

Baca Juga  Tadarus Litapdimas (13): Robot Penentu Arah Kiblat

Kedua, terkait penyebab kejumudan. Sebagaimana disinggung dalam pemikiran Imam Junaid al-Baghdadi, para sufi seringkali terjebak pada kemabukan terhadap Tuhan. Kondisi itu otomatis membuatnya lupa atas peran kemanusiaannya. Jangankan melakukan upaya-upaya untuk memperbaiki kehidupan umat, merawat diri sendiri pun ia tidak mampu. Lagi-lagi, fase inilah yang kemudian membuat tasawuf mendapat label minor, kali ini berupa tuduhan penyebab kejumudan dan kemunduran umat Islam.

Selain itu, kecenderungan tasawuf yang terlembaga dalam tarekat memang melulu berorientasi pada akhirat dan tidak membahas hal ihwal kehidupan sosial kemasyarakatan. Kecenderungan menyendiri, fokus bermunajat, serta berorientasi pada hubungan vertikal hamba-Tuhan seringkali membuat pelaku tasawuf abai terhadap problematika kemanusiaan.

Mengambil jalan tengah antara batin dan rasio adalah solusi dari tuduhan ini yang terdapat dalam cara bertasawuf mazhab Aswaja. Jika ditarik ke belakang, ragam mazhab tasawuf bisa dikelompokkan menjadi dua kutub ekstrim. Pertama adalah falsafi-rasional dan kedua adalah bathiniyyah. Pada kelompok pertama, hubungan antara makhluk dengan Tuhan dikonstruksi selogis mungkin. Sebaliknya, kelompok kedua justru menghendaki hubungan yang murni-intim melalui pengalaman-pengalaman subjektif yang tidak perlu dilogikakan.

Sebagaimana karakteristik umum Aswaja, tawassuth (mengambil jalan tengah) antara dua kutub pemikiran keagamaan adalah pilihan yang diambil. Dengan prinsip ini, bertasawuf tidak melulu mengandalkan rasio dan mengabaikan batin atau sebaliknya, mengandalkan batin dan mengabaikan rasio. Memadukan keduanya adalah jalan mazhab Aswaja. Ketika dihubungkan dengan tuduhan bahwa tasawuf adalah penyebab kejumudan dengan alasan melulu mengunggulkan batin, maka tasawuf mazhab Aswaja akan menampiknya dengan prinsip jalan tengah antara batin dan rasio.

Melalui uraian di atas, tasawuf mazhab Aswaja secara logis-teoritis telah berhasil menepis tuduhan bahwa tasawuf adalah bidah dan penyebab kejumudan umat Islam.

Baca Juga  H. Agus Salim: Pergulatan Demokrasi, Dinamika Islam, dan Islam-Politik
M. Rizki Sahrul Ramadhan
M. Rizki Sahrul Ramadhan Alumni Ma'had Aly Tebuireng dan Mahasiswa Pascasarjana UIN Malang