

Ada pagi yang terasa begitu berat dan malam dengan pikiran yang terus berputar yang terus mengulang kekhawatiran. Ada senyum lebar yang dipajang di layar ponsel, kontras dengan riyuhnya isi kepala. Terkesan berlebihan, tetapi menjadi realitas yang dialami oleh generasi yang menurut William Straus dan Neil Howe lahir pada tahun 1997-2012 atau sering kita kenal sebagai Gen-Z.
Sebagai generasi yang tumbuh di era digital dengan kemudahan dan keterbukaan informasi, generasi Z (Gen Z) muncul sebagai generasi terdepan dalam inovasi digital dan transformasi budaya. Mereka lahir ke dunia dimana smartphone, media sosial, dan hiburan online berada dalam satu genggaman.
Menurut survei yang dilakukan oleh We Are Social pada tahun 2024, pengguna media sosial di Indonesia mencapai lebih dari 167 juta jiwa, dengan sebagian besar berada pada rentang usia remaja hingga dewasa muda. Platform media sosial seperti Instagram dan TikTok menjadi wadah yang memiliki peluang besar untuk individu dalam mencari koneksi sosial.
Di balik beragam manfaat yang ditawarkan oleh media sosial, tersimpan dampak negatif yang kerap luput dari perhatian. Penggunaan secara berlebihan dapat memicu munculnya rasa gelisah. Kondisi ini mendorong seseorang untuk terus memantau aktivitas orang lain, seolah takut tertinggal dari berbagai peristiwa tebaru yang sedang berlangsung.
Dalam jangka panjang, kondisi seperti ini berpotensi berkembang menjadi perilaku adiktif, dimana individu merasa terdorong untuk selalu terhubung dan mengikuti apa pun yang terjadi di dunia maya. Fenomena inilah yang dikenal sebagai Fear of Missing Out atau FoMO.
FoMO sapiens, istilah yang digunakan oleh McGinnis dalam bukunya berjudul Fear Of Missing Out: Practical Decision Making in a World of Overwhelming Choice, digunakan untuk menggambarkan kecemasan yang muncul saat seseorang merasa tertinggal dari peluang, pengalaman, atau momen penting yang dialami orang lain.
Berbeda dengan lembar hasil nilai ujian yang dapat disimpan rapat-rapat di dalam laci meja, kesehatan mental penting untuk diperhatikan, karena dapat mempengaruhi cara berpikir, merasa, dan bertindak dalam diri seseorang.
Fenomena FoMO pada Gen-Z tidak hanya berkaitan dengan intensitas penggunaan media sosial, namun juga krisis orientasi kesadaran diri. Individu tidak lagi sekadar mengakses media sosial sebagai sarana informasi atau hiburan, tetapi terlibat dalam arus perbandingan sosial yang berlangsung tanpa henti ketika mengakses media sosial.
Kehidupan orang lain yang ditampilkan secara selektif di ruang digital kerap dijadikan tolok ukur keberhasilan, kebahagiaan, bahkan harga diri. Dalam kondisi ini, individu lebih sibuk mengamati dan menilai kehidupan orang lain, sementara relasi dengan dirinya sendiri justru semakin terabaikan.
Hal seperti inilah yang membuat seseorang tidak tenang dan tentram secara batin, tidak bisa menikmati kehidupan sehari hari, dan tidak mampu menghargai orang lain atau disebut dengan kondisi mental yang tidak sehat.
Fenomena ini menunjukkan bahwa, persoalan FoMO pada Gen-Z tidak dapat diselesaikan hanya dengan himbauan untuk membatasi penggunaan media sosial. Akar persoalannya terletak pada cara seseorang memaknai diri dan keberadaannya di tengah arus penilaian sosial yang terus bergerak.
Dalam konteks inilah, kajian tasawuf menawarkan konsep muraqabah sebagai jalan yang mengajak individu untuk kembali hadir pada dirinya sendiri, sekaligus menata ulang orientasi hidupnya di tengah dominasi media sosial.
Muraqabah dipahami sebagai kesadaran seorang hamba untuk melihat Allah SWT. dalam setiap perilaku sehari-hari. Kesadaran ini melahirkan sikap awas dan terjaga, seolah-olah diri selalu berada dalam pengawasan-Nya, sehingga perilaku, pikiran, dan pilihan hidup diarahkan agar selaras dengan nilai-nilai kebaikan.
Dalam tradisi tasawuf, muraqabah dipandang sebagai fondasi bagi segala kebajikan yang dapat menumbuhkan kehati-hatian batin, kemampuan memperbaiki diri, serta kehadiran utuh dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Ketika kesadaran ini terpelihara, individu menyadari bahwa Allah Maha Dekat selalu mengawasi hambaNya. Kesadaran tersebut menjaga hati agar tidak mudah lalai, sekaligus menumbuhkan ketenangan di tengah berbagai godaan dan distraksi.
Menurut Imam Al-Qusyairi dalam karyanya Risalah al-Qusyairiyah, muraqabah merupakan sikap sadar yang menempatkan perhatian seseorang pada apa yang sedang ia alami, pikirkan, dan lakukan, dengan kesadaran bahwa dirinya tidak berjalan sendiri dalam hidup.
Berbeda dengan FoMO yang menjadikan kehidupan orang lain sebagai tolok ukur sebuah kepuasan, muraqabah justru berjalan berlawanan. Ia mengajak seseorang untuk menyadari batas, serta menimbang apa yang benar-benar dibutuhkan; bukan sekedar apa yang sedang ramai diperbincangkan.
Dengan kesadaran ini, dorongan untuk selalu mengikuti arus dan takut tertingal momen berharga yang dialami orang lain dapat berkurang secara perlahan. Sehingga seseorang mampu berada dalam kondisi batin yang tentram, mampu menikmati kehidupan sehari-hari, dan menghargai orang lain di sekitarnya.
Santri PP Taswirul Afkar, Klaten dan Mahasiswa UIN Raden Mas Said Surakarta